Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Firasat


__ADS_3

Karena tak hati-hati melangkah, Alea pun sampai tersandung dengan balok-balok kayu, yang ada di sekitarnya.


Alea jatuh tersungkur, rintihannya terdengar sangat tegas, tanda dirinya merasakan sakit yang teramat dahsyat.


Sudah sakit pada kakinya, Alea juga merasakan sakit pada perutnya. Ia memegangi perutnya, hampir tak bisa melakukan apa pun lagi.


“Aww ....” Suara rintihan itu terdengar sangat menyakitkan, sampai matanya membulat setelah ia melihat ke arah kedua kakinya.


“DARAH!!” pekik Alea, yang merasa terkejut melihat ada darah yang mengalir pada kedua sisi kakinya.


Pantas saja Alea merasa sangat kesakitan, ternyata efeknya sampai separah itu baginya.


Tubuhnya lemas tak berdaya, karena ia mengeluarkan darah yang cukup banyak. Ia merasa tidak kuat menahan sakitnya, tetapi ia juga tidak bisa keluar dari ruangan ini.


Mereka mengunci Alea di ruangan ini, sampai tak sengaja membuat Alea terjatuh seperti ini. Alea sudah tidak bisa lagi melakukan apa pun.


“Tolong ....” Alea berusaha bangkit, tetapi rasa sakitnya memaksanya untuk tetap tersungkur pada tempatnya.


Air mata membanjiri pipi Alea, saking tidak kuatnya ia menahan rasa sakit yang ia rasakan.


Tiba-tiba saja teringat seseorang yang pasti bisa membantunya.


Azka.


Segera Alea mengeluarkan handphone-nya, kemudian segera menghubungi Azka untuk meminta bantuannya.


Sementara itu di sana, Azka sedang melakukan praktik gerakan pada club beladiri yang menaunginya. Azka terlihat sangat serius, sampai tidak bisa memegang handphone-nya.


Alea merasa sudah sangat putus asa. Beberapa kali ia menghubungi Azka, tetapi Azka sama sekali tidak menerima telepon darinya.


Alea semakin merintih, “Azka!” pekik Alea, yang benar-benar tidak tahan lagi dengan keadaannya.


Debaran jantung Azka seketika berdenyut kencang, sehingga membuat suatu hentakan yang membuat bagian jantungnya terasa perih dan sakit.


Azka menghentikan sejenak aktivitasnya, sampai membuat senior club beladiri tersebut memerhatikannya dengan saksama.

__ADS_1


“Azka ... ada apa?” tanya lelaki yang disebut senior oleh semua orang.


Pandangannya tertuju padanya, “Ah, gak apa-apa, Senpai!” jawab Azka dengan sedikit terkejut.


Senpai melihat wajah Azka yang sangat pucat, membuatnya merasa bingung dengan apa yang terjadi dengan Azka.


“Are you okay? Sepertinya wajah kamu pucat. Kamu gak mau istirahat sebentar, atau ke UKS?” tanyanya lagi, yang benar-benar memastikan keadaan Azka.


Azka menghela napasnya dengan panjang, “Saya izin istirahat sebentar, Senpai!” ujarnya, yang memang merasa tidak enak.


Entah tidak enak badan, atau tidak enak hati.


“Baiklah,” ujarnya, membuat Azka mengangguk kecil kemudian segera duduk di pinggir lapangan.


Langkahnya gontai, tubuhnya terasa lemas seketika. Entah apa yang terjadi dengan dirinya, ia merasa dirinya tidak baik-baik saja.


Setelah berhasil duduk di pinggir lapangan, Azka pun mengambil handphone-nya yang ada di dalam tasnya. Ia memeriksanya, untuk sekadar melihat informasi, sembari merenggangkan otot-ototnya yang tegang.


Alih-alih mencoba merenggangkan ototnya, ia malah merasa tegang karena melihat 7 panggilan tak terjawab, dari Alea. Azka mengerti, saat ini ada yang tidak beres menimpa Alea.


Sejenak ia berpikir tentang apa yang sedang terjadi pada Alea. Firasatnya mengatakan ada yang tidak baik. Tanpa basa-basi lagi, Azka langsung berlarian keluar dari lapangan indoor ini, membuat semua orang terkejut melihat kepergiannya.


“Azka!” pekik Senpai, yang bingung dengan Azka yang berlarian secepat kilat seperti itu.


Sudah tidak ada yang Azka pedulikan lagi. Meskipun masih mengenakan pakaian beladiri serba putih itu, bahkan tidak mengenakan sepatu, Azka langsung melesat berlarian ke arah ruang kelas Alea.


Kejadian memalukan waktu itu, yang terjadi di kelas Alea, dirasa sudah tidak dipikirkan Azka lagi. Yang ia pikirkan adalah, saat ini ia harus secepatnya bertemu dengan Alea.


Semua orang memerhatikannya yang berlarian aneh seperti dikejar maling. Namun, Azka benar-benar tidak memedulikannya.


Sampailah ia di ruangan kelas Alea. Ia masuk dan membuka pintu dengan kasar, membuat mereka yang sedang berbincang melepas penatnya menerima pelajaran, seketika terkejut dan memandang ke arahnya.


“Di mana Alea?” tanya Azka dengan nada yang sudah sangat khawatir.


Mereka hanya bisa memandang dengan pandangan aneh ke arah Azka, tanpa ingin menjawab pertanyaan Azka.

__ADS_1


Merasa diabaikan, Azka pun menjadi kesal. Meja khusus untuk guru, yang ada di hadapannya ia jungkir balikkan, saking kesalnya ia melihat ekspresi mereka yang dilontarkan padanya.


Meja terjatuh dengan posisi terbalik, membuat semua orang yang ada di sana menjadi takut dengan Azka. Apalagi Azka yang masih mengenakan pakaian serba putih itu, semakin membuat mereka merasa takut terhadap Azka.


Saking takutnya mereka, tidak ada yang bisa menjawab di mana Alea berada. Mereka teringat ucapan Alea jauh sebelum ia dekat dengan Azka. Mereka mengacu pada ucapan Alea itu, yang tidak mengizinkan siapa pun untuk memberitahu mengenainya, kepada Azka.


Mereka menurut, bukan salah mereka juga.


Merasa sudah terlalu kesal, Azka yang ucapannya tidak digubris, segera berlarian ke arah gedung tua di belakang sekolah. Firasatnya tidak enak, tetapi pikirannya selalu tertuju pada gedung itu.


Azka berlarian dengan langkah yang cepat. Ia melewati lantai dan tanah yang sangat rawan, khawatir ada beling atau paku di sana.


Namun, ia sama sekali tidak peduli. Ia tetap berlarian, melangkah ke arah gedung tersebut.


Beberapa beling sudah melukai kaki Azka, tetapi ia sama sekali tidak merasakan sakit, bahkan ia sama sekali tidak menyadarinya.


Tibalah ia di gedung tersebut, dengan perasaan yang sangat khawatir. Ia benar-benar takut, kalau saja firasatnya benar-benar terjadi.


Tangannya mantap meraih tuas pintu ruangan, yang ternyata sangat sulit dibuka. Sepertinya ada seseorang yang sengaja mengunci ruangan ini, padahal sebelum-sebelumnya ruangan ini terlihat terbuka dan tidak tertutup.


“Argh!” teriak Azka, sembari berusaha membuka pintu tersebut secara paksa.


Tak ada pilihan lain lagi, Azka segera mendobrak pintu ruangan ini. Seluruh tenaga yang ia miliki, ia kerahkan untuk mendobrak pintu tersebut.


Percobaan pertama gagal, percobaan kedua gagal. Ia menghela napasnya dengan panjang, berusaha untuk mengumpulkan tenaga dalamnya.


Percobaan ketiga membuahkan hasil, Azka menendang sekeras mungkin pintu ini, membuat pintu tersebut terbuka dengan sangat kasar. Satu engsel pintu tersebut sampai copot, saking kerasnya tendangan yang Azka lakukan itu.


Per sekian detik pandangannya beredar, sampai ia melihat Alea yang tersungkur di atas lantai yang kotor, dengan darah segar yang terus mengalir pada kedua kakinya.


Matanya mendelik, kaget melihat apa yang menjadi firasat buruknya, ternyata benar-benar terjadi pada Alea.


Amarah seketika merebak di hati Azka, ia merasa kesal dengan apa yang terjadi pada Alea.


“Alea!!” pekik Azka, yang seketika berhamburan ke arah Alea yang sudah tidak berdaya itu.

__ADS_1



__ADS_2