Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Penasaran


__ADS_3

Alea memainkan jemarinya, yang sedang menggengam gelas minumannya itu. Ia merasa tidak bisa menjelaskan pada Azka, karena memang sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang ia ingikan.


“Sudahlah Al, jangan dipaksa,” ujar Azka, yang berusaha untuk membuat semangat Alea menjadi surut.


Karena tidak terima mendengar ucapan Azka, Alea pun mendelik ke arahnya.


“Apanya yang jangan dipaksa? Ini mimpiku, Ka!” bentak Alea tiba-tiba, membuat Azka terkejut dan mendelik kaget memandangnya.


“Hey, kenapa kamu malah bentak aku?” ujar Azka, yang tidak terima dibentak seperti itu dengan Alea.


“Ya kamu, kenapa bilang jangan dipaksa? Itu sama aja mengubur mimpi aku, Ka!” ujar Alea, membuat Azka menghela napasnya dengan panjang.


“Al, aku peduli sama kamu. Lebih baik, kamu diam di rumah, aku bisa cukupin kebutuhan kamu,” ujar Azka, yang sebenarnya sangat tidak tega melihat Alea merasa lelah.


Alea mendelik kaget, karena mendengar ucapan Azka yang sama seperti seorang suami, yang sedang menasehati istrinya.


‘Kenapa dia bilang begitu? Memangnya aku istrinya?’ batin Alea, merasa tidak terima dengan apa yang Azka katakan.


Karena tidak ingin mengatakan uneg-uneg yang ia pendam, Alea hanya bisa memendamnya saja.


Azka menyadari dengan ucapannya yang terlalu berlebihan, sehingga membuatnya hanya bisa mempercepat makannya saja.


Beberapa saat berlalu, mereka pun sudah menyelesaikan makan. Saat ini, sudah pukul 11 malam, dan Azka masih juga belum pulang dari kediaman Alea.


Alea hanya bisa bolak-balik melirik ke arah jam dinding, dengan Azka yang sangat tidak peka dengan keadaan yang sudah malam.


“Mau sampai jam berapa kamu di sini?” tanya Alea datar, Azka yang sedang memainkan handphone-nya, mendelik kaget setelah melihat jam yang ada di handphone-nya.


“Ah, sudah jam 11 malam? Kenapa cepat sekali waktu berjalan?” gumam Azka terkejut, lalu memandang ke arah Alea.


“Kamu tanya aja sama rumput yang bergoyang,” ujar Alea dengan ketus, membuat Azka memandang dalam ke arahnya.


“Memang ya, jika bersama dengan orang yang spesial ... semua akan terasa sangat cepat,” gumam Azka, membuat Alea memandang bingung ke arahnya.


“Apa sih,” gumam Alea dengan ketus, membuat Azka tertawa melihat Alea yang sikapnya masih sama seperti saat pertama mereka bertemu.


“Aku mau menginap di sini,” ujar Azka, sontak membuat Alea mendelik kaget mendengarnya.


“Apa! Gak bisa! Pulang sekarang!” bentak Alea, membuat Azka agak sedih mendengarnya.

__ADS_1


“Ah, kamu mah. Ya sudah, aku pulang sekarang!” ujar Azka dengan ketus, lalu segera bangkit dan berdiri di hadapan Alea.


Beberapa saat Azka hanya berdiri di hadapan Alea saja, membuat Alea bingung memandang ke arahnya.


“Kenapa masih diam?”


Keningnya mengerut, “Kamu gak mau antar aku ke depan?” tanyanya, Alea menghela napas kasar, lalu segera bangkit menemani Azka ke depan pintu apartemennya.


Alea mengantarkannya, kemudian Azka berdiri berhadapan dengannya.


“Jangan ditutup dulu,” suruh Azka, membuat Alea memandang dengan bingung.


“Kenapa gak boleh ditutup?”


“Tunggu sampai aku pergi,” jawab Azka, Alea hanya bisa memandangnya dengan datar.


Azka pun melangkah pergi dari sana, dan berhenti di ruangan sebelah Alea. Ia mengeluarkan sebuah kartu dari saku celananya, membuat Alea mendelik kaget dengan yang Azka lakukan.


“Mau ngapain kamu?” tanya Alea bingung.


Azka memandangnya datar, “Mau masuk, lah! Ini apartemenku,” jawabnya agak ketus, sontak membuat Alea melongo kaget mendengarnya.


Saking bingungnya, Alea sampai memegangi keningnya yang terasa agak berat. Azka hanya bisa memandangnya dengan heran.


“Ya sudah, aku mau masuk!” ujar Alea, yang lalu segera masuk ke dalam ruangan apartemennya.


Setelah Alea masuk ke dalam kamar apartemennya, Azka tertawa kecil melihatnya.


‘Lucu banget ekspresinya. Dia percaya kalau aku tinggal di sini?’ batin Azka, yang hanya berpura-pura saja untuk mengerjai Alea.


Padahal, Azka tinggal di apartemen pada gedung seberang gedung ini. Ia senang melihat Alea yang kaget seperti itu.


Setelah puas mengerjai Alea, Azka pun segera melangkah menuju ke arah lift.


***


Beberapa waktu berlalu, Alea kini sudah berhasil menemukan pekerjaan yang sudah ia cari sejak awal kedatangannya ke kota ini.


Kebetulan sekali, saat ia sedang berjalan-jalan di sekitar taman kanak-kanak dekat apartemennya, ia melihat ada sebuah tulisan lowongan pekerjaan menjadi guru taman kanak-kanak.

__ADS_1


Seketika Alea mendatanginya, dan hari ini adalah hari pertamanya masuk bekerja menjadi guru di sana.


Alea masuk melewati gerbang utama taman kanak-kanak tersebut. Tepat di depan pintu sebuah kelas, Alea melihat seseorang yang baru saja ia kenal kemarin.


“Bu Anggun,” sapa Alea, sembari menghampirinya.


Anggun menoleh ke arah Alea, kemudian tersenyum melihat kedatangan Alea di hadapannya.


“Halo, Alea. Awal sekali datang ke sini?” sapanya, membuat Alea tersenyum di hadapannya.


“Iya, Bu. Hari pertama bekerja, saya tidak mau sampai terlambat,” ujar Alea, membuat kepala sekolah taman kanak-kanak itu tersenyum di hadapannya.


“Bagus, kamu bisa mulai langsung dengan mengikuti alurnya. Ada bu Sarah yang nanti akan memandu kamu, dalam mengajar anak-anak,” ujarnya, membuat Alea sekali lagi tersenyum di hadapannya.


“Terima kasih, Bu Anggun.”


Alea pun mengangguk kecil, lalu memasuki ruangan kelas yang ternyata masih sepi.


Pandangannya ia edarkan ke seluruh isi ruangan ini. Ia mendapati seorang anak lelaki, yang sedang memainkan mainan dinosaurus mini yang sedang ia pegang.


Alea tersenyum, lalu menghampiri ke arah bocah lelaki itu.


“Halo,” sapa Alea, ia memandang bingung ke arah Alea.


“Kamu siapa?” tanya bocah tersebut, membuat Alea tersenyum mendengarnya.


“Aku guru baru di sini. Kamu bisa panggil aku Mis Alea,” ujar Alea, membuat bocah itu hanya bisa menatapnya dengan datar.


Karena merasa canggung dengan keadaan, Alea pun segera mengeluarkan senjata pamungkasnya, untuk menggait hati anak-anak yang ia temui.


“Ini, untuk kamu,” ujar Alea, sembari mengeluarkan beberapa permen cokelat, dan disodorkan ke arah bocah itu.


“Kata mama gak boleh makan permen. Itu merusak gigi,” ujarnya datar, membuat Alea menjadi kikuk mendengarnya.


Dimasukkannya kembali beberapa bungkus permen itu, membuatnya merasa sangat malu di hadapan seorang anak kecil.


‘Aku kira akan mudah mendapatkan hati para anak kecil di sini. Sulit juga,’ batin Alea, yang merasa agak kesulitan dengan hal itu.


Karena merasa malu, Alea pun segera menyingkir dari hadapan anak itu. Ia menunggu di dekat papan tulis, sembari sesekali melihat ke arah bocah yang sama sekali tidak ada senyumnya itu.

__ADS_1


Bukannya kesal, Alea justru penasaran dengan sosok anak lelaki itu. Ia jadi ingin mendekatinya, dan ingin sekali tahu secara dalam, tentang kepribadian anak lelaki ini.


__ADS_2