
Bab. 24
Ara memukul dada pria yang saat ini begitu dekat dengannya. Bukan-bukan, lebih tepatnya bahkan terlalu menempel. Pun dengan bibir mereka.
Ya. Ara dicium paksa oleh pria yang tidak ia tahu namanya siapa. Sampai-sampai membuat gadis itu kesusahan mengambil napas. Sebab ini kali pertamanya bagi Ara. Ia belum pernah praktek mengenai pengambilan napas saat menyelam. Hanya mempelajari dasarannya saja.
Namun ini bukan tentang menyelam. Melainkan hal yang mirip tipis-tipis. Yang membedakan ialah tempat dan posisi saja.
"Haaahh ....!"
Sekuat mungkin Ara mendorong tubuh Ryu hingga pria itu melangkah mundur dan ada jarak di antara mereka.
Ara menatap tajam dan penuh benci ke arah Ryu. Karena perasaannya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ara mengambil komik yang ada di belakangnya lalu melempar ke arah Ryu satu per satu dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Dasar, Om mesum! Om brengsek! Om nggak tau diri! Om tua-tua keladi! Om bangs4t!"
Dan segala sumpah serapah serta kata-kata mutiara yang selama ini Ara pendam pun akhirnya keluar dengan sangat lancar. Bahkan napas gadis itu terlihat begitu jelas tidak beraturan sama sekali.
Setelah puas melempar komik ke arah Ryu, Ara berjalan keluar begitu saja. Menyempatkan diri mengangguk samar serta meminta maaf pada kasir, lalu gadis itu benar-benar pergi dari sana. Matanya terasa panas. Seolah ingin mengeluarkan cairan dari sana. Sebisa mungkin Ara menahannya. Baru kali ini ia merasa benar-benar direndahkan oleh seorang pria.
Rasa amarah yang masih meluap, membuat Ara melempar jaketnya ke sembarang arah dan langsung mengendarai motor. Meninggalkan rumah komik yang sebelumnya menjadi tempat favorit gadis itu sebelum pulang ke rumah. Namun, kini berubah menjadi tempat yang penuh akan kenangan buruk hari ini.
Sementara itu Ryu mematung di tempatnya. Pria itu seolah baru menyadari jika apa yang ia lakukan itu salah. Ia benar-benar merasa seperti seorang pecundang yang beraninya melakukan hal tersebut. Padahal niatnya hanya ingin meladeni permainan gadis itu. Namun, karena ada sesuatu yang berbeda dan gerakan gadis itu terlalu kaku sehingga membuatnya penasaran dan tetap melanjutkan hingga kelepasan. Dari sini lah Ryu paham jika Ara tidak mahir dan seperti tidak punya pengalaman mengenai pertukaran napas tadi.
"Apa yang anda lakukan kepada sahabat saya? Perbuatan anda tadi termasuk melanggar hukum. Memaksa anak sekolah dan menciumnya di depan umum seperti ini. Asal anda tau saja, gadis tadi itu masih sangat polos. Tidak pernah berhubungan bahkan dekat dengan pria sedikit pun, kecuali dengan keluarganya. Dasar, orang nggak waras!" ujar Citra yang tidak terima jika sahabatnya diperlakukan seperti tadi.
Setelah mengatakan itu, Citra pergi keluar. Mengejar Ara, namun sudah terlambat. Karena gadis itu sudah tidak ada di sana. Hanya jaketnya saja yang Citra temukan.
__ADS_1
Melihat itu, tentu saja Citra sangat panik. Karena selama ini Ara tidak pernah melepas jaket jika sedang berkendara dengan motor. Entah itu mengendarai sendiri atau dibonceng.
"Kamu ke mana sih, Ra?" resah Citra ketika panggilan teleponnya tidak di jawab sama sekali. Lalu gadis itu mencoba untuk melakukan panggilan ulang. Namun tetap saja tidak mendapat jawaban.
Sedangkan Ryu yang merasa bersalah segera keluar dari rumah komik dan menghampiri Citra, setelah melakukan pembayaran atas komik yang dilempar oleh Ara tadi.
"Di mana dia?" tanya Ryu yang juga rampak panik di saat tidak mendapati Ara di luar. Terlebih lagi jaket yang tadi dipakai oleh Ara, kini berada di tangan Citra.
"Masa saya tau, Om! Ini semua kan karena ulah Om!" ketus Citra yang juga ikut kesal dengan sikap pria setengah matang di hadapannya itu.
Tidak mau menambah masalah semakin runyam, Ryu memutuskan untuk mencari gadis yang ia buat menangis tadi.
"Halo, Pak Angga?" sapa Ryu di saat baru saja mendapat panggilan dari seseorang yang sangat ia kenal. Karena orang itu sudah bekerja puluhan tahun pada papanya. Orang yang dipercaya papa Rio untuk menjaga Ara.
__ADS_1
"Hah?" kaget Ryu di kala mendengar ucapan pak Angga barusan. "Iya, tunggu saya ke sana sekarang juga, Pak!"