
Bab. 54
Beruntung Ara mendapat perawatan yang begitu tepat dan cepat. Sehingga rasa sakit yang sebelumnya mendera gadis itu hingga membuatnya tidak bisa bertahan, kininterasa lebih mereda. Bahkan gadis itu saat ini terlelap karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya papa Rio dengan raut khawatirnya. Sedangkan Ryu sudah lebih dulu menghampiri Ara yang kini terlelap di atas ranjang pasien di kamar VIP.
"Jangan biarkan pasien makan makanan yang pedas, jika memang perutnya belum terisi apa-apa, Pak. Karena pasien juga mempunyai riwayat sakit lambung," ucap dokter memperingati papa Rio.
Papa Rio mengangguk mengerti. Lebih lagi tadi pagi memang Ara tidak ikut sarapan. Meskipun hanya sekedar makan roti dan minum susu. Seperti yang biasa Ara lakukan selama ini.
__ADS_1
"Baik, Dok. Akan saya perhatikan. Terimakasih," balas papa Rio kemudian di saat dokter mohon pamit.
Sementara itu Hiro segera pamit kembali ke sekolah, karena memang dia masih ada jam ngajar siang nanti. Sehingga tidak bisa berlama-lama menunggu Ara di sini. Toh, sudah ada suaminya. Pikir Hiro.
"Gue pulang dulu. Ingat, jaga baik-baik. Kalau nggak mau, gue tetep mau menampung dia," ucap Hiro sebelum benar-benar beranjak dari sana sembari menepuk bahu Ryu.
Sementara Ryu hanya memberi anggukan samar untuk respon dari perkataan Hiro barusan. Lalu pria itu mengalihkan tatapannya ke arah Ara yang terbaring lemah di sana. Ryu tidak menyangka, jika kekhilafan yang terulang dan sangat membuatnya ketagihan tersebut berujung membawa Ara hingga ke sini.
"Haruskah Ryu memandang Ara sebagai seorang wanita?" gumam Ryu. Namun masih bisa didengar begitu jelas oleh papanya.
__ADS_1
"Dia sudah milikmu. Lebih baik kamu jaga dia dengan benar, Ryu. Papa dan Mama sendiri yang membesarkan dia. Kami tau apa yang terbaik untukmu. Ara tidak seperti gadis yang sering kamu temui di luar sana. Meski menolak pernikahan kalian, tetapi dia tidak pernah memberontak dan menentang keputusan kami. Tapi kembali lagi pada kalian yang menjalani pernikahan ini. Terserah kamu mau lanjut atau tidak. Kalaupun tidak, jangan nodai dia lagi walau sekedar menciumnya," ujar papa Rio.
Lalu pria paruh baya itu mendekat ke arah putranya. "Pikirkan baik-baik. Kalau kamu tidak suka, ceraikan dia sebelum dia tau semuanya. Anggap semua nggak pernah terjadi. Karena Papa juga berat jika Ara pergi dari rumah kita. Juga Papa akan mencarikan dia jodoh yang benar-benar bisa mencintai gadis malang ini," ujar papa Rio lagi sembari mengusap kepala Ara dan mengecek suhu tubuh gadis itu melalui kening.
Ryu terdiam. Apa yang dikatakan oleh papanya memang benar. Sekarang ada yang halal dia apa-apain. Kenapa dirinya masih ragu. Lebih lagi Ryu merasakan sendiri, jika dirinyalah pria pertama yang menyentuh Ara. Terlihat dari reaksi dan pengakuan dari Ara sendiri.
Setelah terdiam sedikit lama, akhirnya Ryu menemukan jawabannya.
Dengan tarikan napas dalam-dalam, lalu menghembuskan secara kasar. Ryu pun menoleh ke arah papanya bersamaan dengan sang mama masuk ke dalam. Beruntung wanita paruh baya itu tidak langsung heboh.
__ADS_1
"Ryu akan mempertahankan pernikahan Ryu dan Ara. Tapi Ryu minta, Papa dan Mama jangan terlalu ikut campur. Biarkan Ryu yang memberitahu nya sendiri dengan cara Ryu. Bisa kan?" tanya Ryu pada papa dan mamanya.