
Azka tak memedulikannya, dan hanya bisa berfokus memandang gadis yang ada di hadapannya saat ini.
Karena tidak ingin malu di hadapan teman-temannya, Alea pun terpaksa menerima cokelat batang itu, dan menyudahi pertengkaran dengan Azka.
“Maksa banget, sih! Udah deh, sekarang kamu keluar aja! Aku malu sama teman-teman aku!” ketus Alea, yang segera mendorong tubuh Azka dan memaksanya untuk pergi dari kelasnya saat ini.
“Alea,” sapa seseorang, yang tiba-tiba saja datang dari arah luar kelasnya.
Alea dan kawan-kawanya pun terkejut, karena melihat kedatangan Arga di hadapan mereka. Mereka mendadak tremor, karena mungkin saja setelah ini akan terjadi sebuah keributan yang cukup besar, antara Arga dan juga Azka.
Pandangan Arga menajam sinis ke arah Azka, membuat Alea merasa sangat kebingungan karenanya.
“Arga?” pekik Alea lirih, karena merasa terkejut dengan kedatangan Arga yang tiba-tiba saja ke kelasnya, tidak seperti biasanya.
Arga menunjuk ke arah Azka, “Sepertinya aku sudah beberapa kali ngeliat kamu sama lelaki ini,” ujar Arga, “siapa dia?” tanyanya dengan ketus.
__ADS_1
Alea tidak menyadari, bahwa Azka ternyata sudah mengetahui tentang Azka sebelum hari ini. Hal itu membuat Alea merasa sangat tidak enak dengan Arga.
Walaupun dipandang sebelah mata oleh Arga, Azka hanya bisa membalas pandangannya dengan datar saja. Ia tidak mau permasalahan ini melebar, karena yang terpenting kali ini adalah permintaan maaf Alea untuknya.
“Gak ada apa pun di antara kita, Ga! Aku juga gak kenal dia siapa!” bantah Alea yang menjelaskan bahwa tidak ada apa pun di antara mereka.
Arga tak sengaja memandang ke arah cokelat batang yang Alea pegang, sehingga ia merasa tidak percaya dengan apa yang Alea jelaskan padanya.
“Gak kenal, kenapa kamu nerima cokelat dari dia?” tanya Arga, Alea mendelik kaget mendengarnya dan memandang ke arah cokelat yang ia pegang.
“Itu pasti cokelat dari dia, ‘kan?” bidik Arga dengan kasar, membuat Azka merasa sedikit muak karena perlakuan kasar Arga ke Alea yang berani ia lakukan di hadapannya.
“Bu-bukan--”
“Memangnya kenapa kalau itu cokelat dari aku?” tantang Azka pada Arga, sontak membuat Arga menoleh sinis ke arahnya.
__ADS_1
Alea dan teman-temannya merasa kebingungan, dengan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Mereka tidak tahu, kejadiannya akan jadi seperti ini.
“Gimana ini?”
“Gak tahu gimana! Kenapa bisa jadi begini, sih?”
“Seandainya anak baru itu gak masuk ke kelas.”
Semua orang berbisik lirih, tetapi masih terdengar jelas di telinga Azka. Namun, Azka sama sekali tidak memedulikan ucapan mereka. Yang Azka perlukan hanyalah ucapan maaf dari Alea untuknya.
Arga berhadapan dengan Azka, “Lo sengaja ya dekati Alea? Lo tahu gak, Alea itu udah sama gue?” tanya sinisnya, tak membuat Azka gentar menatap ke arah matanya yang sinis.
“Alea pacaran sama lo? Oh, kok gue baru tahu, ya? Habisnya, lo deket sama banyak cewek, sih! Wajar dong kalau gue gak tahu, dan berusaha deketin Alea?” ujar ketus Azka, yang keceplosan mengatakan kalau Arga memiliki wanita lain, selain Alea.
Hal itu membuat Arga kalang-kabut mendengarnya. Tak hanya Arga, Alea dan teman-temannya pun kaget ketika mendengar ucapan Azka yang bagi mereka sangat asal.
__ADS_1
“Apa yang loe maksud? Gue punya cewek lain gimana? Semua orang di sekolah ini tahu, kalau gue itu pacarnya Alea!” bentak Arga, yang tidak ingin membuat suasana hati Alea menjadi ragu padanya.