
Beberapa murid masuk ke dalam kelas. Satu per satu murid berdatangan, membuat Alea merasa sangat senang melihat anak-anak yang masih sangat imut.
Alea memandangi mereka satu per satu. Namun, perhatiannya masih saja tertuju pada anak lelaki yang sudah menolak berkenalan dengannya.
Seperti ada sebuah magnet, anak lelaki itu sangat menarik perhatian Alea.
‘Anak itu ... kalau saja anakku tidak keguguran waktu itu, mungkin sudah sebesar dia. Oh tidak, agak besar sedikit darinya,’ batin Alea, yang merasakan sedikit kesedihan, yang masih tersisa.
Terlihat semua murid memadati tempat duduknya masing-masing. Mereka saling memandang, karena melihat Alea yang baru saja mereka lihat itu.
Alea hanya bisa tersenyum canggung, karena semua murid memerhatikannya dengan sangat dingin.
‘Apa aku ini aneh?’ batin Alea, yang merasa sangat terintimidasi oleh mereka.
Melihat semua murid yang sudah pada tempatnya, Bu Sarah –rekan senior Alea– segera menutup rapat pintu ruangan tersebut, dan memulai pembelajaran kali ini.
Sarah mengedarkan pandangannya ke arah semua murid yang ada, “Good morning, students!” sapanya, dengan nada yang sangat humble dan juga friendly.
Mereka semua sangat antusias, karena mendengar Sarah yang terlihat sangat bersemangat.
Alea memerhatikan ke arah Sarah, yang terliha sangat menarik untuk dipandang. Beberapa ia jadikan sebagai acuan, agar dirinya bisa menjadi seperti yang anak-anak muridnya inginkan.
‘Oh, seperti itu cara mengajarnya,’ batin Alea, sembari mencoba mendalami apa yang ia lihat.
“Di sini, Mis Sarah punya teman baru, lho! Ada yang mau kenalan, tidak?” tanyanya dengan sangat bersemangat.
“Mau!” Mereka semua bersorak, terkecuali anak lelaki yang membuat Alea penasaran.
Sarah menyadari sikap anak lelaki itu, yang sepertinya tidak menyukai keberadaan Alea di sini.
“Ariel ... ada apa? Kenapa kamu tidak antusias seperti yang lainnya?” tegur Sarah.
Alea memandang dengan senyumannya, ‘Oh, namanya Ariel,’ batinnya yang sudah mengetahui nama dari anak lelaki itu.
__ADS_1
“Saya sudah tau namanya, Mis. Jadi tidak perlu berkenalan lagi,” ujarnya dengan datar, membuat Alea tak habis pikir dengan ucapan bocah lelaki berusia 5 tahun itu.
‘Dia beneran berusia 5 tahun? Bocah itu bahkan sangat terlihat acuh, seperti orang dewasa saja,’ batin Alea, merasa sangat aneh dengan keadaan.
“Ya sudah, gak apa-apa kalau Ariel sudah kenal dengan teman Mis Sarah. Yang lain yang belum kenal, perkenalkan ... namanya adalah Alea. Kalian bisa panggil Mis Alea,” ujar Sarah, membuat mereka memandang dalam ke arah Alea.
Merasa diperhatikan seperti itu, Alea pun menghela napasnya dengan panjang, dan berusaha untuk bersikap humble seperti yang Sarah lakukan tadi.
“Halo, semua. Perkenalkan nama aku Alea. Kalian bisa panggil dengan sebutan Mis Alea, ya!” ujar Alea memperkenalkan dirinya di hadapan semua murid.
Karena ingin sekali memberikan kesan pertama yang baik, Alea pun mengeluarkan banyak sekali permen dari dalam saku celananya, yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya.
“Mis punya permen. Satu orang ambil satu, ya!” ucap Alea, semua murid bersorak, lalu segera maju ke hadapan Alea untuk mengambil permen tersebut.
Alea sangat senang, karena mereka sudah mengambil bagian mereka masing-masing. Hanya tinggal Ariel saja yang belum mengambil bagiannya.
Alea memandang dalam ke arah Ariel, “Kamu tidak ambil permenmu?” tanyanya, Ariel hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Seketika, Sarah pun segera mengambil alih suasana, agar terkesan tidak canggung.
“Oke, semua. Mari kita mulai pembelajaran kali ini. Oh ya, sebelumnya ... jangan lupa bungkus permennya dibuang di tempat sampah, ya!” ujar Sarah.
Mereka pun melanjutkan pembelajaran, dengan Alea yang selalu memerhatikan sikap Sarah kepada mereka.
Selepas itu, Alea dan Sarah segera menuju ke arah ruangan kantor mereka. Semua murid sedang beristirahat, sehingga mereka juga bisa memiliki waktu untuk berbincang bersama dengan tenaga pengajar lainnya.
Di jalan menuju ke arah kantor, Alea teringat dengan sosok Ariel, yang sepertinya sangat menarik baginya.
Alea memandang dengan penasaran ke arah Sarah, “Oh ya, saya masih penasaran dengan anak bernama Ariel. Kenapa sikapnya hampir sama seperti orang dewasa? Dia benar berusia 5 tahun?” tanyanya.
Sarah menghela napasnya dengan panjang, “Ya, dia benar berusia 5 tahun. Yang saya dengar, dia anak dari keluarga yang sangat terpandang. Dia selalu ikut peraturan, sehingga membuat karakternya terbentuk dingin dan disiplin seperti itu,” jawab Sarah, Alea hanya bisa mengangguk-angguk kecil saja mendengarnya.
“Lantas, apa yang kamu lakukan ketika berhadapan dengannya?” tanya Alea lagi.
__ADS_1
“Hanya lebih memerhatikan dia saja, dan dibedakan dari yang lainnya. Sepertinya, dia sangat butuh perhatian lebih,” jawab Sarah apa adanya.
“Apa kamu gak pernah ditolak mentah-mentah sama dia?”
Sarah mengangguk kecil, “Bukan pernah lagi, tapi setiap kali saya perhatikan, dia selalu menolak mentah-mentah. Jawabannya bukan seperti jawaban anak berusia 5 tahun.”
Pandangan Alea tertuju pada Ariel, yang saat ini berada di sebuah ayunan. Ia hanya duduk diam, tanpa memainkan ayunan tersebut.
Langkahnya terhenti, membuat Sarah ikut menghentikan langkahnya. Mereka sama-sama memandang ke arah Ariel, yang sama sekali tidak bersosialisasi dengan teman-temannya.
“Lihat, dia hanya seperti itu setiap harinya,” ujar Sarah, Alea hanya bisa memandangnya dengan dalam.
“Apa dia tidak makan siang?” tanya Alea, yang masih saja penasaran dengan sosok Ariel itu.
“Biasanya sebentar lagi seseorang datang, membawakan makan siang untuknya. Dia dilarang memakan makanan selain makanan rumahannya,” jawab Sarah, yang sedikitnya mengetahui tentang Ariel.
Alea merasa sangat prihatin, karena memang bagus mendidik anak seperti itu, tapi sesekali harusnya ia dibebaskan makan makanan selain makanan rumahannya.
Alea yang tumbuh bebas memakan makanan apa pun, merasa sangat prihatin mendengarnya.
‘Seharusnya anak-anak dibiarkan makan permen dan sesuatu yang manis. Kenapa ini sama sekali tidak dibolehkan? Paling tidak, sedikit saja,’ batin Alea, yang masih sangat penasaran dengan sistem mereka mendidik anak mereka itu.
“Baiklah, saya ingin menghampiri Ariel dulu. Kamu masuk duluan saja,” ucap Alea, Sarah pun mengangguk paham mendengarya.
“Baiklah.”
Mereka pun berpisah di sana, dengan Alea yang mulai melangkah menghampiri Ariel. Ia melangkah dengan sangat hati-hati, dan duduk pada ayunan sebelah Ariel duduk.
“Halo,” sapa Alea, Ariel menoleh dengan singkat, kemudian segera memandang kembali ke arah hadapannya seperti semula.
Tidak ada respon apa pun dari Ariel, sehingga membuat Alea merasa sangat prihatin dengan cara dirinya bersosialisasi dengan orang lain di sekitarnya.
‘Ini tidak benar. Dia harus dididik agar bisa menghargai orang lain di sekitarnya. Kalau seperti ini terus, jiwa anak-anaknya pasti akan mati,’ batin Alea, sembari menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1