
Azka mendadak marah, usai melihat rekaman video itu. Ia memandang ke arah Pras dengan sinis, sehingga membuat Pras sedikit ketakutan karenanya.
“Dari mana kamu dapat video ini?” tanya Azka, Pras menghela napasnya dengan panjang.
“Dari grup angkatan kita. Ada yang menyebar video ini tadi.”
Walaupun Azka sangat kesal dengan orang yang mengunggah video itu, tetapi ia tidak bisa berbuat apa pun. Ia merasa tidak perlu bertindak, karena itu pasti akan membuat namanya menjadi bertambah buruk di mata teman-teman yang lain.
‘Sabar, Ka. Sabar!’ batin Azka, yang berusaha untuk memberi nasehat pada dirinya sendiri.
“Pokoknya, kamu jangan coba-coba deh deketin Alea! Dia udah pacaran sama Arga, ketua tim basket sekolah kita! Semua orang pasti gak akan seneng, kalau kamu yang anak baru ini tiba-tiba aja mau deketin Alea! Apalagi secara terang-terangan begitu,” ujar Pras, mengingatkan Azka untuk tidak mendekati Alea lagi.
Mendengar peringatan Pras, Azka hanya bisa memandang temannya dengan tatapan dingin, karena ia juga tidak mau dekat dengan orang seperti Alea.
‘Siapa juga yang mau dekat sama gadis seperti dia? Aku hanya ingin minta maaf,’ batin Azka, yang merasa bahwa mereka sudah salah paham dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Mungkin itu sebabnya mereka sangat tidak menyukai Azka, karena mungkin mereka berpikir kalau Azka sangat berani untuk mendekati idola di sekolah mereka.
Padahal, Azka hanya tidak ingin menanggung beban pikiran karena masalahnya dengan Alea kemarin.
‘Ah, sudahlah. Semuanya juga sudah terlanjur!’ batin Azka, yang merasa semuanya sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
‘Kalau sudah seperti ini, biar saja sekalian aku dekati dia! Lagipula, cowok itu juga bukan cowok yang benar! Dia sudah memiliki wanita lain, tetapi masih berani menjalin hubungan dengan Alea. Apa simpanannya itu mengetahui kalau Alea yang diakui oleh seisi sekolah ini?’ batin Azka, yang semakin melantur saja memikirkan tentang keadaan Alea saat ini.
***
Sementara itu, dari arah sana terlihat Azka yang lebih dulu sudah melihat Alea yang berdiri di depan gerbang sekolah. Azka menghela napasnya, dan menunggu Alea di sana tak jauh dari tempat Alea berdiri.
“Di mana ya Arga?” gumam Alea, yang merasa sudah sangat senang ingin bertemu dengan kekasihnya itu.
Alea terus mengedarkan pandangannya ke arah koridor, sembari tetap menunggu Arga dengan senang hati.
__ADS_1
Sementara itu dari arah Azka, ternyata Azka tak sengaja melihat ke arah koridor, dan menemukan Arga yang sedang berjalan bersebelahan dengan gadis yang ia anggap sebagai selingkuhannya.
‘Kenapa mereka berjalan bersebelahan seperti itu? Apa mereka tidak takut gosip?’ batin Azka, yang merasa agak aneh dengan sikap mereka.
Mereka terlihat berpisah, dengan Arga yang lebih dulu melangkah ke arah Alea. Sementara itu, si gadis hanya bisa memandang Alea dengan sangat sinis.
Dari pandangan sinisnya itu, Azka bisa mengasumsikan kalau gadis ini memang sudah mengenal sosok Alea.
‘Mungkin benar, mereka diam-diam selingkuh di belakang Alea. Kasihan sekali nasib Alea,’ batin Azka, yang malah memikirkan hal yang aneh-aneh saja sejak tadi.
Arga dan Alea pun pergi dari sana, sehingga membuat Azka terkejut karena tidak bisa melihat mereka lagi.
‘Oh tidak! Aku kehilangan jejak mereka!’ batin Azka, yang lalu menuju ke arah gerbang sekolah untuk menyusul mereka.
***
__ADS_1