Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Selangkah Lebih Maju


__ADS_3

Karena kejadian itu, Azka menjadi tidak bisa melakukan apa pun lagi saat ini. Ia hanya bisa memantau Alea dari jauh, karena ia masih harus menjaga Alea.


Azka bukan tipe orang yang senang melakukan hal seperti ini. Namun, ia harus melakukannya, demi menjaga Alea agar tidak terperosok kembali ke dalam lubang yang sama.


Setiap Alea melakukan sesuatu, selalu Azka pantau. Meskipun terbatas, hanya saat berangkat dan pulang kerja saja.


Beberapa hari ini Azka tidak menemukan aktivitas aneh Alea. Ia tidak melihat Alea yang pergi ke suatu tempat, setelah selesai mengajar. Pasti ia segera pulang ke apartemennya.


Saat ini, Azka melihat ke arah Alea yang berjalan keluar dari lingkungan tempat ia bekerja. Ia berjalan tidak melakukan apa pun selain melangkah menuju ke arah apartemennya.


“Dia tidak melakukan apa pun. Jadi, apa yang harus aku khawatirkan?” gumam Azka, merasa sangat heran dengan apa yang ia takutkan dari Alea.


Padahal, Alea terlihat sangat baik-baik saja tanpa kehadirannya. Namun, tetap saja Azka merasa sangat tidak tenang, karena ia memiliki firasat yang kuat dengan Alea.


“Beberapa hari ini, Arga tidak terlihat sedang bersamanya. Apa memang dia sudah tidak berhubungan lagi dengan Arga?” gumam Azka, yang memang tidak pernah lagi melihat Alea bersama dengan Azka, sejak hari di mana ia menjemputnya ke tempat kerja Alea.


Hal yang Azka jalani benar-benar sangat rumit. Untuk melindungi orang yang ia sayangi saja, ia harus melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan.


Bertindak seperti seorang mata-mata, yang terus mengawasi gerak-gerik Alea.


Azka menghela napasnya dengan panjang, “Baiklah, cukup sampai di sini saja. Lagipula, dia sudah masuk ke apartemennya,” gumamnya, yang lalu segera meninggalkan tempat tersebut, untuk kembali ke arah apartemennya.


Sementara itu, Alea memang sudah masuk ke dalam gedung apartemennya. Ia masuk ke dalam ruangan apartemennya, kemudian segera melangkah menuju ke arah sofanya.


Sudah beberapa hari ini ia sama sekali tidak dihubungi oleh Arga. Ia merasa sangat sendu, karena ternyata Arga kembali memutuskan hubungan mereka, membuat Alea merasa sangat galau saat ini.


Alea menghela napasnya dengan panjang, “Ah, ke mana perginya dia? Kenapa dia sama sekali gak hubungin aku?” gumamnya, yang merasa sangat terpuruk, karena Arga tidak memberikannya kabar.


Cinta memang membuat Alea buta. Ia merasa tidak bergairah, ketika mengetahui Arga sudah tidak menghubunginya lagi.


Di sisi lain, Arga ternyata sudah melangkah masuk menuju ke dalam gedung apartemen Alea. Dari arah yang lumayan jauh, terlihat sebuah mobil berwarna hitam, yang pernah hampir menabrak Alea, terparkir di sana.

__ADS_1


Kaca mobil tersebut turun, dan terlihat seorang yang sangat mengenal Arga.


Ya! Dia adalah Azura, istri dari Arga. Ia membuntuti Arga ke tempat ini, dan melihat apa saja yang ia kerjakan. Karena merasa penasaran, Azura pun hanya bisa memantau Arga dari kejauhan.


Arga bergerak masuk menuju ke ruangan apartemen Alea. Ia merasa harus bisa melakukan hal yang membuat luluh hati Alea.


Di tangannya, kini sudah ada sebuah kotak kecil berwarna merah. Ia sengaja memberikannya kepada Alea, agar Alea tidak berpikir yang macam-macam tentang hubungan mereka itu.


Setidaknya, Arga mengantisipasi keretakan hubungan mereka, dengan mengikat Alea lebih dulu.


Saking khawatirnya ketahuan dengan istrinya, Arga sampai tidak sempat menghubungi Alea jika ia hendak menuju ke apartemen Alea.


Arga sampai di depan pintu ruangan apartemen Alea. Ia menekan bel dengan sangat cepat, sehingga membuat Alea yang ada di dalam ruangan, menjadi sangat heran karenanya.


Alea berpikir kalau itu adalah Azka, yang sengaja ingin membuatnya kesal. Namun, saat ia membuka pintu tersebut, orang yang ia lihat adalah Arga.


Matanya mendelik kaget melihatnya, “Arga?” gumam Alea, Arga segera masuk ke dalam apartemen tersebut.


Arga segera menutup pintu rapat-rapat, setelah memeriksa keadaan sekitarnya. Arga kembali memandang ke arah Alea dengan tegas, kemudian segera memeluknya dengan sangat erat.


Pelukan itu disambut hangat oleh Alea, yang juga menunggu kehadiran Arga di sisinya. Ia membalas pelukan Arga, dan menyembunyikan wajahnya di dada Arga.


“Aku juga rindu kamu!” gumam Alea, yang benar-benar sangat merindukan Arga.


Memang benar, walaupun Alea sangat sedih, Arga selalu mampu menjadi obat dari kesedihannya. Ia merasa Arga mampu mengubah seluruh dunianya.


Mereka sejenak saling pandang, lalu kembali berpelukan dengan erat satu sama lain.


“Kamu dari mana aja beberapa hari ini? Pulang gak pamit, gak ada kabar juga,” tanya Alea, membuat Arga menghela napasnya dengan panjang.


“Karena hal itu, aku sampai diburu dan diinterogasi oleh Azura. Aku terpaksa membuang handphone-ku di jalan, agar seolah-olah aku benar kehilangan handphone-ku. Itu sebabnya aku gak bisa menghubungi kamu,” papar Arga menjelaskan.

__ADS_1


Alea pun mengerti, setelah diberi penjelasan seperti itu oleh Arga. Ia merasa sangat kesal, tetapi harus bisa meredam semua rasa kesal yang ia rasakan terhadap Arga.


“Pantesan,” gumam Alea, yang hanya bisa mengatakan hal itu pada Arga.


Arga merenggangkan pelukannya, dan memandang dalam ke arah Alea. Ia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah tersebut, dan segera menunjukkannya pada Alea.


Betapa terkejutnya Alea, karena ia sudah melihat sesuatu yang membuatnya merasa sangat tidak bisa berkata apa pun.


“Apa ini, Ga?” tanya Alea yang merasa sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


Arga menyeringai bingung, “Ini adalah cincin, Alea. Apa kamu gak tahu namanya?” selorohnya, membuat air mata Alea turun dengan derasnya karena merasa sangat tersentuh dengan pemberian yang Arga berikan.


Melihat reaksi Alea yang sangat senang, Arga pun hanya bisa memeluknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.


“Aku belum bisa sama kamu, Al. Aku masih terikat kontrak dengan Azura. Tapi apakah ini sudah cukup membuktikan, ketulusan aku yang benar-benar ingin melamar kamu?” ujar Arga, Alea berusaha menguatkan perasaannya lagi terhadap Arga.


Dengan hanya menunjukkan sebuah cincin di hadapan Alea, Arga sudah sepenuhnya membuat Alea menjadi sangat luluh. Ia merasa sangat senang, karena bisa memakai cincin yang diberikan oleh Arga padanya.


“Aku akan nunggu kamu, Arga!” ujar Alea, yang saking senangnya lalu kemudian memeluk Arga lagi dengan erat.


Mereka sama-sama meleburkan perasaan mereka di dalam pelukan tersebut. Sekian lama berpelukan, Alea teringat dengan sesuatu.


“Apa kamu gak akan ketahuan, kalau kamu ada di sini?” tanya Alea, Arga menggelengkan kecil kepalanya.


“Azura hari ini terbang ke Amerika, untuk mengurus cabang yang ada di sana. Dia tidak ada di sini,” ujar Arga, membuat Alea merasa sangat senang mendengarnya.


“Baiklah, kau milikku malam ini!” ujar Alea, sembari tetap memeluk erat Arga.


Arga yang sudah rindu dengan belaian Alea, lantas segera membopong Alea untuk ke arah ranjang tidurnya.


Mereka kembali mengulang hal yang membuat perasaan mereka menggelora, dan sama sekali tidak membuat batasan.

__ADS_1


***



__ADS_2