Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Menyelesaikan Kesalahpahaman


__ADS_3

Bab. 95


Sesampainya di kamar, Ara langsung meminta turun. Akan tetapi Ryu tidak serta menurunkannya begitu saja. Pria itu membawa Ara ke sisi ranjang dan memangku istrinya tersebut. Menatap wanita yang saat ini memilih membuang muka ke samping. Tidak mau melihat ke arahnya.


"Tanya aja apa yang membuatmu tidak senang, Yaang. Jangan buat aku panas dingin karena harus nahan agar nggak makan kamu langsung tadi," ujar Ryu. Menatap sajah Ara serta menangkup wajah itu dan menghadapkan ke arahnya.


Menyibakkan beberapa anakan rambut ke belakang telinga. Hingga wajah cantik istrinya terlihat lebih jelas.


Sedangkan Ara sendiri mngunci mulutnya. Meskipun Ryu mencoba untuk menjelaskan, akan tetapi Ara terlnkur cemburu.


"Yaang ... bicara dong. Jangan diemin aku kayak gini," pinta Ryu membujuk Ara.


Karena tidak mendapat balasan sedikit pun Ryu membalikkan posisi mereka dan merebahkan Ara di atas ranjang lalu segera menindih istrinya itu ketika Ara mencoba untuk kabur. Menekan tangan dan menguncinya.


"Oke, kalau kamu nggak mau bicara sama aku, biarkan dia yang membuatmu mengeluarkan suara, Yaang," ujar Ryu sambil menaikkan alis serta tersenyum miring. Membuat Ara membukatkan mata.

__ADS_1


"Iya, iya! Aku bicara loh ini udahan, Kak!" pekik Ara yang terus memberontak.


Sedangkan Ryu sudah lebih dulu menarik kaos yang Ara kenakan. Tanpa memberi waktu pada sang istri untuk menolak sentuhan dari nya. Mencumbu dan terus memberi sentuhan pada setiap apa yang ada di depannya saat ini. Sampai-sampai membuat Ara tidak bisa berword-word lagi. Pasrah dan menikmati apa yang sedang suaminya lakukan atas dirinya. Karena percuma saja jika dirinya memberontak, toh, pria pemaksa yang ada di atas tubuhnya ini tetap akan melakukan itu.


"Akh!" pekik Ara begitu keras. Karena Ryu dengan sengaja mendorong dirinya.


"Gimana? Masih mau diemin aku? Hmm?" tanya Ryu sambil terus mendorong Ara begitu keras setelah beberapa saat terdiam.


Rasanya semakin gila saja. Ara tidak bisa lagi menahan lebih lama.


Ryu mengatur napasnya. Pria itu berhenti bergerak dengan Jun yang masih menyatu.


"Sudah kubilang berapa kali, aku nggak suka didiemin, Yaang. Kalau ada yang nggak di suka, bilang. Jangan malah diem. Kan aku jadi pingin bicara sama yang ini," ujar Ryu yang langsung menyentak gerakannya.


Beberapa kali Ara memukul lengan Ryu yang semakin membuat pria itu bersemangat. Hingga penyatuan itu berlangsung sampai Ara berkata menyerah.

__ADS_1


Setelah sesi terakhir selesai dan tubuhnya terasa lelah, Ryu merebahkan di samping Ara. Wanita itu langsung memunggungi dirinya.


"Sana, keluar! Masih ditungguin tuh sama cewek bulemu!" usir Ara sambil mengatur napasnya yang terengah.


Suaminya ini mengerikan juga kalau sedang marah. Eh, tunggu. Seharunya di sini dirinyalah yang marah. Ini kenapa malah dia yang digitukan? Argh! Ara merutuki dirinya yang selalu saja terbuai oleh sentuhan Ryu.


Ryu menarik selimut dan menutupi tubuh mereka yang penuh peluh. Lalu pria itu mendekatkan wajahnya ke bahu Ara.


"Kenapa? Cemburu? Hmm?" goda Ryu mengabaikan ucapan Ara.


Ara menggerakkan bahunya agar Ryu menyingkir dari sana. Akan tetapi pria itu justru sambil memeluk dirinya saat ini.


"Dia Gista, teman kuliahku di sana. Kami nggak ada hubungan apapun. Aku juga nggak ada perasaan sama sekali sama dia. Namun dia punya," jelas Ryu jujur.


Ara terdiam. Tidak menyela ataupun langsung mengamuk. Hidup di luar negeri dengan kebebasan tanpa batas, Ara bisa mengerti itu dan memang harus bisa mengerti. Meskipun ada rasa geram ia rasa,

__ADS_1


"Yaang ... aku udah jujur sama kamu. Hadap sini, dong," pinta Ryu dengan nada lembut.


__ADS_2