Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Dia Orangnya?


__ADS_3

Bab. 88


Di sepanjang jalan menuju ke Cafe, Ara terus menekuk mukanya. Tanpa berniat untuk mengajak bicara pria yang duduk di sebelahnya. Ia benar-benar dibuat lelah dan juga kesal oleh pria itu. Karena pria di sampingnya itu akan mengijinkan dirinya kalau ia mau berada di atas dan membuat pria itu puas.


Bukan hanya menghapus riasan di wajahnya, pria mesumnya itu juga berhasil membuat tubuh Ara remuk rasanya. Karena dipaksa terus bergerak hingga energinya terasa tak tersisa.


"Kamu kenapa Yaang? Kok keliatannya lemes banget?" tanya Ryu sembari melirik sekilas ke arah Ara dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Kenapa kenapa kenapa! Semua ini ya salah kamu, Kak! Orang aku janjiannya jam tujuh, ini malah datang jam delapan. Telat banget udahan Kak. Mereka pada nelponin aku dari tadi!" protes Ara sambil memukul lengan Ryu.


"Eh, Yaang Yaang! Udah, Yaang! Aku sambil nyetir loh ini. Bahaya kalau kamu nyentuh-nyentuh aku kayak gini. Ntar kalau aku pingin anuin di mobil gimana? Kamu juga mau coba, Yaang? Hmm?" tanya Ryu yang sangat melenceng sekali konteks pembicaraan mereka.


"Jika orang normal pada umumnya itu kalau dipukul itu mengaduh sakit, Kak. Atau kalau nggak bilang jangan kayak gitu, bahaya, ntar nabrak. Lah, kamu malah bilang kayak gini. Emang agak lain suamiku ini." cibir Ara melengoskan wajahnya ke arah jendela dan lebih memilih untuk menatap bangunan-bangunan yang ada di luar sana. Dari pada harus menanggapi suami mesumnya ini. Di mana pemikirannya selalu di luar eskpetasi orang normal pada umumnya.


Ryu terkekeh mendengar perkataan Ara. Ia memang sengaja seperti ini, agar sosoknya begitu melekat pada wanita yang ada di sampingnya sekarang. Ryu ingin kalau Ara selalu mengingat dirinya dan selalu memikirkan dirinya. Hanya Ryuga seorang.


"Ya kan aku beda sama cowok pada umumnya, Yaang. Suamimu ini nggak ada duanya. Makanya, rawat dan jaga dengan baik. Apa lagi kalau dikasih terus setiap harinya. Beuh ... makin lengket deh, Yaang. Dijamin itu. Kagak bohong!" ujar Ryu yang semakin menjadi.


Ara memilih untuk diam saja. Karena jika ia respon, pasti suami mesumnya ini akan semakin menjadi.


Hingga mobil yang dikemudikan oleh Ryu sampai di cafe Biru, Ara masih terus mendapat telepon dari teman-teman nya yang tidak Ara angkat. Karena pasti mereka bakalan mengomel, memarahi dirinya.


"Hati-hati, Yaang," ingat Ryu ketika Ara sedikit kehilangan keseimbangan ketika wanita itu baru saja keluar dari mobil.


Ara melirik malas. Karena masih begitu mendendam pada Ryu, wanita itu pun menarik tangan Ryu lalu ia gigit lengan itu dengan begitu gemas. Hingga membuat Ryu memekik tertahan dan membuka mulutnya tanpa suara. Menahan rasa sakit dari gigitan Ara.


"Argh! Sakit, Yaang!" desis Ryu sembari mengusap lengannya yang di gigit oleh Ara.


Sedangkan sang pelaku justru tampak membenarkan rambutnya lalu dengan sikap tanpa merasa bersalah sedikit pun, wanita itu melingkarkan tangannya ke lengan Ryu.


"Mari Pak CEO, silahkan bayar tagihan yang menantimu di dalam," ucap Ara dengan senyuman serta kedipan sebelah mata ke arah Ryu. Lalu mengajak suaminya itu masuk ke dalam cafe tanpa menghiraukan tangan Ryu yang masih terasa sakit.

__ADS_1


"Untung istri sendiri. Kalau bukan, udah aku lempar ke laut," gumam Ryu lirih yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya serta tatapan sinis dari sang istri.


"Berani buang aku? Hmm?" Ara menyipitkan matanya.


Ryu menggeleng serta meringis. "Enggak, Yaang. Enggak berani," ujarnya sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam hatinya. Nyali pria itu langsung menciut ketika mendapat lirikan tajam dari Ara.


'Sabar Ryu ... sabar. Mending diem dan nurut aja kalau pingin si Jun terus hidup tentram.' batin Ryu mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


Sementara itu di dalam cafe yang memang sudah di booking oleh Ara untuk acara malam ini, tampak begitu ramai dan suasananya terdengar begitu riuh.


"Belum di angkat sama dia?" tanya salah satu teman kelas Ara pada Citra.


Citra yang sedari tadi bertugas untuk menghubungi Ara pun menghembuskan napas lelah.


"Masih perjalanan ke sini katanya," jawab Citra asal.


Padahal yang sebenarnya terjadi ia tidak tahu Ara sekarang ini ada di mana. Citra menjawabnya secara asal karena cukup frustasi sendiri. Orang yang mengadakan acara justru tidak segera terlihat.


"Wih, gila! Udah jam berapa ini lo baru datang, Ra!" sambar salah satu teman sekelas mereka.


"Lah, iya. Telat banget woi! Mana datang-datang langsung bawa CEO-nya langsung!" timpal yang lain.


Suara riuh pun semakin mengisi suasana di cafe Biru malam ini. Mereka saling menggoda Ara yang membawa pasangan ke sana.


"Pantes saja di sekolah nggak mau dideketin cowok. Orang udah punya yang bening plus mateng begitu," celetuk Bagus.


Ara terkekeh mendengarnya. "Untung aja lo bukan termasuk barisan mereka ya, Bag!" sahut Ara.


"Lo tuh bisa nggak sih manggilnya gue itu Bagus sekalian, atau kalau nggak Gus gitu. Jangan Bag. Berasa gue ini tas, Ra," protes Bagus yang tidak terima jika dipanggil dengan sebutan yang kurang nyaman di dengar. Membuat semua yang ada di sana pun langsung meledek Bagus.


Kemudian Ara mengajak Ryu yang bersikap datar dan dingin, bahkan pria itu tidak tersenyum sama sekali meskipun di sapa oleh teman-teman Ara.

__ADS_1


"Sini dulu, Kak. Aku mau pesen," ujar Ara. Namun, tangannya dicekal oleh Ryu.


"Pesen apa? Biar aku aja yang pesenin," sahut Ryu yang langsung berdiri lagi. Lalu memesan sesuatu yang ia tahu kesukaan istrinya tersebut.


Melihat sikap Ryu yang begitu manis kepada Ara, membuat Citra dan temannya yang lain pun langsung mendekat ke arah Ara.


"Siapa dia?"


"Pacar lo?"


"Gebetan?"


"Atau saudara lo itu?"


"Udah punya pacar belum, Ra?"


"Mau daftar mau daftar!"


Berbagai pertanyaan pun mereka layangkan kepada Ara. Menunggu penjelasan wanita itu sebelum pria itu kembali ke sini.


Sedangkan yang ditanya hanya mengangkat bahu dan menjawabnya begitu santai.


"Kalian pikir?" tanya Ara balik dengan senyuman yang begitu menyebalkan.


Citra terus mengamati gerak gerik Ara, lalu berpindah ke sosok pria yang datang bersama Ara. Kemudian berpindah lagi menatap ke arah Ara. Hingga Citra menemukan sesuatu yang membuatnya sangat yakin.


Citra menggeser tempatnya mendekat ke arah Ara, lalu berbisik kepada sahabatnya itu di kala teman-temannya yang lain mulai menjauh karena Ara tidak menjawab rasa penasaran yang menghantui mereka.


"Dia orangnya?"


Pertanyaan Citra memang sangat singkat jelas dan padat, tetapi mampu membuat Ara mematung beberapa detik hingga wanita itu melihat senyuman penuh arti dari Citra. Ara hanya bisa meringis tanpa berani menjelaskan secara perinci.

__ADS_1


__ADS_2