
Bab. 78
Ryu tahu jika istrinya ini heran dengan apa yang ia lakukan. Namun, ia tidak bisa terburu-buru untuk saat ini. Lebih baik ikuti saja alur mainnya. Hingga nanti ia menemukan sebuah celah dan langsung main baku pok pok.
Ara dengan cepat menggelengkan kepalanya. Lalu segera menutup mata nya begitu rapat. Terlihat begitu lucu sekali di mata Ryu.
Pria itu tersenyum, untuk kemudian bersiap memejamkan matanya juga. Meredakan sedikit barang yang sudah tegak dan begitu keras di bagian kepalanya.
'Sabar, Jun. Jangan main sat set. Kalem, tapi pasti.' batin Ryu.
"Kak," panggil Ara tiba-tiba. Membuat Ryu mengurungkan niatnya yang ingin memejamkan mata.
"Ada apa, Yaang?" tanya Ryu cepat.
Ara memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya hingga sampai di atas dada, lalu menoleh ke arah Ryu.
"Nggak bisa tidur kalau lampunya mati kayak gini," cicit Ara.
Ryu menghela napas geram. Kesabarannya benar-benar diuji. Kalau sampai ia nyalakan, sudah jelas niat terselubungnya nanti akan mudah diketahui.
"Mau dinyalakan saja?" tawar Ryu. Jelas sangat berbeda dengan keinginannya.
Ara mengangguk dengan tatapan yang menggemaskan. Ryu tahu jika gadis itu takut kepadanya. Namun ia tidak bisa melepasnya malam ini. Hanya ingin memberi Ara waktu sebentar agar gadis itu merasa rileks.
__ADS_1
Ryu tidak bangkit. Pria itu meraih remot yang ada di atas nakas sampingnya, lalu menekan salah satu tombol yang ada di sana.
Klik!
Lampu pun menjadi terang. Membuat Ryu memercingkan matanya. Karena sedikit silau. Cepat-cepat tangannya menutup mata Ara.
"Cepat tidur, atau aku lanjut yang tadi," ujar pria itu yang suka sekali mengancam Ara jika istri kecilnya tidak menurut.
Ara memilih menurut. Dari pada dirinya dibuka malam ini. Tidak tidak! Itu jelas tidak boleh terjadi. Apa lagi yang Ara tahu, jika sehabis melakukan anu untuk pertama kalinya pasti besoknya sakit dan tidak bisa jalan. Jelas Ara tidak mau mengalami hal seperti itu. Karena lusa ia harus mengikuti ujian. Sehingga harus menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Tidak boleh kenapa napa barang lecet sedikit saja. Lebih lagi di bagian yang anu itu.
Ara mencoba untuk memejamkan matanya. Meskipun rasa waspada itu masih terasa begitu kental. Namun sebisa mungkin ia tidak menyinggung Ryu.
Ryu pun juga sama. Meski memejamkan mata, akan tetapi pria itu tidak benar-benar bisa terlelap. Lebih lagi Ara yang sedari tadi bergerak tidak menentu.
Ara membuka matanya secara perlahan. Lalu menoleh ke arah suaminya dengan wajah yang memelas.
"Nggak bisa tidur," Ucap Ara.
Terbiasa tidur sendiri selama ini, membuat Ara merasa kurang nyaman jika ada orang lain di sampingnya. Di tambah lagi tangan Ryu yang melingkar ke tubuhnya, semakin membuat Ara risih. Namun, gadis itu tidak berani mengatakannya kepada Ryu. Takut kalau malah akan dileceti.
Ryu menarik sudut bibirnya ke atas. Kesempatan memang tidak pernah datang hanya sekali saja jika memang memiliki niatan baik. Karena sesuatu yang baik itu harus di segerakan. Pikir Ryu.
"Pingin cepat tidur?" tanya Ryu menatap penuh arti.
__ADS_1
Pria itu menyangga kepalanya dengan siku yang ia tumpukan di kasur.
Mendengar hal itu, Ara pun merubah posisinya menghadap ke arah Ryu. Di mana ia langsung disuguhi oleh dada bidang suaminya. Membuat Ara gelagapan sendiri. Mengalihkan tatapannya hingga memilih menatap wajah Ryu walau harus sedikit mendongak.
"Hmm," balas Ara dengan kerjapan mata.
Entah, ini memang mata Ryu yang sudah keterlaluan parahnya atau memang seperti itu kenyataannya. Melihat bibir Ara yang terbuka sedikit dengan tatapan yang sangat menggemaskan seperti ini, berhasil membangkitkan lagi ingin Ryu yang sempat reda sebentar.
"Yakin?" tanya Ryu yang langsung mendapat anggukan dari Ara. "Tapi nggak boleh teriak, ya?" ujarnya lagi.
Lagi dan lagi Ara terkena jebakan oleh Ryu. Dengan gerakan cepat, Ryu menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka. Dan pria itu langsung berpindah di aras tubuh Ara. Lebih lagi handuk yang tadi menutupi Ryu pun juga sengaja pria itu lempar ke lantai.
"Huwaaaa ... kenapa ada Blonceng (labu air) di situ, Kak!" teriak Ara ketika melihat si Jun milik Ryu yang sangat mengerikan di matanya. Sampai-sampai Ara menutup matanya dengan kedua tangan.
"Ini milikmu, Yaang."
Ryu semakin diberi ruang oleh gadis yang akan ia jadikan wanitanya seutuhnya malam ini. Di tambah lagi tadi ia sudah membuang penghalang di bagian paling privasi milik Ara.
Tanpa membuang waktu dan pemanasan lagi, Ryu menarik paksa baju yang dikenakan oleh Ara lalu melemparnya secara asal. Hingga terseponalah eh, terpesonalah Ryu dengan pemandangan yang begitu indah di hadapannya sekarang. Sangking indahnya, jakun Ryu naik turun dengan cepat.
"Cantik," lirih Ryu. Salivanya hampir menetes ketika mengucapkan kata itu.
"Jangan, Kak!" ucap Ara memohon di kala Ryu mulai menindihnya.
__ADS_1
"Cuma nempelin doang, Yaang. Nggak anu, kok!" bohong Ryu.