
Bab. 30
"Bangs4t lo emang!" sentak Hiro seolah tidak terima
"Lo tau sendiri, dia nggak ngenalin lo sama sekali, Ryu! Di mata dia, lo itu orang asing yang baru dia lihat beberapa hari yang lalu. Gila aja lo main nyosor kayak gitu. Mana di depan orang banyak. Ya jelas malu dan marah dia, Ryu. Asal lo tau, Mama dan Papa lo selama ini jaga dia matian-matian agar tetep murni. Eh, lo pulang malah main nodain aja. Brengs3k emang lo!"
Hiro tidak tahu lagi jalan pikiran sepupunya. Apa mungkin Ryu lama tinggal di negara barat, sehingga membuat pria itu memiliki kebiasaan orang sana. Di mana akan menganggap biasa hal seperti itu. Namun tidak bagi Ara. Hiro kenal betul Ara seperti apa.
"Gue tau salah, tapi dia halal buat gue, Ro. Jadi nggak termasuk p3ncabulan, kan? Lagian di usia dia juga udah banyak yang pacaran bahkan sampai nyicil duluan. Jadi gue tadi mikirnya ya dia udah pernah ciuman pas tiba-tiba aja meluk gue kayak gitu. Tapi kayaknya tadi yang pertama buat dia. Masih kaku banget. Tapi manis, sih," terang Ryu seraya tersenyum tipis di saat mengingat kejadian di rumah komik.
Sikap Ryu yang seperti itu benar-benar membuat Hiro kesal setengah jengkel. Langsung saja pria itu mengambil cream milik Ryu yang ada di dekatnya lalu melempar tepat ke arah sepupu laknatnya tersebut.
__ADS_1
"Nggak usah diperjelas juga kali. Sampai ke rasa segala macam!" semprot Hiro.
Ryu terkekeh ketika teringat jika Hiro merupakan pria jomblo yang mengenaskan.
"Sorry, gue lupa kalau lo nggak punya partner buat diajakin anu," ucap Ryu yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Hiro.
"Bodo amat!" sahut Hiro dengan wajah kesalnya. "Tapi lo beneran mau pulang sekarang? Yakin? Gue tebak Ara malah kabur kalau tau lo suaminya. Apa lagi lo pasti udah ditandai sebagai pria mesum, kan?" tebak Hiro.
Hiro memutar bola matanya. Jengah sekali mendengar pertanyaan Ryu.
"Dia besar di samping kita. Jelas gue tahu kelakuan istri lo. Apa.lagi mulutnya itu nggak akan disaring kalau udah kesal sama orang. Bahkan melupakan sopan santun yang diajarkan oleh mama lo. Ya kan?" tebak Hiro yang memang melihat tumbuh kembang Ara selama ini.
__ADS_1
Ryu mengangguk. Membenarkan tebakan Hiro barusan mengenai ucapan Ara.
"Tapi gue pulang sebagai Ryuga, kakaknya. Bukan sebagai suaminya. Bisa-bisa minta cerai langsung ntar," ungkap Ryu yang seolah takut kalau saja Ara meminta cerai darinya.
Hiro memicingkan matanya. "Ciee ... udah lope lope nih ceritanya ...." bisa Hiro kemudian. "Hari ini maksa nyium, lalu besok maksa apa lagi, Ryu? Bikinin ponakan buat gue? Hmm?" lanjutnya lagi seraya memainkan alisnya.
Ryu langsung melempar bantal ke arah Hiro. Di mana pria itu berhasil menangkapnya.
"Eh, tapi lo beneran mau balik sekarang?" tanya Hiro. Wajahnya berubah serius, membuat Ryu mengangkat alisnya dengan tatapan mata memicing ke arah Hiro.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Bukannya apa, tapi masalahnya lo punya rasa bersalah sama dia, sampai lo milih ke Tante, kan? Terus sekarang gimana? Udah bisa berdamai dengan ketakutan lo itu?" tanya Hiro. Ia ingat betul jika Ryu pernah datang ke psikiater tanpa sepengetahuan tante dan orang tua mereka. Karena rasa bersalah Ryu serta rasa takut yang teramat sangat.