
Melihat Ariel yang sudah menuju ke arah mobil, Arga pun bergegas untuk menemukan keberadaan Alea.
Arga berlarian ke arah perginya Alea, dengan pandangan yang terus ia edarkan ke segala arah.
Ternyata, Alea sedang berlarian masuk ke dalam sebuah ruangan kelas. Arga yang mendapatinya, lalu segera berlarian ke arah ruangan kelas tersebut.
Sampailah Alea di dalam ruangan kelas Ariel. Ia sengaja berlarian ke arah ruangan kelas, untuk menghindari Arga agar tidak bisa bertemu kembali. Ia sadar, jika ia berlarian ke arah gerbang, dan benar-benar pergi dari sana, ia mungkin akan kembali bertemu dengan Arga.
‘Sepertinya di sini akan aman,’ batin Alea, yang merasa sudah lebih tenang saat ini.
Ia duduk di sebuah kursi, tempat biasa ia duduk. Punggunnya ia sandarkan pada bagian sandaran kursi, dan berusaha untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Tak disangka, orang yang sudah lama sekali tidak ia lihat, hari ini kembali ia lihat, dengan penampilan yang sudah sangat berbeda dari saat masih bersamanya. Arga juga sudah memiliki anak, membuat Alea merasa sangat sakit mendengarnya.
Alea menghela napasnya dengan panjang, ‘Dia sudah menikah dan memiliki anak?’ batin Alea, yang benar-benar tidak mengerti dengan keadaan.
Hubungan yang Arga katakan padanya, bukanlah sebuah hubungan bisnis biasa. Bahkan mereka sudah menikah, dan sudah memiliki anak. Betapa sakitnya hati Alea, ketika mengetahui kalau ternyata anak yang sangat membuatnya penasaran, adalah anak dari mantan kekasihnya sendiri.
“Pernikahan itu ... bukan pernikahan bisnis, ‘kan?” gumam Alea, sembari berusaha untuk menahan air matanya.
“Itu memang benar pernikahan bisnis!” ujar seseorang dari arah pintu masuk, yang lantas mengejutkan Alea.
Alea lantas memandang ke arah pintu masuk ruangan, dan menemukan Arga di sana yang sedang menatapnya dengan dalam.
Melihat kedatangan Arga, Alea pun lantas terkejut, karena ternyata Arga berhasil menemukannya di tempat ini.
Alea bangkit dari kursi tempat ia bersandar, “Arga? Kamu ngapain di sini?” tanya Alea bingung.
Arga melangkah ke arah Alea, membuat Alea mendelik kaget dan mundur beberapa langkah dari hadapan Arga.
__ADS_1
“Jangan mendekat!” pekik Alea, tetapi Arga sama sekali tak menghiraukan ucapannya itu.
“Alea, aku sangat rindu kamu!” ujar Arga, yang masih tetap melangkah ke arah Alea.
Karena sudah mendapatkan rasa sakit dari Arga, Alea merasa sangat kesal dan sakit hatinya menjadi sangat mendalam.
“Aku bilang jangan mendekat!” pekik Alea lagi, Arga malah semakin melawan dan lantas memeluk Alea dengan sangat erat.
Saking eratnya Arga memeluk, Alea sampai tidak bisa bernapas dengan benar. Alea menolak dengan cara memberontak, tetapi Arga membuatnya tetap berada di dalam pelukannya.
“Jangan dilepas, aku mohon!” ujar Arga, berusaha untuk membuat Alea tetap pada posisinya.
Karena sudah lama tidak bertemu dengan Arga, Alea merasa sangat nyaman berada dalam pelukannya. Alea kesal dengan dirinya sendiri, karena ia sama sekali tidak bisa menolak Arga.
‘Kenapa aku gak bisa nolak dia? Padahal, dia udah nyakitin aku!’ batin Alea, yang benar-benar merasa sangat aneh dengan perasaannya.
“Aku gak ada niatan untuk jauhin kamu, Alea. Di hari itu, aku sama sekali gak tau apa pun. Ayah nyuruh aku ngurus semua keperluan, untuk keberangkatan kami ke kota ini. Aku sama sekali gak tau, dan baru tau kalau kamu hari itu ternyata meminta untuk bertemu. Besoknya, saat aku masuk ke sekolah untuk berpamitan dengan kamu dan yang lainnya, ternyata aku udah gak menemukan kamu,” ujar Arga menjelaskan, membuat Alea mendelik mendengarnya.
“Siapa yang jawab pesan singkat yang aku kirim?” tanya Alea, masih penasaran dengan jawabannya.
“Azura.”
Mendengar jawaban dari Arga, sontak membuat Alea lemas. Ternyata, ini hanyalah taktik Azura, agar bisa mencelakakan dirinya saat itu.
Alea melepaskan dirinya dari pelukan Arga, lalu memandangnya dengan dalam. “Kamu tau, gak? Hari di mana aku ngajak kamu ketemu, aku ingin kasih tau kamu satu hal,” ujarnya, membuat Arga penasaran mendengarnya.
Keningnya mengerut, “Kamu mau kasih tau apa?” tanya Arga penasaran.
“Aku ... hamil anakmu!” jawab Alea tanpa adanya keraguan, yang sontak membuat Arga terkejut ketika mendengarnya.
__ADS_1
“Apa?” pekik Arga, yang benar-benar tidak percaya dengan apa yang Alea katakan.
“Ya, aku hamil anak kamu. Usianya sudah sekitar 3 minggu. Karena aku mengira kamu yang balas pesanku, jadi aku datang seorang diri ke gedung belakang sekolah. Saat aku nunggu kamu, ternyata ada seseorang yang ngunci pintu ruangan itu. Aku kaget, dan aku lari ke arah pintu. Aku jatuh, dan kehilangan anak kita,” papar Alea menjelaskan, semakin membuat Arga merasa sangat terkejut.
Sejenak mereka saling pandang, karena Arga yang memang tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Ia benar-benar speechless, karena mendengar ucapan yang Alea ungkapkan itu.
Alea tersenyum pahit, “Setelahnya, kamu gak cari aku. Aku juga gak bisa hubungin kamu, karena semua akses sudah kamu blokir. Aku pasrah, dan putus asa. Beruntung Azka dan keluarganya menguatkan aku, karena aku sama sekali gak bisa cerita sama ayah,” ujar Alea lagi, membuat Arga memandangnya dengan sendu.
“Bocah itu, ya?”
Alea mengangguk mantap, “Cuma dia yang ada, di saat aku terpuruk 6 tahun lalu. Aku bisa melupakan kamu dalam waktu 6 tahun, tetapi hanya dengan melihat kamu selama 6 detik, perasaan itu muncul lagi, ketika semua perasaan sudah tertata dengan rapi,” ujarnya, semakin membuat Arga merasa sangat bersalah.
Tangannya meraih tangan Alea, tetapi Alea lekas menarik tangannya karena tak ingin Arga menyentuhnya.
Hal itu membuat Arga memandangnya dengan sendu.
“Aku sama sekali gak ada niat buat jauhin kamu, Al. Aku ‘kan sudah pernah bilang, kita akan tetap bersama, apa pun yang terjadi nantinya,” ujar Arga, sontak membuat Alea memandang dengan tidak percaya.
Tidak bisa dipungkiri, Alea juga masih sangat menyayangi Arga. 6 tahun melupakan yang sia-sia, jika pada akhirnya mereka bertemu kembali seperti ini.
Apakah mungkin, Alea benar-benar bisa melupakan Arga?
“Aku masih sangat sayang sama kamu, Al. Pernikahan aku dan Azura, hanya karena masalah bisnis. Mereka mempercepat pernikahan kami, dan langsung memindahkan kami ke kota ini. Aku bahkan masih belum lulus sekolah, tetapi mereka menyekolahkan guru privat di rumah,” ujar Arga menjelaskan, Alea sedikit banyaknya luluh mendengar ucapan Arga tersebut.
Alea terdiam sejenak, karena ia ingin melihat kesungguhan Arga di hadapannya.
“Kita masih bisa bersama, Al. Pernikahan ini hanyalah topeng, agar binsis kedua keluarga berjalan dengan lancar. Kita bisa memulai dari awal, jika kamu berkenan. Setelah kontrak pernikahan kami selesai, aku akan segera melamar kamu,” ujar Arga, sontak membuat Alea mendelik tak percaya mendengarnya.
“Apa?”
__ADS_1