
Belum ada benih-benih cinta di hati Azka. Jika Pras mengetahui kebenarannya, mungkin saja ia tidak akan meledek Azka sampai seperti ini.
“Kalau gak suka, kenapa kamu ngelihat sampai seperti itu?” tanya Pras lagi, semakin membuat Azka tak bisa menjawabnya.
Dengan kecerdasan yang ia miliki, Azka pun mengeluarkan sebuah buku novel yang ada di dalam tasnya. Ia menunjukkan ke arah Pras, sehingga membuat Pras sempat kebingungan.
“Tadi di koridor, aku gak sengaja ngelihat buku ini terjatuh dari dalam tasnya. Aku hanya ingin mengembalikan buku ini,” ujar Azka, yang tentu saja berbohong kepada Pras.
Semua itu ia lakukan, karena ia tidak ingin sampai Pras berpikiran yang lebih macam-macam terhadapnya.
Mendengar penjelasan Azka, Pras yang menganggap Azka adalah anak yang polos, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia merasa kalau Azka berbicara jujur padanya, tanpa ada kecurigaan lainnya.
“Oh, kenapa kamu gak bilang dari tadi? Kenapa harus ngelihat sampai segitunya? Orang berpikir kan macam-macam jadinya!” tegur Pras lagi, tetapi Azka hanya diam mendengarnya sembari memandangnya dengan bingung.
__ADS_1
Pras menepuk bahu Azka pelan, “Dia itu namanya Alea. Anak kelas 2 IPA 2 yang terkenal di sekolah ini. Jujur saja, aku masuk sekolah ini karena waktu itu tak sengaja melihat dia saat demo sekolah ini masuk ke sekolah SMP aku. Dia ikut mempromosikan sekolah ini, dan banyak dari sekolahku yang masuk ke SMA ini karena melihat dia,” ujar Pras, yang berusaha untuk memberikan informasi yang ia ketahui mengenai Alea.
Kornea mata Azka membulat, karena ternyata teman sebangkunya ini mengenal sosok gadis yang ia maksudkan. Ia merasa sangat senang, karena ia bisa mendapatkan informasi dari Pras mengenai Alea.
‘Jadi namanya Alea?’ batin Azka, yang tersenyum ketika mengetahui namanya. Azka memandang ke arah Pras, “Apa dia sudah punya pacar?” tanya Azka, membuat Pras sedikit menahan tawanya.
“Tadi kau bilang tidak menyukainya, kenapa sekarang kau tanya status hubungannya dia?” ujar Pras setengah meledek, Azka hanya bisa menghela napasnya karena merasa terkekeh mendengar ledekan Pras.
“Ah, itu sih kamu aja yang lebay! Mana ada sih di kehidupan nyata yang seperti itu? Gak usah lebay, deh!” Pras tidak menggubris apa yang Azka katakan, dan sebaliknya malah mencaci Azka dengan pemikirannya itu.
“Bisa aja, ‘kan? Aku hanya mau berjaga-jaga. Aku khawatir, gak bisa kontrol emosi!” ujar Azka, yang membuat Pras tersadar dengan suatu hal.
Matanya mendelik kaget, dan seketika memandang dalam ke arah Azka. Hal itu membuat Azka kebingungan dengan apa yang temannya lakukan.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Azka kebingungan.
“Kamu bisa beladiri?” tanya balik Pras.
“Sedikit, hanya untuk bertahan bukan menyerang.”
Mendengar jawaban Azka, Pras secara cepat menelan salivanya sendiri. Ia jadi takut sendiri berhadapan dengan Azka, yang dari luar terlihat polos, tetapi dari dalam terlihat seperti seekor singa. Pras jadi ketakutan karena sudah menggodanya sejak tadi.
“Bagus, lanjutkan!” ujar Pras, yang saking takutnya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Azka hanya menggelengkan kecil kepalanya, karena ia juga sudah bingung harus bersikap apa kepada Pras setelah ini.
***
__ADS_1