
Azka diam-diam menguntit mereka dari belakang. Ia memandang ke arah mereka, yang ternyata pergi dengan menggunakan taksi.
“Mereka pakai taksi!” gumam Azka, yang langsung berlarian ke arah parkiran, untuk mengambil sepeda motornya yang terparkir rapi di sana.
Dengan cepat, Azka melesat menggunakan motornya untuk mengejar mereka.
Di taksi, Alea sangat senang karena bisa pergi bersama dengan Arga ke sebuah pesta. Ia sangat senang, karena baginya jika seorang lelaki mengajaknya ke sebuah pertemuan, ia akan sangat senang karena lelaki itu yang ternyata sangat bangga memilikinya, sampai diperkenalkan ke semua orang yang ia kenal.
Alea memandang ke arah Arga, yang duduk di sampingnya, “Makasih ya kamu udah ajak aku ke party teman kamu,” ucap Alea dengan malu-malu, membuat Arga tersenyum mendengarnya.
‘Yang seharusnya berterimakasih itu aku,’ batin Arga, yang memang sudah memiliki niat jahat kepada Alea.
“It’s okay,” ujar Arga.
Azka masih mengejarnya dari belakang, dan bersikap seperti biasa saja tidak terlalu terlihat mencolok untuk mengejar mereka. Ia merasa agak tenang, karena ia mengejarnya menggunakan motor. Kecil kemungkinan akan tertingal oleh mereka.
__ADS_1
Setelah setengah jam melakukan perjalanan, mereka pun tiba di sebuah tempat, yang merupakan rumah dari teman Arga. Rumahnya terlihat cukup mewah, dan terlihat sudah banyak sekali orang yang hadir di sana.
Hari sudah semakin gelap, karena perjalanan yang memakan waktu, sehingga sore pun telah berganti menjadi senja.
Taksi itu berhenti, membuat Arga tersenyum sembari mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar ongkos taksi itu.
“Ini, Pak.” Arga menyodorkan lembaran uang receh itu ke arah sang sopir, dan diterimanya dengan baik.
“Terima kasih.”
Arga membuka pintunya, sementara Alea pun membuka pintu taksi itu sendiri. Arga terkejut, karena ia ingin sekali membukakan pintu untuk Alea, tetapi Alea ternyata sudah lebih dulu keluar dari taksi itu.
“Lho, aku baru mau bukain kamu pintu,” ujar Arga, Alea tertawa kecil mendengarnya.
“Apa sih? Kayak di film-film aja. Lagian, kalau di film kan harusnya pakai mobil pribadi. Nah kalau sekarang kan cuma naik taksi aja,” sindir Alea, membuat harga diri Arga sedikit tersentil mendengarnya.
__ADS_1
Padahal, maksud dan ucapan Alea tidak untuk menyinggung Arga. Memang Alea tidak menyukai hal-hal yang terlalu berlebihan seperti itu.
Baginya, kehidupan di dunia nyata dan dunia dongeng itu sangat jauh berbeda.
‘Sial, kenapa dia malah bicara begitu?’ batin Arga, yang merasa harga dirinya tersentil karena mendengar ucapan Alea.
Namun, karena tidak ingin mengacaukan acara dan juga rencananya, Arga pun berusaha untuk bersikap tenang dan tak menghiraukan ucapan dan perkataan Alea tadi.
“Ayo kita masuk. Sepertinya teman-teman yang lain sudah sampai di sini sejak tadi,” ajak Arga, Alea pun mengangguk sembari tersenyum mendengar ajakannya.
Mereka pun melangkah masuk bersamaan. Sesampainya mereka di sana, mereka berpapasan dengan seorang yang merupakan panitia pada acara kali ini.
“Permisi, undangannya?” tegur sangat panitia, membuat Arga mengeluarkan tiket itu dari dalam tasnya.
Arga menyodorkannya ke arahnya, “Ini undangannya. Saya ajak pacar saya ke sini,” ucapnya membua sang petugas menjadi maklum mendengarnya.
__ADS_1
“Oke, silakan pilih topeng lebih dulu,” ucapnya.