
Suasana sangat mencekam, ketika malam sudah tiba. Di satu sisi, wanita cantik berambut hitam pekat dengan panjang sebahu itu, merasa sangat cemas dan takut.
Namun di sisi lain, ia merasa akan aman ketika ia berhasil bertemu dengan lelaki pujaan hatinya.
Kegelisahan semakin terasa di hatinya. Ia terus-menerus melirik ke arah jam yang berada di tangan kirinya, karena ia sudah menunggu di tempat itu dengan waktu yang cukup lama.
Tak terasa, sudah 2 jam berlalu. Namun, lelaki yang ia tunggu itu tak kunjung datang. Ia merasa ada sesuatu yang salah, karena selama menjalani kehidupan bersamanya, ia sama sekali tidak pernah dibuat menunggu selama ini oleh lelaki itu.
Alea, wanita cantik berambut hitam pekat itu terus menggosok bahunya karena merasa sangat khawatir dan gelisah dengan keadaan.
“Mas Arga mana, ya? Gak biasanya dia minta bertemu, tapi membuat aku menunggu selama ini,” gumam Alea, sembari terus melirik ke arah jam tangannya.
__ADS_1
Alea mengedarkan pandangannya ke arah hadapannya, berharap sosok Arga datang dengan segera ke hadapannya.
Malam ini cukup dingin, dengan suara petir yang sedari tadi terus menggelegar pertanda hendak turun hujan. Namun, Alea masih saja setia menunggu kedatangan Arga di sana.
SRAK!
Hujan pun benar-benar turun, Alea mendadak bingung dengan keadaan yang ada. Ia berusaha melihat ke sekelilingnya walau dalam remang, dan segera berlari kecil untuk berteduh di halte yang ada di sekitarnya.
Hujan turun dengan derasnya, membuat suhu tubuh Alea mendadak menyesuaikan dengan suhu cuaca kali ini. Ia merasa sedikit menggigil, karena ia lumayan terkena banyak air hujan ketika hendak berteduh tadi.
“Apa Mas Arga akan benar-benar datang? Kenapa lama sekali?” gumam Alea lagi, yang benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
__ADS_1
Kesabarannya seakan habis, tetapi ia terpaksa berharap pada sebuah harapan yang kosong, karena ia menerima pesan singkat dari Arga yang memintanya untuk tetap menunggu di tempat biasa mereka bertemu.
Dari kejauhan, terlihat beberapa orang yang menembus hujan dengan sangat berani. Di belakang mereka pun terdapat sebuah mobil, yang ternyata juga adalah komplotan dari mereka. Mereka datang ke hadapan Alea, membuat Alea memandanginya bahkan saat mereka masih jauh di hadapannya.
Suasana semakin rancu, ketika Alea melihat mereka yang terus menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa diartikan olehnya. Ia menutupi area dadanya dengan tas yang ia pegang, sembari menatap sinis ke arah mereka.
“Siapa kalian?!” tanya Alea dengan sinis, tetapi para lelaki berperawakan kekar dan bertato ini tak menjawab pertanyaannya itu.
Mereka hanya tersenyum, sembari memandang ke arah Alea dengan senyuman yang menyungging. Tatapan mereka sangat aneh, membuat Alea semakin takut dengan keadaan.
Alea memandang ke arah sekitarnya. Di sana, sama sekali tidak terlihat ada orang yang berkeliaran di jalan itu. Suasana jalanan sangat sepi, ditambah dengan hujan yang terus mengguyur, membuat tidak ada satu pun orang yang melewati tempatnya itu.
__ADS_1
Mereka mengeluarkan selembar foto, kemudian memandang ke arah Alea. Mereka menemukan kesamaan yang persis antara foto dengan wanita yang kini berhadapan dengan mereka. Setelah memastikan kebenarannya, salah seorang dari mereka segera menyimpan foto itu kembali di sakunya.
“Kau yang bernama Alea?” tanyanya, Alea tersentak kaget mendengarnya.