
Mereka sudah melakukan hal panas malam tadi. Alea merasakan hal aneh, karena saat ia membuka matanya, ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Arga.
Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan, tetapi ia sama sekali tidak berhasil menemukan Arga.
“Ke mana Arga?” gumam Alea, yang lalu segera bangkit untuk mengambil sebuah piyamah tidurnya di dalam lemari.
Alea mengenakan piyamah itu, dan segera keluar menuju ke arah ruangan tamu.
Di sana, ia masih tetap tidak menemukan keberadaan Arga. Suasana nampak hening, dan ia benar-benar tidak menemukan Arga.
Alea menghela napasnya dengan panjang. Ia lupa, kalau Arga masih memiliki keluarga dan ikatan kontrak pernikahan dengan Azura. Ia masih belum bisa sepenuhnya memiliki Arga.
“Aku lupa ... dia masih memiliki istri. Aku tidak bisa melakukan apa pun,” gumam Alea, yang merasa sangat sedih saat ini.
Niat hati ingin bermanja-manja setelah semalaman melakukan hal panas bersama, ia malah tidak bisa menemukan keberadaan Arga, saat ia membuka matanya.
Seseorang membunyikan bel, membuat Alea dengan segera berlarian untuk mengenakan kaus dan celana pendeknya.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, ia segera berlarian kembali ke arah pintu ruangan apartemennya.
Permainan kasar Arga semalam, sukses membuat **** ***** Alea menjadi sakit. Namun, sebisa mungkin Alea menahan rasa sakit tersebut.
Ia membuka pintu ruangan apartemennya, dan melihat Azka yang berada di hadapannya, sedang memegang sebuah plastik yang berisi makanan.
Alea menghela napasnya dengan panjang, karena dalam beberapa bulan ini, ia baru melihat Azka kembali.
Tubuhnya terlihat bertambah kurus, dengan bulu-bulu halus di sekitar dagu dan kumisnya yang sudah mulai menebal. Azka tampak terlihat tidak terurus.
“Kamu ....” Alea tak bisa berkata-kata.
Azka juga tidak bisa mengatakan apa pun. Hanya bisa memandang Alea saja sembari melambaikan sedikit tangannya.
“Halo, Alea. Apa kabar?” tanya Azka, Alea tiba-tiba saja teringat dengan kejadian semalam.
Karena telepon dari Azka, ia sudah membuat mood Arga menjadi terganggu.
__ADS_1
Alea hanya bisa memandangnya dengan pandangan yang ketus, saking kesalnya ia dengan yang Azka lakukan.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Alea dengan ketus, sehingga mebuat Azka merasa sangat bersalah padanya.
“Maaf, Al. Aku salah karena udah bersikap kekanak-kanakkan sama kamu. Aku kemarin jauhin kamu karena aku mau tenangin diri dulu,” ujar Azka menjelaskan, membuat Alea merasa sangat kesal mendengarnya.
“Ah, udah. Aku gak mau kenal lagi sama kamu!” bentak Alea, yang lalu segera menutup pintu ruangan apartemennya.
Namun, Azka menahan pintu tersebut, sehingga membuat Alea tidak bisa menutupnya.
“Lepasin! Aku mau kunci pintunya!” bentak Alea, tetapi ia sama sekali tidak ingin melepaskannya.
“Aku bawa sarapan untuk kamu. Bunda yang suruh,” ucap Azka, terlihat sangat jelas wajahnya menjadi kemerahan karena menahan rasa malunya di hadapan Alea.
“Aku gak mau makan sama kamu! Kemarin-kemarin ke mana aja? Aku udah hubungin kamu terus, dan kamu sama sekali gak mau balas pesan aku, atau angkat telepon dari aku!” ujar Alea, yang menumpahkan semua rasa kesal dan emosinya di hadapan Azka.
Azka menghela napasnya dengan panjang, “Setidaknya biarin aku masuk dulu ke dalam, Al.”
Alea memandangnya sinis, kemudian segera menyingkir dari arah pintu, untuk membiarkan Azka masuk ke dalam ruangan apartemennya itu.
Mereka duduk bersebelahan di sofa tersebut. Alea sama sekali tak memandang ke arahnya, sehingga membuat Azka semakin merasa bersalah padanya.
“Maafin aku, Al. Jangan marah lagi. Aku cuma lagi emosi aja waktu itu,” bujuk Azka, Alea memandang ke arahnya dengan sinis.
“Kamu udah bikin aku kesal, tau gak!” bentaknya lagi, Azka semakin merendah saja di hadapan Alea.
“Aku tahu itu. Maaf, aku gak akan melakukannya lagi. Aku gak akan pergi tiba-tiba seperti itu,” ujar Azka berjanji pada Alea.
“Gak perlu lagi. Aku udah gak butuh kamu,” ujar Alea, yang sangat membuat Azka terkejut dan mendelik kaget mendengarnya.
“Kenapa kamu bilang begitu, Al? Aku ‘kan sudah minta maaf,” ujar Azka, berusaha untuk meminta pengampunan dari Alea.
Namun, yang Alea maksudkan bukan itu. Azka sudah membuat Arga menjadi tidak mood, dan hampir saja membuat mereka gagal melakukan hal yang panas itu.
Hal itu membuat Alea menjadi kesal dengan Azka, tetapi ia sama sekali tidak bisa memberitahukannya pada Azka.
__ADS_1
“Sudahlah, kalau kamu sudah selesai, kamu boleh pulang,” ujar Alea, yang benar-benar sedang tidak mood saat ini.
Azka memandangnya dengan sangat tidak percaya, “Aku mau makan bareng sama kamu!” ujarnya tegas, tetapi Alea sama sekali tidak menginginkan hal itu.
“Aku gak mau! Makan aja sendiri!” bentak Alea, yang emosinya keluar di hadapan Azka saat ini.
Mereka sudah lama tidak bertemu, sekalinya bertemu mereka melakukan hal yang tidak perlu mereka lakukan.
“Al, kita sudah lama tidak bertemu. Apa kamu gak rindu sama aku?” tanya Azka, Alea menatapnya dengan sangat tidak percaya.
“Itu semua bukan aku yang minta! Kamu yang mau, dan kamu yang jauhin aku. Aku sama sekali gak ada sangkutannya dengan itu!” ujar Alea masih dengan nada yang ketus.
“Al ... harus bagaimana lagi aku memperbaiki semuanya? Aku sudah minta maaf, aku ingin kita seperti dulu lagi, Al!” ujar Azka, yang terdengar seperti sangat memaksa Alea.
Alea tentu tidak menginginkan hal itu, karena saat ini ia sudah menjalin hubungannya dengan Arga.
“Aku gak butuh kamu lagi, Azka. Kamu sudah melakukan pilihan kamu sendiri. Kamu sudah menjauh, lantas mengapa sekarang kamu kembali mendekat? Aku gak suka!” bentak Alea lagi, yang benar membuat hati Azka terasa seperti porak-poranda.
“Maaf ... harus berapa kali lagi aku bilang maaf ke kamu?” tanya Azka, yang benar-benar sangat menyesali perbuatannya.
Alea yang sudah memiliki Arga di sampingnya, benar-benar sudah tidak memerlukan sosok Azka lagi di dalam hidupnya.
“Lebih baik, kamu jangan temuin aku lagi, Azka. Kamu sudah bohong, dengan bilang kalau kamu akan selalu ada buat aku. Nyatanya kamu malah menjauhi aku,” ujar Alea, berusaha mengungkit semua yang ia ketahui.
Azka menghela napasnya panjang, saking sesaknya ia mendengar ucapan Alea.
“Al, ini gak seperti yang kamu pikirkan. Aku gak benar-benar ninggalin kamu, kok!” ujar Azka, yang masih berusaha untuk bisa menjalin hubungannya dengan Alea.
Namun, Alea maish saja bertekad kuat.
“Gak, silakan pergi dari sini dan jangan kembali lagi ke sini!” usir Alea, yang benar-benar sudah nyaman hidup tanpa adanya Azka.
Azka tak percaya mendengarnya, tetapi ia juga tidak bisa lagi mengelaknya. Ia pun segera bangkit dari hadapan Alea, dan segera meninggalkannya di sana.
***
__ADS_1