Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Canggung


__ADS_3

Mereka terkejut karena mendengar Alea yang ingin menjadi seorang guru, di taman kanak-kanak.


Bunda memandangnya heran, “Memangnya alasannya kenapa kamu ingin menjadi guru di taman kanak-kanak?” tanyanya.


Alea tersenyum tipis, “Aku suka anak-anak, Bunda,” jawabnya singkat kemudian menundukkan pandangannya.


Padahal Azka sangat mengetahui alasan Alea untuk bekerja di taman kanak-kanak tersebut. Alasannya, tak lain adalah dirinya yang masih merasakan kehilangan sosok anak darah dagingnya sendiri, bersama dengan Arga. Namun, Azka mengerti kalau Alya tidak akan bisa mengatakan dengan jelas, apa alasan di balik keputusannya tersebut.


‘Memang nggak bisa dipungkiri sih, yang namanya orang tua pasti sedih ketika kehilangan anaknya. Walaupun dia mengatakan kalau dirinya tidak siap dan belum siap memiliki anak,’ batin Azka yang merasa memikirkan Alea terlalu dalam.


Azka mengambil minumannya yang berada di hadapannya, kemudian menyeruput minumannya tersebut.


Ayah tersenyum mendengarnya, “Bagus, dong! Nanti bisa kasih kami cucu yang lucu!” selorohnya, sontak membuat Azka tersedak oleh minuman yang sedang ia minum.


Azka terbatuk, sehingga membuat semua orang yang ada di sana menjadi sangat khawatir terhadapnya.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya bunda, Azka mengusap sisa minuman yang masih menempel di sekitar sudut bibirnya.


“Nggak apa-apa, Bunda,” jawab Azka sembari melirik ke arah Alea.


Alea hanya menunduk, dan terlihat dengan jelas, pipinya memerah karena merasa malu, mendengar ucapan dari ayah Azka.


Karena hal itu, Azka menjadi sangat malu dan menjadi sangat khawatir dengan perasaan Alea. Ia tidak ingin, hanya karena salah ucapan dari ayahnya, sampai membuat Alea menjauhinya atau tidak ingin lagi bersama dengannya.


Azka memandang ke arah Ayah dan Bundanya, “Azka permisi sebentar mau ngobrol sama Alea di kamar. Boleh ‘kan, Bun?” pinta Azka.


Bunda mengangguk, sementara Ayah hanya memandang mereka dengan heran.


Karena sudah mendapat anggukan dari Bunda, Azka pun segera memandang ke arah Alea yang juga sedang memandang ke arahnya. Mereka pun sama-sama bangkit kemudian bergegas menuju ke arah kamar Azka.

__ADS_1


Sampai di dalam kamar Azka, ia menutup rapat pintu ruangan kamar tersebut. Kemudian meminta Alea untuk duduk di sampingnya, di pinggir ranjangnya.


Mereka terlihat sangat canggung, karena masih teringat dengan ucapan Ayah tadi.


Azka memandang dalam ke arah Alea, “Maafin yang Ayah aku bilang, ya. Jangan pernah diambil hati, kalau kamu tidak nyaman mendengarnya,” ucapnya membuat Alea memandangnya sembari menghalang napas panjang.


“Jujur aja aku kaget banget, saat tadi ayah bilang begitu,” ujar Alea, “memangnya hubungan kita ini apa sih sebenarnya?” tanyanya bingung.


Mendengar pertanyaan dari Alea, Azka benar-benar tidak bisa menjawabnya. Ia hanya bisa memandang dalam ke arah Alea, tanpa bisa menjawab sedikit pun.


Alea memandangnya dengan heran, “Kamu ngomong ke mereka kalau kita ini apa Azka? Jangan-jangan ... kamu bilang kalau aku ini pacar kamu, ya?” bidiknya.


Azka menggelengkan kepalanya kecil, “Aku nggak pernah bilang begitu ke mereka. Entah mereka bagaimana mengasumsikan hubungan kita ini, yang jelas aku nggak pernah sama sekali bilang ke mereka tentang hal itu,” ungkapnya menjelaskan.


Walaupun sudah dijelaskan oleh Azka, dengan panjang lebar, Alea tetap tidak percaya dengan apa yang Azka katakan itu.


Azka menghela napasnya dengan dalam, “Aku sungguh-sungguh tidak pernah bilang seperti itu, Alea. Mungkin kedekatan kita membuat mereka berasumsi seperti itu,” ujarnya kembali menjelaskan.


Hanya karena permasalahan seperti itu, Alea menjadi sangat canggung berhadapan dengan Azka. Biar bagaimanapun, Alea masih mencintai Arga dan masih belum sepenuhnya melupakan cinta pertamanya itu. Ia tidak siap untuk menjalin hubungan baru, sekalipun bersama dengan Azka.


Alea memandangnya dengan dalam, “Aku jadi nggak enak sama mereka. Tolong kasih tahu mereka, kalau di antara kita nggak ada hubungan apa-apa. Aku nggak mau mereka terlalu berharap, karena kedekatan kita yang melebihi seorang teman ini,” ujar Alea sedikit banyaknya membuat Azka menjadi sangat sedih mendengarnya.


Karena perkataannya itu, Azka merasa sangat sedih. Ia merasa hanya dirinya yang mengharapkan adanya hubungan ini.


Tak bisa dipungkiri, karena kedekatan mereka selama ini, Azka jadi memiliki perasaan yang sangat dalam pada Alea. Ia sama sekali tidak ingin melihat Alea menangis, atau tersakiti.


Namun, nampaknya semua itu hanyalah perasaan Azka saja. Alea bahkan tidak berpikir untuk mencintai Azka dengan benar.


‘Jadi, selama ini aku hanya bertepuk sebelah tangan aja?’ batin Azka, membuat dirinya terlihat semakin sedih.

__ADS_1


Azka memandang Alea dengan dalam, “Ya, baik. Aku akan kasih pengertian ke mereka, dan bilang ke mereka, kalau di antara kita, gak ada hubungan apa pun yang spesial,” ujar Azka, sedikitnya membuat Alea tersenyum.


“Ya, terima kasih,” ujar Alea, Azka hanya bisa mengangguk kecil mendengarnya.


Alea memandang ke arah Azka, “Aku juga sekalian mau bilang ke kamu, kalau aku akan mencari pekerjaan di kota B. Aku akan meninggalkan kota ini, dan mengadu nasibku di sana,” ujarnya, sontak membuat Azka mendelik kaget mendengarnya.


“Ingin mencari pekerjaan di kota B? Apa di kota ini, sudah kehabisan lowongan pekerjaan? Kenapa harus jauh-jauh pergi ke sana?” tanya Azka, yang merasa sangat tidak rela melepas Alea pergi.


Alea tersenyum tipis, “Aku ingin melepas semua masa lalu di kota ini, Azka. Aku masih teringat dengan sosok Arga, yang sampai saat ini pun masi terngiang di benakku,” gumamnya, membuat Azka merasa sangat sendu dibuatnya.


Mereka sejenak saling menatap satu sama lain. Azka merasakan kesedihan, karena mungkin ada satu dari sekian banyak alasan Alea, yang menyangkut tentang dirinya, yang menjadi pemicu alasan ia pergi dari kota ini.


Azka memandangnya dengan dalam, “Apa ada alasan lain, selain itu?” tanya Azka yang hendak memastikan tentang hal ini.


Alea menggeleng kecil, “Tidak ada,” jawabnya singkat.


Azka hanya bisa menganggukkan kepalanya kecil, menghormati apa yang menjadi keputusan Alea.


“Baiklah, nanti aku antar kamu ke bandara. Jangan pergi sendiri, aku mohon,” ujar Azka, membuat Alea tersenyum mendengarnya.


“Baiklah,” jawabnya, Azka tenang mendengarnya.


‘Kalau seperti ini, aku akan mengikutinya, ke mana pun ia pergi. Aku tidak bisa tenang, melepas dia sendirian di kota lain, dan jauh dari pandanganku,’ batin Azka, yang malah ketakutan sendiri dengan apa yang akan mereka lalui nanti.


“Ya sudah, aku antar kamu pulang, ya,” ujar Azka, membuat Alea mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya, terima kasih,” ujar Alea, Azka hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapannya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2