Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Tak Berpikir Panjang 2


__ADS_3

Azka menyadari Arga yang berlarian karena ketakutan. Ia hanya bisa menahan rasa sakitnya, dan juga berusaha untuk bangkit dari lantai yang kotor itu.


‘Kalau aku di sini terus, mungkin gak akan ada orang yang tahu. Aku pasti kehabisan darah!’ batin Azka, yang mau tidak mau harus berusaha untuk bangkit dari sana.


Azka mulai bangkit, dengan keadaan yang kesulitan berjalan tapi tetap berjalan ke luar area angker itu. Paling tidak, harus ada orang yang melihatnya lebih dulu, sampai ia benar-benar merasa bahwa kondisinya aman.


Sekuat tenaga ia melangkah, dengan darah yang sudah mengalir cukup deras pada kepala bagian atasnya. Darahnya sampai mengenai bagian wajah kanannya, sehingga sangat mengganggu penglihatannya.


“Argh!”


Azka masih berusaha untuk melangkah, dan tak lama kemudian ia melihat dengan pandangan yang kabur, ada seseorang di sana yang sedang memperhatikan ke arahnya dengan sangat panik.


‘Syukurlah ada orang di sini!’ batin Azka dengan lega.

__ADS_1


Karena merasa sudah tidak kuat, ia tersungkur lemas dekat area sekolahnya itu. Beruntung ada seseorang yang melihatnya, sehingga langsung mengambil sikap untuk menolong Azka yang sudah terluka parah itu.


***


Azka tersadar dari pingsannya. Perlahan, pandanga matanya menajam, dan sudah tidak kabur lagi seperti tadi. Ia tersadar dan sudah melihat Pras yang menemaninya di sana.


Melihat Azka yang tersadar, Pras merasa sangat khawatir dengan keadaan Azka.


Terlihat Pras yang sudah sangat khawatir dengan keadaan Azka, karena hampir saja Azka kehilangan banyak darah karena luka yang ada di kepalanya. Beruntung ada Pras di sekitar gedung tua itu, yang sedang menikmati cerutunya, sehingga ia bisa bertemu dengan Azka yang sangat membutuhkan pertolongan.


“Untung aja gue ada di sana tadi. Untung aja gue mau ngerokok tadi, kalau enggak mungkin gue gak akan bisa nolong lo,” ujar Pras, dengan wajah yang sudah sangat sedih melihat keadaan temannya yang seperti ini.


Azka berusaha tersenyum, walaupun ia sangat sulit mengontrol bagian tubuhnya karena merasa energinya sudah terkuras habis, hanya dengan satu pukulan yang ia terima dari Arga.

__ADS_1


“Makasih ya udah nolong gue,” gumam Azka dengan nada bicara yang masih rendah, dan tidak bisa terlalu tinggi berbicara lagi saat ini.


Pras merasa hal ini sangat membingungkan. Kondisi Azka yang saat ini, sama sekali tidak ia ketahui penyebabnya.


“Bukan waktunya buat berterima kasih. Sekarang, mending lo cerita apa yang bikin loe begini!” ujar Pras dengan tegas, tetapi Azka masih tidak ingin bicara yang sebenarnya pada Pras.


‘Arga sialan itu! Dia sangat bahaya, sampai mau mencelakakan aku tanpa pikir panjang lagi! Orang seperti ini, harus dijauhkan dari Alea!’ batin Azka, yang merasa sudah tidak ingin melihat apa pun terjadi pada Alea.


“Maaf, Pras. Mungkin kalau sudah saatnya, gue pasti kasih tau semua penyebabnya,” tolak Azka, yang masih tidak ingin memberi tahu kebenarannya pada Pras.


Karena mendengar hal itu, Pras malah menjadi sangat penasaran dan bertambah kekhawatirannya pada Azka. Karena hanya Azka, teman sebangkunya yang sangat baik padanya.


Pras memandangnya dengan dalam, “Kalau ada yang mau celakain lo, jangan sungkan! Bilang ke gue, siapa yang celakain lo sampai begini!” desaknya, yang masih penasaran dengan cerita sesungguhnya dari luka yang Azka dapatkan itu.

__ADS_1


__ADS_2