Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Kehilangan Semua


__ADS_3

Saat ini sudah larut malam. Azka baru saja sampai di rumahnya, karena ia tidak bisa mengemudikan motornya dengan cepat.


Hal itu karena, Azka tidak bisa berfokus pada jalanan yang ia lewati. Ia hanya bisa memikirkan keadaan Alea saja.


Azka sudah pasti paham dengan apa yang terjadi dengan Alea. Hanya saja permasalahannya, ia sangat yakin kalau mereka ternyata sudah menjalin hubungan sampai sejauh itu.


‘Dia ternyata bukan gadis baik-baik,’ batin Azka, sembari berusaha melepaskan helm yang ia kenakan.


Azka menghela napasnya dengan panjang, karena ia sudah menyia-nyiakan waktunya untuk seorang gadis yang sama sekali tidak baik untuknya.


“Padahal aku ingin sekali menolongnya. Entah kenapa aku rasa mereka sudah sering melakukan hal tersebut,” gumam Azka, yang merasa sangat bodoh di hadapan mereka.


Dengan langkah yang lunglai, Azka pun masuk ke dalam rumah dengan keadaan wajah yang sangat suram. Entah apa yang ia lakukan, ingin menolong orang yang sedang dimabuk cinta.


‘Sungguh aneh! Kenapa aku harus menolong mereka, kalau mereka sama-sama menginginkan hal itu?’ batin Azka, yang merasa sangat bodoh seperti seorang badut.

__ADS_1


Di sofa, ternyata Bunda dari Azka sudah menunggunya. Ketika ia melihat kedatangan Azka, ia pun segera bangkit dan memandangnya dengan tatapan yang sangat cemas.


Azka juga menyadari keberadaan Bunda, sehingga ia hanya bisa berdiri diam di hadapan orang tuanya itu.


“Syukurlah kamu sudah sampai di rumah,” gumam sang Bunda, yang benar-benar sangat khawatir dengan keselamatan putra sematawayangnya itu.


Azka merasa sangat bersalah dengan orang tuanya, karena sudah membuatnya khawatir sampai seperti itu.


Azka menunduk sendu, “Maafin Azka, Bunda. Azka pulang malam, tapi gak ngabarin Bunda,” ujarnya, membuat ibunya mengelus lembut bahunya.


“Yang paling penting, kamu sudah datang. Bunda sudah buatkan makan malam untuk kamu,” ujarnya.


Biasanya, jika Azka belum sampai di rumah dan tidak memberi kabar, mereka selalu menunggu Azka kembali. Mereka sama sekali belum memulai makan malam, karena bagi mereka kebersamaan itu sangat penting.


Bunda menggelengkan kecil kepalanya, “Belum,” jawabnya.

__ADS_1


Hal itu sudah bisa Azka tebak, karena memang beberapa kali terulang hal seperti ini. Azka lupa memberi kabar kepada mereka, sehingga mereka terus menunggunya sampai ia kembali ke rumah.


“Maaf ya, Bunda. Gara-gara Azka, Bunda sama Ayah belum makan.”


Sang Bunda mengelus lembut rambut Azka, “Sudahlah. Kamu rapikan badan dulu, setelah itu langsung ke meja makan, ya? Bunda sama Ayah nunggu kamu,” ujarnya, membuat Azka mengangguk kecil karenanya.


“Ya sudah, Azka mandi dulu ya, Bunda.”


Azka pun melangkah menuju ke arah kamarnya, untuk sekadar merapikan tubuhnya. Karena sudah terlalu lama membuat mereka menunggu, Azka tidak lama-lama berada di kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Azka pun segera menuju ke arah meja makan. Di sana, sudah ada Ayah dan Bunda yang sudah menunggunya.


“Maaf kalau Azka mandinya lama,” gumam Azka, sembari duduk pada kursinya.


“Gak apa-apa. Ayo kita makan,” ujar ayahnya.

__ADS_1


Mereka pun memulai untuk makan malam bersama. Makan malam itu terjadi secara hikmat, dan sangat teratur.


Karena masih teringat dengan kejadian Alea tadi, Azka hanya bisa memainkan nasi yang ada di piringnya saja. Nafsu makannya seakan hilang, saking tidak bisa ia menerima semua yang terjadi dengan Alea.


__ADS_2