Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Rasa Penasaran Alea


__ADS_3

Mereka sudah sampai di sebuah rumah makan. Azka memesan beberapa makan, yang biasa mereka makan bersama.


Sembari menunggu makanan tiba, Alea dan Azka sedikit berbincang hangat.


“Bagaimana harimu? Apa menyenangkan menjadi guru?” tanya Azka, yang ingin mengetahui tentang pekerjaan Alea saat ini.


Alea hanya bisa tersenyum, karena ia masih sungkan dengan jawaban yang akan ia katakan.


“Bagimana ya menjelaskannya ....” Alea memikirkan kata yang cocok, untuk mengawali perbincangan mereka, mengenai topik pembicaraan yang dibahas.


Azka tertawa kecil melihat Alea yang kebingungan itu. “Ya, pelan-pelan saja ceritanya.”


Setelah mengambil beberapa jeda, Alea pun memandang dalam ke arah Azka.


“Ya, seperti yang kamu ketuahui, pasti ada risiko yang harus diterima. Pekerjaan apa pun itu, pasti ada yang namanya risiko,” ujar Azka, Alea hanya bisa tersenyum mendengarnya.


Alea terdiam sejenak, sembari tetap memikirkannya.


“Jadi gini ... ada seorang anak yang kelakuannya seperti orang dewasa. Aku gak tau, kenapa dia begitu kaku, dan ucapannya juga sangat kaku. Tidak seperti anak usia 5 tahun pada umumnya,” ungkap Alea menjelaskan kepada Azka, tentang sebuah permasalahan yang sedang ia pikirkan.


Azka memandang bingung ke arah Alea, “Maksudnya bagaimana?” tanyanya.


“Jadi dia selalu menyendiri. Ditawari permen pun dia menolak. Alasannya karena permen akan merusak gigi. Mana ada anak kecil yang akan menolak, jika diberikan sebuah permen? Aku rasa hanya dia,” ujar Alea menjelaskan, Azka menjadi semakin tidak mengerti mendengar penjelasannya.


Azka mendelik heran, “Bagaimana bisa ada anak kecil berusia 5 tahun, yang seperti itu?” ujarnya yang tidak percaya dengan apa yang Alea katakan.


Mata Alea membulat tajam, “Benar, Azka! Aku gak bohong! Ada anak kecil seperti itu. Dia sepertinya tertekan, jadi aku agak tertarik dengan sikapnya itu. Dia terlalu ... perfectionist!” ujarnya membenarkan.


Sejujurnya Azka sangat tidak percaya dengan apa yang Alea katakan. Pasalnya, anak kecil yang sering Azka temui, pasti selalu memiliki sisi sebagaimana anak kecil pada umumnya.


“Apa ada selain dia yang seperti itu?” tanya Azka, Alea menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada. Hanya dia saja. Dia sepertinya terlalu menjalani peraturan yang sangat ketat di keluarganya. Sarah bilang sama aku begitu,” ujar Alea menjelaskan.


“Sarah?”


“Ya, teman sejawat,” ujar Alea menjelaskan, Azka hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya kecil.

__ADS_1


“Permisi,” sapa seseorang dari sana, yang ternyata adalah seorang pelayan yang sudah membawakan makanan yang mereka pesan.


Perhatian mereka segera teralihkan ke arah pelayan tersebut.


“Silakan,” ujar Alea, sembari menyingkirkan tas kecil yang ada di atas meja.


Pelayan itu menyajikan makanan, kemudian dengan ramah memandang ke arah mereka.


“Pesanan sudah keluar semua. Apa ada yang mau ditambah?”


“Tidak ada,” jawab Alea dengan singkat.


“Baik, saya permisi dulu.” Sang pelayan meninggalkan mereka di sana.


Azka meraih perkakas makannya, kemudian bersiap untuk menyantap makanannya. Akan tetapi, Alea masih saja diam, pandangannya tertuju ke arah bawah, seperti sedang berpikir keras dengan apa yang sedang ia pikirkan.


Azka menyadarinya, dan mengusap lembut bahu Alea, membuat kesadaran Alea kembali seperti semula.


“Makan dulu,” suruh Azka, Alea mengangguk kecil mendengarnya.


Mereka pun menyantap makanan yang ada, dengan pikiran Alea yang terus memikirkan tentang anak bernama Ariel itu.


Alea melangkah menuju ke arah kelas. Di sana, ternyata sudah ada Ariel yang datang sangat pagi, sama seperti kemarin.


Sejenak Alea menghentikan langkahnya, dan segera memandang ke arah Ariel.


‘Dia sudah datang sepagi ini? Sama seperti kemarin. Apa memang setiap harinya ia selalu datang di pagi hari?’ batin Alea, merasa sangat penasaran dengan Ariel.


Rasa penasarannya teralihkan, ketika satu per satu murid berdatangan ke kelasnya.


Alea mengurungkan niatnya, kemudian segera masuk ke dalam kelas tersebut untuk segera menyiapkan peralatan yang ia butuhkan.


Saat pulang sekolah, Ariel pun nampak terlihat duduk di ayunan tersebut. Sepertinya sudah menjadi rutinitas Ariel, karena ia yang tidak ingin bersosialisasi dengan orang lain.


Alea memandang dari depan koridor kelas, merasa sangat iba dengan Ariel yang masa kecilnya sangat berbeda dengan anak kecil seusianya.


‘Dia benar-benar seorang yang introvert. Dia melakukan hal yang sama setiap harinya, tidak mau bersosialisasi, dan hanya datang untuk menerima pelajaran saja,’ batin Alea lagi, yang benar-benar semakin penasaran dengan sosok Ariel.

__ADS_1


Dengan rasa penasarannya yang menggebu, Alea pun segera melangkah ke arah Ariel dan duduk pada ayunan yang berada di sebelahnya.


Bocah berusia 5 tahun itu hanya menoleh selama 5 detik, kemudian segera memandang ke arah hadapannya kembali.


Alea seperti sudah terbiasa dengan sikapnya itu. Ia sudah mengerti, dengan apa yang Ariel lakukan di hadapannya.


“Kamu nunggu siapa?” tanya Alea berbasa-basi, untuk membuka percakapan di antara mereka.


“Bukannya kamu sudah tau?” ujar Ariel datar, tanpa memandang ke arah Alea.


Mendengar jawabannya itu, benar-benar membuat Alea mengelus dada.


‘Aku tahu jawabannya, tapi apa salahnya berbasa-basi sedikit sebelum memulai percakapan? Kenapa dia terlalu kaku untuk anak seusianya?’ batin Alea, sembari tetap menghela napasnya panjang.


Alea kembali memokuskan pandangannya ke arah Ariel, “How’s your day? Apa ada hal yang menyenangkan saat pelajaran tadi?” tanyanya, masih berusaha untuk mendekati Ariel.


“Tidak ada yang menarik,” jawabnya lagi, masih dengan nada yang datar.


Kali ini, Alea benar-benar dibuat kesal dengan sikap dingin bocah ini. Namun, Alea lagi-lagi harus menahan emosinya dengan tidak mengeluarkan perkataan, atau ekspresi apa pun di hadapan Ariel.


Tangan Alea merogoh saku jasnya. Ia mengambil beberapa permen cokelat yang selalu ia bawa setiap harinya. Ia mengulurkannya ke arah Ariel, membuat Ariel menoleh dan memandang ke arah Alea.


“Untuk kamu,” ucap Alea, membuat Ariel memandang ke arah permen yang Alea ulurkan padanya.


Sejenak Ariel memandang ke arah permen tersebut, dan berpikir sesuatu di dalam hatinya, yang sama sekali tidak Alea ketahui. Alea hanya bisa memandangnya saja, dan menunggu respon dari Ariel.


“Terima kasih!” ujar sinis seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan mereka.


Alea terkejut, saat orang itu tiba-tiba saja mengambil permen tersebut. Alea memandangnya dengan mata yang mendelik, merasa sangat aneh memandang ke arah orang yang tak lain adalah pelayan dari Ariel.


“Tuan Muda kami tidak memakan makanan seperti ini,” ujarnya, membuat Alea semakin takut saja mendengarnya.


Pelayan itu memandang ke arah Ariel, “Mari pulang, Tuan Muda.”


Ariel bangkit dari tempat duduknya, kemudian berlalu pergi bersama dengan pelayannya, meninggalkan Alea di sana.


Alea pun bangkit dari tempatnya, kemudian memandang ke arah Ariel yang berjalan bersama dengan pelayannya, menuju ke sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang.

__ADS_1



__ADS_2