
Mereka saling menatap satu sama lain, dengan perasaan yang kurang lebih masih sama seperti saat dulu. Tak bisa dipungkiri, Alea pun masih menyimpan perasaan yang sama, dengan yang Arga miliki.
Namun, Alea merasa sudah lelah. Ia merasa membangun kembali hubungan bersama dengan Arga, mungkin akan membuat hatinya terus-menerus tersakiti.
“Gimana, Al? Apa kamu masih mencintai aku?” tanya Arga, Alea pun memandangnya dengan tatapan yang sangat tidak percaya.
“Mencintai kamu? Ya, aku masih mencintai kamu. Tapi rasa sakit yang aku terima di masa lalu, mengingatkan aku dan menuntun apa yang harus aku lakukan setelah ini,” ujar Alea, masih dengan pendirian dan tekad yang sama.
Arga masih memandangnya dengan sangat tidak percaya, “Kamu masih mencintai aku, tapi kamu gak mau memperjuangkannya?” tanya Arga, Alea semakin memandang bingung ke arahnya.
“Aku? Gak mau memperjuangin cinta yang aku punya? Kalau aku gak mau berjuang, kenapa bisa juga aku nyari kamu waktu itu, buat kasih tau kamu masalah aku hamil?” timpal Alea, Arga semakin merasa tidak enak dengannya.
Arga tak bisa mengatakan apa pun lagi. Tangannya meraih ke arah tangan Alea lagi, dan kini mereka pun kembali bergenggam tangan erat.
“Kali ini aku serius, aku akan menikahi kamu dalam waktu dekat ini. Aku baru saja kehilangan anak kedua kami. Aku masih belum bisa meninggalkan dia sekarang,” ujar Arga menjelaskan, sama seperti yang Ariel katakan tadi.
‘Ternyata benar, mereka sedang berkabung,’ batin Alea, yang merasa turut bersedih mendengarnya.
Tak ada yang bisa Alea katakan, hanya bisa memandang Arga dengan dalam.
“Ya? Kamu mau ‘kan, nikah sama aku?” tanya Arga, yang masih saja berusaha untuk meyakinkan Alea kembali mengenai hal ini.
Tepat di waktu yang sama, handphone Alea berdering. Sudah lewat dari waktu mengajar, dan hari juga sudah mulai gelap.
Alea segera meraih handphonenya, yang ada di dalam saku bajunya. Ia melihat yang menghubunginya adalah Azka, sehingga ia segera memandang ke arah Arga dengan tatapan bingung.
Mengetahui jika telepon itu dari Azka, Arga pun seketika tersinggung melihatnya.
“Dari dia?” tanya Arga, mulai berekspresi sinis di hadapan Alea.
Alea mengangguk kecil, “Iya, ini telepon dari Azka.”
“Sini, biar aku yang ngomong sama dia!” ujar Arga, sembari berusaha untuk meraih handphone yang sedang Alea pegang.
Tentu saja Alea merasa sangat risih, dengan apa yang Arga lakukan padanya. Rasa cemburu Arga padanya tidak hilang, meskipun sudah lama sekali tidak bertemu.
__ADS_1
Alea segera menyembunyikan handphone-nya di dalam sakunya, “Gak akan aku kasih handphone ini ke kamu!” ujarnya, membuat Arga memandangnya dengan lemas.
“Al, jangan seperti itu. Kita ini sudah bukan anak-anak lagi,” ujar Arga, yang sangat tidak menyadari dengan ucapannya tersebut.
“Sudahlah Arga, jangan pernah kamu temuin aku lagi. Kisah kita cukup sampai di sini,” ujar Alea, yang lalu segera melangkah pergi dari hadapan Arga.
Arga tentu tidak bisa menerimanya, “Paling tidak, kasih aku nomor handphone kamu, Al!” pekiknya, Alea menghentikan langkahnya sejenak.
Pikirannya membeku, ‘Untuk apa kami kembali berkomunikasi? Kenapa tidak dari dulu saja?’ batin Alea, yang benar-benar merasa sangat tidak habis pikir dengan yang Arga pikirkan.
“Maaf, Ga. Aku tidak ingin kita kembali seperti dulu lagi,” ujar Alea, tanpa memandang ke arah Arga.
Alea pun berlalu pergi meninggalkan Arga, sehingga membuat Arga merasa sangat kesal karenanya.
“Argh! Kenapa dia gak bisa aku dapetin lagi?” teriak Arga dengan kesal, karena ia merasa pesonanya di hadapan Alea, sudah tidak sehebat saat masih bersama Alea dulu.
Dengan rasa kesal yang sangat menggebu, Arga pun melangkah ke arah luar ruangan.
Di hadapannya kini, sudah ada Alea dengan Azka, yang terlihat sedang berbincang bersama. Tatapan Azka pada Alea terlihat sangat khawatir, sehingga membuat Arga memandangnya dengan sinis.
“Lagi-lagi dia!” gumam Arga, yang merasa benar-benar tidak habis pikir dengan Alea.
“Arga?” gumam Azka, terkejut dengan keberadaan Arga di hadapannya.
Tak ingin mengulang kejadian di masa lalu, Alea pun segera menarik tangan Azka untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
“Sudah, kita pergi sekarang!” ajak Alea, yang langsung menarik tangan Azka, sehingga Azka hanya bisa mengikutinya, dengan pandangan yang tetap ia tujukan pada Arga.
Melihat Alea sampai bersentuhan fisik secara langsung dengan Azka, Arga merasa sangat kesal, sampai ingin sekali meluapkan rasa kesalnya itu.
“Sial! Kenapa dia dengan mudahnya bersentuhan fisik dengan Alea?” gumam Arga, yang benar-benar tidak bisa menerima semua itu.
Arga menggelengkan kepalanya kecil, “Gak bisa, ini semua gak bisa dibiarin!” gumamnya, yang mulai menyusun siasat untuk menjalankan rencananya itu.
***
__ADS_1
Alea dan Azka sudah berada di dalam apartemen Alea. Selama di perjalanan, mereka sama sekali tidak berbicara, sehingga membuat Azka penasaran dengan yang terjadi antara Alea dan juga Arga.
Alea menutup pintu apartemennya, dan segera menyusul Azka yang sudah lebih dulu duduk di sofa.
“Gimana maksudnya? Kenapa ada dia di sana tadi?” tanya Azka dengan datar.
Terlihat jelas rasa tidak suka yang ia miliki, sehingga membuat Alea menghela napasnya dengan dalam.
“Aku juga gak tau. Tiba-tiba aja dia datang ke tempat kerja, dan mengaku sebagai ayah dari anak yang sering aku ceritakan sama kamu,” ujar Alea menjelaskan, membuat Azka mendelik tak percaya mendengarnya.
“Apa? Dia cuma mengaku saja? Tidak sungguhan, bukan?” tanya Arga memastikan.
“Dia benar-benar ayah dari Ariel, anak laki-laki yang sering aku ceritakan itu. Aku juga gak nyangka, tapi memang benar itu kenyataannya,” ujar Alea, membenarkan kenyataan tentang Arga.
Azka mendelik tak percaya, sembari menepuk keningnya dengan cukup keras.
“Gak mungkin. Dia ... sudah menikah?” tanya Azka, Alea mengangguk kecil mendengarnya.
“Sejak saat kejadian aku keguguran, dia sudah menikah dengan Azura. Pantas saja aku gak bisa nemuin dia waktu itu. Dia sedang melakukan persiapan untuk pergi ke kota ini, dan segera menikah dengan Azura,” papar Alea menjelaskan.
“Ah? Tapi bagaimana bisa? Dia bahkan belum lulus sekolah waktu itu?”
“Dia bilang, ada guru yang datang ke rumahnya, dan mengajarkannya pelajaran yang sama dengan yang dipelajari di sekolah normal,” ujar Alea, kembali menjelaskan pada Azka.
Tetap saja, Azka tidak menyangka dengan kejadian yang sangat tidak terduga ini. Jauh-jauh mereka meninggalkan kota asal mereka, setidaknya agar mereka bisa melupakan kejadian yang ada. Namun, ternyata orang yang membuat perkara ini menjadi sangat rumit, juga berada di kota yang sama saat ini.
Azka memandang Alea dengan dalam, “So, apa yang akan kamu lakukan setelahnya? Karena dari pengamatanku, mungkin saja Arga akan kembali lagi untuk merayu kamu lagi,” ujar Azka, tak terima dengan apa yang akan terjadi pada Alea nantinya.
Alea memandang Azka dengan bingung, karena terlihat dengan sangat jelas, kecemburuan yang Azka miliki padanya. Walaupun tidak terlalu diperlihatkan, tetapi Alea bisa melihat dari gerak-gerik Azka yang terlihat sangat gusar.
‘Apa dia sedang cemburu saat ini?’ batin Alea, yang benar-benar tidak habis pikir dengan Azka.
Sejenak ia memikirkan, tentang bagaimana cara ia menyikapi Arga, yang mungkin saja masih akan terus menemuinya lagi.
“Aku gak ada ancang-ancang ingin pindah tempat kerja. Aku juga gak tau, dia beneran mau ngejar aku lagi atau engga,” jawab Alea menjelaskan, membuat Azka menjadi gemas mendengarnya.
__ADS_1
“Dia tadi terlihat sangat tidak suka. Memandangku saja dia terlihat sangat geram. Pasti dia akan berusaha untuk mendekati kamu lagi!” ujar Azka, yang benar-benar sangat tidak rela akan hal itu.