
Alea semakin tak terkendali, dengan terus menyunggut bibir manis Azka. Hasrat seorang lelaki, tidak bisa tertahan untuk situasi seperti ini. Azka sesekali menikmati kecupan dan ******* yang Alea berikan, bahkan turun sampai ke lehernya.
Alea mengubah posisinya menjadi lebih dominan di atas Azka. Ia terlihat sudah benar-benar tidak mengenakan kemeja. Rok selututnya pun ia tanggalkan, bersamaan dengan celana pendek dan juga pakaian lainnya. Kini, ia benar-benar sangat polos, tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya.
Melihat sikap Alea yang sudah sangat berani, membuat Azka menjadi sangat kagum kepadanya. Ia baru saja pertama kali melihat Alea seperti ini, dan ini juga adalah pertama kalinya ia melihat seorang wanita yang dengan sangat berani memamerkan apa yang ia miliki di hadapannya.
Bagaimana dirinya tak tergoda?
“Baiklah, aku tidak memaksamu, Al. Kau yang bertindak lebih dulu,” gumam Azka, yang mulai menanggalkan dasi dan kancing kemeja hijau muda yang ia kenakan.
Dada bidangnya terlihat, meskipun luka lebam akibat terkena pukulan para preman tadi masih terasa sakitnya, tetapi semua itu seakan tak ia rasakan. Yang ia ketahui hanyalah hawa nafsunya bersama dengan Alea saat ini, yang harus segera tuntas.
__ADS_1
Jika tidak, ia tidak tahu akan bagaimana jadinya dirinya dan juga Alea.
Mereka mulai mencicipi satu sama lain, dengan kecupan kepemilikan yang selalu Azka tinggalkan di hampir seluruh bagian tubuh dari Alea, saking cintanya ia dengan Alea.
Mereka saling menyatu, sehingga membuat Alea mengerang, saking sudah memuncaknya perasaan yang ia rasakan. Hal itu ternyata tuntas, karena Azka yang juga sudah terpacu dengan nafsunya, yang berhasil membuat Alea merasakan kesenangan yang kini mencapai puncaknya.
“Ah!” teriak mereka bersamaan, karena mereka sudah sama-sama merasakan titik puncak dari emosi yang mereka miliki.
BRUK!
Ketika mulai mendapatkan kembali pikiran dan akal sehatnya, Azka menoleh ke arah Alea yang saat ini tertidur dalam pelukannya. Ia merasa ini adalah malam yang sangat indah baginya, walaupun hanya sebuah kesalahan saja.
__ADS_1
‘Bagiku, ini sudah sangat cukup. Entah cinta atau nafsu yang aku miliki padamu, tetapi aku merasa nyaman dan bahagia bisa melakukannya bersama denganmu,’ batin Azka yang sedikit tersenyum sembari memandang wajah Alea yang sedikit tertekuk.
‘Kenapa beban yang kau derita sangat berat? Kenapa kau sampai harus seperti ini, Al? Apa tidak bisa meninggalkan Arga, dan mulai mencintaiku saja?’ batin Azka, yang mulai menyesalkan apa yang terjadi di antara mereka.
Hanya dengan merasakan sekali tubuh Alea, membuat Azka menjadi sangat egois saat ini terhadap perasaan dan hati Alea, yang hanya untuk Arga. Ia merasa, bahwa Alea hanya akan bahagia jika bersama dengannya.
Bukankah itu egois?
‘Biarkanlah! Itu lebih baik daripada harus bersama dengan lelaki yang sudah memiliki istri,’ batin Azka yang menganggap dirinya benar, dan tidak ada saingannya sama sekali.
‘Hanya aku yang bisa membuat Alea bahagia. Aku tidak ingin melihatnya sampai terluka lagi seperti ini. Aku juga tidak ingin sampai hatinya dipertaruhkan untuk sebuah kebahagiaan palsu, yang tidak akan Arga berikan padanya,’ batin Azka lagi, sembari mengusap lembut rambut Alea.
__ADS_1
Karena sudah terlalu lelah, ia pun akhirnya menutup matanya dan sama-sama tertidur dalam pelukan yang sama dengan Alea.
***