Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Kejadian Yang Tidak Baik


__ADS_3

Martin bingung dengan apa yang Arga katakan, “Apa yang kamu maksud?” tanyanya.


“Ada penyusup! Dia datang ke sini, tidak bawa undangan!” ujar Arga menjelaskan, membuat semua orang menjadi begitu khawatir dengan keadaan.


Martin yang mendengar ada penyusup di dalam pestanya, sontak terkejut karena penjagaan dari para pelayan dan panitia yang kurang ketat, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang yang hadir di pesta tersebut.


“Kenapa bisa ada penyusup di pestaku?!” pekik Martin, sontak membuat Azka menjadi gugup mendengarnya.


Azka sedikit takut, karena ia merasa bersalah sudah masuk ke rumah dan pesta orang tanpa izin dari pemiliknya. Namun, bukan tanpa sebab ia melakukan semua itu.


Itu semua karena Alea.


Para pelayan dan juga panitia yang berjaga, segera menghampiri ke arah Martin. Mereka merasa bersalah, karena sudah membuat suasana pesta menjadi kacau.


“Mana penyusupnya?”

__ADS_1


Arga memandang sinis ke arah Azka, kemudian menunjuknya dengan kasar.


“Ini dia penyusupnya! Dia masuk tanpa undangan, entah bagaimana caranya dia masuk!” ujar Arga, yang merasa sangat senang dengan keadaan yang seperti ini.


“Kalian, bawa orang ini keluar dari rumah ini!” suruh Martin, yang sudah terlanjur emosi karenanya.


Martin khawatir, jika penyusup ini membocorkan rahasia tentang pesta bertema dewasa yang sudah ia selenggarakan ini.


Lagi-lagi Azka kalah dengan lelaki bernama Arga itu. Tanpa melakukan perlawanan, Azka pun dipaksa untuk pergi dari tempat menjijikan itu.


Ketika berjalan melewati Arga, pandangan Azka tak pernah lepas darinya. Matanya sinis, sampai sempat membuat Arga bergidik takut karenanya.


‘Sialan anak itu! Kenapa dia tahu kalau kita ada di sini?’ batin Arga, yang merasa heran dengan keadaan yang ada.


Martin memandang ke arah para tamu yang sudah hadir, “Maaf semua, atas ketidaknyamanan yang ada. Silakan dilanjutkan party ini!” ujarnya memberikan aba-aba kepada mereka.

__ADS_1


Karena merasa sudah tidak ada halangan lagi, Arga pun menyunggingkan senyumnya, lalu segera membawa Alea menuju ke sebuah kamar.


Rencana yang ia susun sudah hampir berhasil. Hanya tinggal membawa masuk Alea ke dalam kamar, dan semua yang ia rencanakan pasti akan terjadi dalam beberapa jam ke depan.


Sementara itu di sana, Azka sudah dibawa paksa oleh mereka menuju ke arah luar gerbang rumah dari Martin. Azka merasa sangat kesal, karena ia tidak bisa menolong gadis yang tidak berdosa itu.


Para pelayan itu mendorong kasar Azka ke arah luar pagar, “Keluar kamu dari sini! Jangan kacaukan pesta malam ini!” bentaknya, yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Azka.


Mereka menutup pagar rumah, kemudian meninggalkan Azka di sana seorang diri. Azka merasa tak tenang, karena masih ada Alea di dalam yang mungkin saja membutuhkan pertolongannya.


“Bagaimana nasib Alea, ya?” gumam Azka, yang memang sudah tahu tentang kebejatan yang akan Arga lakukan.


Pasti tidak jauh dengan apa yang Arga lakukan pada gadis yang ia temui di gedung tua itu.


Perang batin mulai muncul di hati Azka, karena ia tidak bisa melihat Alea mengalami pelecehan seperti ini. Namun, di satu sisi mungkin saja Alea merasa sangat senang melakukannya. Bisa saja terjadi, karena mereka adalah sepasang insan yang sedang dimabuk cinta.

__ADS_1


“Ah, kenapa aku harus repot-repot? Mereka katanya pacaran? Mungkin mereka sudah biasa melakukan hal ini? Aku saja yang tidak tahu lebih dalam hubungan antara mereka!” gumam Azka, yang merasa seperti orang bodoh saat ini.


__ADS_2