
Bab. 72
"Aww ... sakit, Yaang! Sadis bener sih!" Ryu berusaha menghindar, tetapi Ara tidak melepaskan pria yang sudah membuatnya malu tersebut dengan begitu mudah.
Ya. Gadis itu mencubiti lengan Ryu tanpa ampun. Melampiaskan rasa kesalnya kepada suaminya sendiri.
"Bodo amat! Sekarang jelasin! Jangan mengelak lagi!" perintah Ara dengan mata melotot geram ke arah Ryu.
Membuat Ryu lagi lagi cukup terkejut dengan sikap judes yang dimiliki oleh Ara. Lebih lagi gadis ini sangat suka sekali main tangan.
"Padahal belum malam pertama. Tapi udah biru-biru semua," gumam Ryu seraya mengusap lengan nya yang mendapat jejak kebiruan akibat cubitan dari Ara.
Plak!
Ara memukul lengan Ryu dengan sepontan.
"Cerita atau aku pergi sekarang?" ancam Ara yang sudah habis rasa sabarnya. Apa lagi Ryu yang selalu menghubungkan ke masalah anu. Di mana Ara belum memikirkannya sedikit pun. Selain harus menurut sama suami. Sudah, itu saja.
"Iya iya. Astaga ... nggak sabaran sama sekali sih kamu, Yaang," cegah Ryu menarik tangan Ara agar tidak meninggalkan tempat mereka saat ini.
Ara terdiam. Menatap, menunggu Ryu untuk memulai ceritanya. Dengan gerakan mata, Ara menyuruh Ryu untuk cepat-cepat bercerita.
"Sebenarnya aku punya teman perempuan di Kanada. Aku kenal sama dia wak—"
"Pacar Kak Ryu?" tebak Ara memotong cerita Ryu. "Hmm ... pantesan nggak pernah kasih kabar. Orang di sana sudah ada mainan baru. Oke, lanjut," sindir Ara dengan begitu santai nya.
Ryu menghela napas pasrah. Percuma saja jika ia cerita dari awal.
"Bukan pacar. Lebih tepatnya dia teman wanita satu-satunya yang dekat denganku. Tapi beneran aku nggak ada rasa sama dia, Yaang," tegas Ryu memberitahukan mengenai perasaannya pada Gista.
Ara mengangguk meskipun tidak percaya sama sekali. Di antara laki-laki dan perempuan, tidak ada pertemanan yang benar-benar begitu tulus. Pasti salah satu di antara mereka memendam rasa dan tidak berani mengungkapkan demi menjaga pertemanan di antara mereka.
__ADS_1
"Iya, sama aku juga masih abu-abu kok. Percaya deh, percaya!" sahut Ara.
Gadis itu menyesap coffe latte yang dia pesan tadi. Sikapnya yang begitu santai, membuat Ryu merasa heran. Kenapa sama sekali tidak sama dengan ucapan yang terlontar dari mulutnya.
Ryu menarik tangan Ara, menggenggamnya dengan begitu lembut. "Kalau aku nggak ada rasa sama kamu, lalu untuk apa aku memilih pulang ke sini, Yaang. Ak—"
"Karena Kak Ryu penasaran sama aku. Benar, kan?" sahut Ara cepat. Membuat Ryu lagi lagi tidak bisa berkata atau sekedar membela diri. Karena memang ia sangat penasaran dengan Ara yang sudah tumbuh dewasa. Ingin tahu seperti apa adik angkat yang berubah menjadi istrinya itu.
Karena tidak bisa mengelak, Ryu pun menganggukkan kepalanya. Membuat Ara melirik sinis.
"Sejauh mana hubungan Kak Ryu sama dia?" tanya Ara.
Bohong jika Ara tidak penasaran mengenai wanita yang bernama Gista itu.
"Nggak ada yang jauh-jauh. Cuma temen deket biasa," jawab Ryu jujur.
"Makan bareng?" Ryu mengangguk membenarkan. "Gandengan tangan?" tanya Ara lagi. Kali ini Ryu menggelengkan kepala.
"Dih, sok bilang enggak enggak. Terus dari tadi yang megangin aku sama nyium nyium terus siapa? Om om mesum?" sangsi Ara.
Ryu terkekeh. "Beda, Yaang. Kalau sama kamu kan udah ada label nya. Jadi mau aku pegang, cium, atau sekalian dilecetin juga nggak apa-apa. Sekarang a?" ujar Ryu seraya memainkan alisnya. Membuat Ara berdecak kesal.
"Kalau pelukan?" tanya Ara lagi. Seolah belum puas dengan pertanyaan yang ia layangkan mengenai hubungan Ryu dan Gista.
"Oh, ya, Yaang. Habis ini kita nonton aja ya? Kan mumpung kamu masih libur, jadi kita rileksin otaknya dulu," ujar Ryu mengalihkan pembicaraan du antara mereka.
Takutnya nanti yang ada malah menjadi masalah. Bukan, lebih tepatnya akan dibuat masalah. Apa lagi hal itu sudah terlewat. Lagi pula, siapa yang tahu kalau jodohnya adalah adik angkatnya sendiri.
Ara menyipitkan mata lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Ryu. Menatapnya tanpa kata, hingga membuat Ryu gelagapan sendiri. Ara malah tersenyum manis.
"Biasanya kalau Papa bohong ke Mama, sikapnya kayak gini, Kak. Suka belokin omongan," ucap Ara menatap lekat mata Ryu. Lalu menegapkan kembali duduknya.
__ADS_1
Deg!
Lagi lagi Ryu kena skak duluan oleh gadis kecil yang memiliki tatapan begitu jeli.
Tidak ada jalan untuk mengelak lagi, Ryu menghembuskan napas berat. Lalu menganggukkan kepala.
"Ya, pernah," ucap Ryu yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ara. Cepat-cepat Ryu meluruskan. "Cuman sekali doang, Yaang. Itu pun pas dia wisuda dulu. Sumpah! Aku nggak ada apa-apa sama dia. Aku cuma anggap dia sebagai temen aku. Meskipun dia—"
"Anggap kamu miliknya?" serobot Ara lagi. "Cewek tuh nggak akan pernah nganggap orang sebagai miliknya kalau nggak pemiliknya langsung yang memberi tempat, Kak."
Ara tampak begitu santai saat mengatakan itu. Tidak ada emosi sedikit pun. Membuat Ryu malah semakin was-was.
"Ya, Kak Hiro?" tanya Ara setelah menempelkan ponselnya di telinga.
Ryu langsung melebarkan mata. Untuk apa sepupunya itu menghubungi Ara malam-malam seperti ini.
"Kakak bisa datang ke cafe Biru, nggak? Sekalian bawa Kak Tristan juga. Iya. Ada yang nyaranin aku buat hepi hepi dulu, Kak. Sebelum ujian nanti. Makanya aku mau nyanyi malam ini. Bisa, Kak? Sekalian ajak Tante Sila juga nggak apa," ujar Ara. "Oke, aku tungguin di sini, ya!"
Dan ketika Ara selesai mematikan sambungan telepon di antara dirinya dan Hiro, Ryu langsung menarik tangan Ara. Meminta ponsel gadis itu yang ternyata dikunci.
"Kenapa?" tanya Ara menarik kembali tangannya beserta ponselnya.
"Kamu ngapain mau nyanyi segala macam, Yaang? Kita di sini cuma nongkrong doang, kan? Kalau memang bosen, mending kita nonton aja. Gimana?" protes Ryu agak keberatan jika Ara bernyanyi di sini.
Lebih lagi kondisi cafe lumayan ramai oleh anak muda. Mungkin karena hari ini malam minggu. Sehingga banyak di antara mereka memilih nongkrong di cafe. Entah itu dengan teman atau pasangan mereka.
"Loh, bukanya Kak Ryu ada kerjaan bentar ya di sini?" ingat Ara. "Ya udah, Kak Ryu kerja. Aku juga kerja. Lumayan kan kalau banyak yang nyawer. Bisa buat beli seblak nanti, Kak. Biar nggak cuma dadanya aja yang panas. Sekalian perutnya juga," imbuh Ara.
Kemudian gadis itu mengambil sebuah ikat rambut lalu mengumpulkan rambutnya di satu titik bagian atas, dan melingkarkannya di sana hingga membentuk sebuah cepolan di atas. Di mana semakin membuat leher jenjang Ara terekspos. Lebih lagi belahan baju di bagian dada yang membentuk huruf V pun semakin terlihat dan semakin menarik untuk dinikmati. Karena baju yang dipakai Ara juga lumayan ketat.
"Enggak gitu juga konsepnya, Yaang!" geram Ryu merapatkan rahangnya. Mana mungkin ia rela jika Ara menjadi pusat perhatian. Terlebih lagi dengan penampilan yang begitu menggoda, meskipun tertutup.
__ADS_1