Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Rencana Tersembunyi


__ADS_3

Bab. 92


"Bisa beritahu nama Nona siapa?" tanya bi Tijah yang ternyata lumayan juga dalam menggunakan bahasa asing tersebut.


"Nama saya Gista. Saya teman Ryu waktu di Kanada," jawab seorang wanita yang memang begitu cantik khas orang bule.


Bi Tijah mengangguk. Kemudian menyuruh tamu nya itu untuk duduk di teras seraya menunggu majikannya keluar. Hingga tidak berapa lama, mama Yuan dan papa Rio yang lebih dulu keluar rumah. Tentu Gista langsung berdiri dan menyapa mereka.


"Siang Om, Tante," sapa Gista dengan bahasa indonesia yang sangat fasih.


Bi Tijah yang belum menjauh dari sana terkejut.


"Lah, ternyata bisa bahasa indonesia toh!" pekik wanita yang berusia hampir lima puluh ljma tahun tersebut.


Gista meringis, tersenyum begitu manis kepada orang yang berbicara dengan dirinya tadi.


"Bisa, Bu," ujar Gista.


Pak Sul yang juga mendengarnya secara langsung pun menggelengkan kepala.


"Tau gitu tadi aku aja yang ngobrol sama dia, Mbak Yu. Kan kapan lagi ngobrol sama bule," celetuk pak Sul dengan wajah menyesal nya.

__ADS_1


Plak!


"Jangan macem-macem kamu, Pak Sul! Ingat anak di rumah. Udah minta setoran tuh!" tegur bi Tijah.


Sedangkan mama Yuan menatap Gista begitu dalam. Seolah wanita itu tengah menelisik wanita muda yang ada di hadapannya saat ini.


"Siap juga," balas papa Rio karena istrinya tidak kunjung menjawab sapaan dari Gista.


Tidak disangka, wanita bule itu mendekat ke arah papa Rio dan mengulurkan tangan berniat untuk salim. Namun, mama Yuan mencegahnya karena tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh wanita bule ini.


"Eh eh! Apa apaan ini! Mau ngapain?" cegah mama Yuan yang langsung menarik tangan suaminya dan berdiri di depan suaminya. Menghalangi Gista yang akan mendekat ke arah suaminya. Tentu saja dengan tatapan melotot.


Papa Rio berusaha menahan tawanya agar tidak keluar ketika melihat istrinya ini cemburu dengan gadis yang berusia sama seperti Ryu.


Sementara itu, di dalam rumah. Ara langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucap kata terlebih dulu. Membuat Ryu mengejar sang istri di banding langsung menemui tamu yang sedang mencari dirinya.


"Yaang ...." Ryu mencoba mendekat, akan tetapi langsung dicegah oleh Ara.


"Diem di sana! Aku nggak mau deket-deket sama Kak Ryu!" sentak Ara yang memang sudah terlanjur emosi. Di tambah lagi mendengar jika ada tamu yang ingin bertemu dengan suaminya.


Ara merebahkan tubuhnya dan memunggungi Ryu. Sama sekali tidak berniat untuk bertanya atau memperjelas siapa tamu suaminya itu.

__ADS_1


Diamnya Ara seperti inilah yang membuat Ryu menghela napas panjang. Karena ia lupa untuk mempelajari cara membaca pikiran orang saat kuliah dulu. Sehingga pria itu tidak bisa serta merta menebaknya dengan mudah apa sebenarnya yang diinginkan oleh sang istri. Mendekat, salah. Kalau ia tinggal ke depan menemui siapa tamunya, nanti juga malah lebih parah. Benar-benar seperti berada di atas seutas tali yang bawahnya terdapat kolam buaya, posisi Ryu saat ini.


"Sayang ... temenin aku ke depan, yuk!" ajak Ryu sembari menowel kaki Ara.


"Nggak mau!" tolak Ara yang masih kekeuh.


"Sebentar saja lho, Yaang. Biar kamu tau, siapa tamunya. Dari pada nanti kamu cemburu nggak jelas," desak Ryu lagi. Karena memang ia sudah lelah didiamkan oleh Ara setengah hari ini.


"Enggak."


"Yakin?" sangsi Ryu.


"He'em."


Ryu mendesah. Lalu pria itu memilih untuk keluar kamar setelah mengecup kening Ara dan pamit menemui tamunya.


Sepeninggal Ryu dan pintu sudah tertutup, Ara langsung bangkit.


"Ck! Liat aja, apa yang bakalan aku lakuin, Kak."


Sudah dibilang, wanita ini tidak akan tinggal diam dan cuek-cuek saja di saat ada cewek yang mencari suaminya sampai datang ke rumah. Sudah jelas ada sesuatu. Kalaupun ada pekerjaan, pasti akan menghubungi Ryu terlebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2