
“Al ... mengertilah. Ini hanya sebuah pernikahan kontrak saja. Aku dan Azura ... tidak benar-benar saling mencintai. Aku hanya mencintai kamu, Al. Aku sadar, setelah bertahun-tahun tidak bersama denganmu,” ujar Arga, yang tak bisa membuat Alea luluh begitu saja.
“Kenapa kamu baru mencariku sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja?” tanya Alea lagi, berusaha mencari kesalahan Arga.
“Karena kontrak pernikahan ini, yang mengisolasi diriku, agar tidak bisa melakukan apa pun yang aku inginkan. Aku juga gusar, ingin sekali mencari kamu. Tapi aku terhalang dengan Azura dan juga dua keluarga ini, agar tidak bisa melakukan apa pun yang aku inginkan,” papar Arga menjelaskan, sedikit banyaknya membuat Alea menangguhkan amarahnya di hadapan Arga.
“Aku tidak bisa berbicara denganmu sekarang, Arga. Aku akan menutup teleponnya,” ujar Alea, berusaha untuk menguatkan dirinya, dan juga menguatkan pendiriannya untuk tidak menerima Arga kembali ke sisinya.
“Al, tunggu—”
Belum sempat Arga menyelesaikan ucapannya, Alea pun menyudahi perbincangan mereka.
Karena tidak ingin dihubungi kembali oleh Arga, Alea pun segera menonaktifkan handphone-nya, dan segera melangkah ke arah kamar mandi.
Sejenak ia membuat pikirannya jernih, dengan cara membersihkan seluruh tubuhnya dengan air yang mengalir. Ia merasa sudah gagal untuk menahan dirinya dan juga perasaannya, ketika ia berbincang dengan Arga.
“Sepertinya, Arga masih sangat berharap bisa kembali denganku,” gumam Alea, yang merasa seperti itu.
Hari-hari Alea lalui dengan Azka yang seperti sedang menjauhinya. Terlihat jelas dari cara ia memperlakukan Alea, yang tidak seperti biasanya.
Azka juga tidak pernah menghubungi Alea lagi, sejak saat itu. Beberapa kali Alea penasaran, dan mencoba menghubunginya. Sering Azka menolak dan tak menerima panggilan dari Alea, dan ketika ia menerimanya, ia mengatakan hal yang sangat membuat Alea menjadi sedih.
Sikap Azka berubah, dan tidak seperti biasanya padanya.
Di waktu yang bersamaan, Arga juga berusaha untuk mengejar dan mendapatkan Alea kembali. Berbagai macam cara sudah ia coba, dari mulai memberikan setangkai bunga pada Alea melalui teman-teman Ariel, sampai diam-diam mengirimkan pesan singkat berisi kata motivasi untuk Alea.
Arga benar-benar sangat gencar untuk mendapatkan Alea kembali. Ia juga sering menghubungi Alea di waktu senggang, dan Alea juga sering menerima telepon darinya, karena merasa kesepian dengan Azka yang sama sekali tidak bisa dihubungi.
Terjalin sebuah hubungan baru antara Alea dan juga Arga, karena mereka sama-sama kesepian dengan keadaan hubungan mereka yang sangat menggantung. Beberapa kali Alea merasa senang, saat Arga tiba-tiba saja menjemput Ariel di sekolahnya. Ia seperti merasa Arga kembali lagi pada wujud saat mereka masih di tingkat sekolah menengah.
Sudah 2 bulan berlalu, mereka menjalin hubungan baru ini dengan sangat baik. Tak jarang mereka pergi bersama, tanpa adanya hambatan.
__ADS_1
Azka juga sudah jarang menghubungi Alea, sampai-sampai Alea saja bisa dengan mudahnya melupakan Azka begitu saja.
Hari ini, Arga menjemput Alea dengan sangat hati-hati. Alea diminta untuk menunggu di tempat biasa ia menunggu, cukup jauh dari halte tempat ia mengajar.
Alea sudah sangat bersemangat, karena ia merasa sudah sangat menantikan kedatangan Arga.
Sebuah mobil hitam datang di hadapan Alea, membuat Alea tersenyum ketika Arga membuka kaca jendela mobil tersebut.
“Halo, Sayang. Sudah lama menunggu?” sapa Arga, membuat Alea memandangnya dengan sangat lekat.
Pandangan ini, sama seperti saat ia memandang Arga dulu. Ia benar-benar kembali jatuh cinta, pada orang yang sama. Kali ini, ia tidak memedulikan keadaan Arga, dan hendak memulai semuanya bersama dengan Arga.
Toh Arga sudah akan menceraikan Azura, Alea tidak harus merasa khawatir lagi, karena sebentar lagi ia akan menjadi pengganti Azura.
Semua itu ia lakukan terpaksa, lantaran Arga dan Azura masih terikat sebuah kontrak pernikahan. Arga berhasil meyakinkan Alea, agar bisa menerima cintanya kembali, dengan cara menunjukkan surat perjanjian pernikahan dirinya dan juga Azura, yang sebentar lagi akan habis.
“Aku baru menunggu 10 menit,” jawab Alea dengan senyuman yang bisa meneduhkan hati Arga.
Alea pun masuk ke dalam mobil Arga, dan duduk di sebelah Arga yang sedang mengemudikan mobilnya.
Mereka saling memandang satu sama lain, karena Arga merasa sangat merindukan Alea.
“Aku kangen banget sama kamu,” ungkap Arga, yang benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya di hadapan Alea.
Alea tersenyum tipis, “Baru kemarin kita bertemu,” godanya, membuat Arga merasa sangat senang mendengarnya.
“Aku sudah rindu. Entah mengapa, kamu jadi orang yang selalu berhasil membuatku rindu setiap saat,” ujar Arga dengan nada yang sangat membuat Alea merasa terkesima.
Arga menyodorkan sebuah minuman ke arah Alea, “Minum dulu, kamu pasti haus,” ujarnya, sembari menyodorkan sebuah minuman ke arah Alea.
Alea yang memang merasa sangat kehausan, lantas meraih minuman tersebut, dan meminumnya tanpa rasa curiga sama sekali.
__ADS_1
Karena melihat Alea yang sangat lahap meminumnya, Arga pun menjadi sangat senang dan menyunggingkan senyumannya di hadapan Alea.
‘Dia masih sama seperti dulu. Masih terlalu polos untuk aku yang sudah sangat mahir. Aku akan menjamin, kalau kita akan melakukannya dengan benar malam ini, Al,’ batin Arga, yang benar-benar haus akan tubuh wanita lugu bernama Alea ini.
Setelah meminum minuman yang Arga berikan, Alea pun berusaha mengelap sisa air minum yang masih menempel pada sudut bibirnya.
Arga yang menyadarinya, segera membantu Alea untuk membersihkannya dengan jemarinya.
Sejenak Alea memandangi wajah Arga yang terlihat sangat dekat di hadapannya, sehingga pikirannya hanya tertuju ke arah wajah Arga yang masih terlihat sangat tampan.
‘Arga, ternyata kita bertemu lagi sekarang. Aku sangat rindu kamu,’ batin Alea, yang benar-benar sudah dimabuk cinta oleh Arga.
Menyadari Alea yang memandanginya seperti itu, Arga pun tersenyum, lalu menciumi setiap inci dari lengan tangan Alea, membuat Alea merasa sangat gelisah dengan memandang ke arah sekitarnya.
“Kenapa kamu begini? Gimana kalau ada orang yang melihat?” tanya Alea, merasa sangat bingung dengan apa yang Arga lakukan.
Arga tak memedulikannya, dan semakin menciumi lengan Alea sampai ke arah lehernya.
“Stop, Ga. Jangan seperti ini,” ujar Alea meronta, membuat Arga menghentikan aktivitasnya.
Arga memandang dalam ke arah Alea, lalu menenggelamkan wajahnya pada dua gundukan kenyal yang Alea miliki.
“Al, aku rindu ....” Arga benar-benar sudah dimabuk asmara oleh Alea.
Tak bisa dipungkiri, Alea juga sangat merasa haus akan kasih sayang. Ia juga ingin merasakan hal itu lagi, setelah sekian lama tidak melakukannya bersama dengan Arga.
Dengan napas yang memburu, Alea merasa dirinya sudah tidak bisa mengendalikan dirinya di hadapan Arga.
Rasa panas dan gerah yang ia rasakan, benar-benar sangat mengganggunya.
Arga melihatnya sembari menyunggingkan senyumannya, ‘Obat itu sudah bereaksi. Bagaimana caramu untuk menolakku, Alea?’ batinnya, yang merasa rencananya sudah sangat berhasil.
__ADS_1