Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Bab. 52


Sesuai dengan kekhawatiran Citra dan Satria. Belum juga mereka sampai di kelas, Ara sudah mengeluhkan perutnya yang sakit. Ketika mereka akan membawa Ara ke ruang UKS, untuk mendapatkan penanganan sementara. Akan tetapi gadis itu menolak dan tetap memilih untuk masuk ke kelas. Mengikuti pelajaran seperti biasa.


Seiring bertambahnya menit, ternyata Ara tidak bisa menahan rasa sakit luar biasa pada bagian perutnya. Citra yang sedari tadi khawatir mengenai keadaan Ara pun langsung meminta ijin kepada guru yang mengajar saat ini untuk membawa Ara ke ruang UKS. Kebetulan juga yang mengajar hari ini merupakan Hiro.


"Pak!" seru Citra sambil mengangkat tangannya ke atas. Membuat Hiro menghentikan penjelasannya dan menoleh ke arah murid yang memanggil dirinya.


"Ya?" sahut Hiro menatap ke arah Citra. Sementara Ara menunduk dengan tangan yang memeluk perutnya sendiri. Tentu saja pemandangan itu membuat Hiro penasaran.


"Boleh ijin ke ruang UKS sebentar, Pak?" tanya Citra. "Teman saya sakit perut. Nggak bisa ditahan kayaknya, Pak," jelas Citra. Membuat seisi kelas menoleh ke belakang. Di mana Ara dan Citra duduk di sana.


Karena melihat kondisi Ara yang sepertinya tidak memungkinkan, Hiro pun memutuskan untuk menghampiri Ara. Melihat keadaan murid sekaligus sepupunya itu.


"Kamu kenapa? Salah makan?" tanya Hiro. Melihat ada keringat yang muncul di dahi Ara, semakin membuat Hiro khawatir.

__ADS_1


Ara tidak bisa menjawab pertanyaan dari Hiro. Rasa sakit di bagian perut sungguh luar biasa ia rasakan. Gelengan kepala lah yang hanya bisa Ara berikan sebagai respon jawabannya.


"Dia tadi makan pedas, Pak. Tapi belum makan nasi sama sekali atau roti," ucap Citra membantu menjawab pertanyaan dari Hiro. Karena Ara semakin merintih kesakitan.


Mendengar hal tersebut Hiro pun menyerahkan buku yang dia pegang kepada ketua kelas.


"Kamu yang lanjutin. Bisa? Nanti saya kasih bonus," ujar Hiro yang di angguki oleh ketua kelas. Di mana ketua kelas nya itu ialah Citra sendiri.


"Tapi Ara gimana, Pak?" Tanya Citra yang tidak tega meninggalkan Ara sendiri dengan guru baru mereka. Meskipun Citra tahu hubungan mereka berdua itu apa.


Citra mengangguk. Membenarkan tebakan dari Hiro. "Ya udah, serahkan dia ke saya."


Hiro pun kemudian mengangkat tubuh Ara dan membawanya ke ruang UKS. Meninggalkan kelas yang terdengar gaduh setelah ia tinggal.


Sementara itu di lorong, Hiro bertemu dengan pak Lukman. Di mana pria itu merupakan wakil kepala sekolah.

__ADS_1


"Loh, ada apa dengan Ara, Pak Hiro?" tanya pak Lukman.


Hiro yang sedikit keberatan menggendong Ara dalam jarak lumayan jauh pun sedikit ngos ngosan. Akan tetapi pria itu tidak berani meminta bantuan kepada orang lain.


"Maghnya mungkin kambuh, Pak. Habis makan pedas kata temennya," jawab Hiro.


Pak Lukman juga tampak bingung. Ingin membantu pun juga tidak mungkin. Takut terkena mulut netijum yang budiman.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" akhirnya pak Lukman hanya menawarkan sebuah bantuan tanpa berani mengambil alih Ara dari pria yang pak Lukman tahu masih ada hubungan keluarga dengan Ara.


Hiro mengangguk. "Iya, Pak. Tolong hubungi Tuan Muda Pertama, Pak. Bapak tau maksud saya, kan?" punya Hiro.


Meskipun wajah pak Lukman tampak bingung, namun pria paruh baya itu pun melakukan apa yang diminta oleh Hiro.


"Bilang saya di Rumah Sakit CitraHusada," pesan Hiro lagi yang kemudian menuju ke mobilnya. Alih-alih membawa Ara ke ruang UKS, Hiro langsung membawa Ara ke rumah sakit. Biar mendapat penanganan yang lebih tepat.

__ADS_1


__ADS_2