Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Diinterogasi Papa Rio


__ADS_3

Bab. 36


"Udahlah, Ma. Itu semua udah masa lalu, dan Ara juga tidak membenci Mami. Ara masih ingat, Mami seperti itu karena ingin menghidupi Ara. Hanya saja orang itu yang jahat sama Mami," ujar Ara menyahuti ucapan mama Yuan.


Jika saja dirinya memiliki kuasa, mungkin sudah Ara cari orang yang selalu menyiksa maminya di masa lalu. Tentu saja membalaskan rasa sakit yang mereka alami dulunya. Mengingat hari demi hari yang diperjuangkan oleh maminya, membuat rasa benci pada orang itu semakin menyeruak dalam diri Ara.


Usapan lembut di punggungnya membuat Ara tersadar. Lalu ia melihat senyuman tulus yang diberikan mamanya saat ini, membuat Ara menekan rasa bencinya. Karena di hadapannya sekarang ada orang yang harus dia bahagiakan. Karena orang inilah yang merupakan penyelamat nya serta memberi tempat peristirahatan paling layak untuk mendiang mami nya.


Terbawa oleh suasana perasaannya sendiri, Ara berhambur ke dalam pelukan mama Yuan. Memeluknya begitu erat, serta berusaha untuk tidak menangis. Karena yang ada jika make up yang sangat jarang sekali ia pakai dan mahal tentunya, kalau luntur dengan sia-sia sebelum tamu spesial orang tuanya tesebut datang. Dirinyalah yang akan rugi nantinya. Karena make up dengan merk ternama tersebut belinya penuh penuh dengan perjuangan. Sampai-sampai Ara harus rela tidak belanja komik beberapa bulan.


"Udah, jangan nangis Sayang. Nanti luntur loh maskaranya," goda mama Yuan seraya terkekeh pelan.

__ADS_1


Ara menekuk bibirnya. "Ini mahal, Ma. Nggak akan luntur kalau buat nangis. Palingan cuma ada garis ke bawah, gitu aja," sahut Ara yang menambah tawa mama Yuan semakin kencang.


Memang, putrinya ini sangat suka sekali bercanda, terkadang juga tidak mengarah.


Kemudian mama Yuan mengajak Ara untuk ke dapur. Membantu dirinya menyiapkan makan malam untuk tamu yang sekarang ini sudah ada di ruang kerja suaminya.


Sementara itu di ruangan bernuansa gelap, tampak dua orang pria berbeda generasi tengah mengobrol serius di sana. Bahkan mereka saling mengabaikan suara ketukan dari pintu ruangan tersebut.


"Gimana perusahaan yang ada di sana? Lancar?" tanya papa Rio kepada seorang pria muda yang duduk di sofa depannya.


"Seperti biasa. Om Jinan bisa menghandle semuanya," jawab pria yang tak lain ialah Ryu.

__ADS_1


"Tugasmu?" cecar papa Rio yang seolah masih belum puas dengan jawaban putranya.


Ryu menghembuskan napasnya pelan. Lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang tengah dia duduki saat ini.


"Lancar juga, Pa. Kalau nggak lancar, nggak mungkin Ryu tinggal dan balik ke sini, kan?" balas Ryu sedikit malas. Kenapa juga papanya ini malah seolah tengah menginterogasi dirinya. Padahal ia ingin cepat-cepat istirahat di kamar yang sudah lama ia tinggalkan.


"Papa kira kamu pulang karena Ara," celetuk papa Rio dengan wajah santainya. Sangat berbeda dengan Ryu yang cenderung datar, seperti dirinya dulu.


Ryu mengangguk, membenarkan ucapan papanya. Karena telinganya sudah lelah mendengar laporan demi laporan dari sepupunya mengenai Ara, tanpa mengirimkan foto terbaru gadis itu hingga pada akhirnya mereka bertemu di mobil Hiro.


"Bisa dibilang termasuk juga."

__ADS_1


Sudah papa Rio duga. Putranya ini pasti sangat penasaran dengan gadis yang tinggal bersama dirinya sedari kecil. Karena papa Rio sangat memahami bagaimana Ryu sebenarnya. Sebab mereka memiliki sifat yang hampir sama.


"Tahan sampai dia lulus dulu, Ryu. Dia masih sangat muda," ingat papa Rio yang langsung mendapat decakan serta picingan mata dari putranya sendiri.


__ADS_2