Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Tidak Tepat


__ADS_3

Arga merasa sangat senang, karena tujuannya sudah tercapai. Mendapatkan Azura, tanpa harus melepaskan Alea dari sisinya. Karena tujuannya mendapatkan Azura, memang tak lain adalah karena hal yang disebutkan tadi olehnya. Berbeda dengan Alea, Arga sedikit banyaknya sangat mencintai Alea, meskipun cintanya harus terkalahkan oleh hawa nafsu yang ia miliki.


Pada intinya, baik Alea maupun Azura, mereka sama-sama memiliki posisi yang penting di hati Arga.


Arga meraba wajah Alea dengan lembut, “Apa sih yang membuat kamu bisa bertahan sama aku? Aku kan ... udah jahat banget sama kamu. Karena keluarga aku minta aku untuk melakukan hal seperti ini, aku rela ngorbanin cinta aku demi mereka,” ujarnya merendah di hadapan Alea.


“Aku gak peduli tentang kemauan orang tua kamu. Yang terpenting sekarang, pokoknya bayarannya asal kamu jangan pernah ninggalin aku, aku gak akan banyak nuntut macam-macam sama kamu!” jawab Alea dari dalam lubuk hatinya.


Ketika logika dikalahkan oleh perasaan, Alea hanya bisa pasrah dengan hubungan antara dirinya dan juga Arga. Yang terpenting sekarang adalah, bagaimana caranya agar mereka tetap bersama meskipun ada hal yang sewaktu-waktu bisa saja memisahkan mereka.


Alea sama sekali tidak ingin kehilangan Arga, untuk kedua kalinya.


Arga tersenyum, dan kembali mengusap wajah Alea dengan sangat lembut.


“Aku sayang kamu, Al.”


Mendengar ungkapan perasaan cinta dan kasih sayang dari Arga, Alea pun merasa dirinya sangat dihargai oleh Arga. Ia merasa Arga menyayanginya, dan ia pun akhirnya memeluk Arga dengan sangat erat.


“Aku juga sayang sama kamu, Ga!” jawab Alea, yang juga memiliki perasaan yang sama dengan yang Arga miliki untuknya.


Arga berusaha mendekatkan wajah Alea ke wajahnya, bermaksud hendak mencium bibir Alea untuk memulai melakukan kegiatan yang biasa mereka lakukan, selama sebulan ke belakang ini.


Alea juga hendak mencium bibir Arga, tetapi ia tertahan dengan dirinya yang tiba-tiba saja merasa mual. Arga kebingungan dengan reaksi yang saat ini Alea lakukan, karena baru pertama kali ia melihat Alea yang sepertinya sangat jijik terhadap dirinya.


“Kamu kok sampai mual-mual gitu, sih? Kalau jijik sama aku, bilang!” bentak Arga, yang merasa tersinggung dengan sikap Alea yang sangat random.


Alea berusaha menahan rasa mualnya, dengan menggelengkan kepalanya.


“Aku gak jijik sama kamu, Ga! Aku juga mau ciuman sama kamu, tapi tiba-tiba aja aku mual! Aku juga gak cuma mual sekarang, dari tadi pagi juga aku udah mual banget!” sanggahnya membantah tuduhan Arga padanya.


“Aku gak percaya sama yang kamu bilang!”


Arga sama sekali tidak percaya, karena momennya sangat pas dengan dirinya yang hendak mencium dan memulai aksi panasnya dengan Alea. Hal itu membuatnya merasa tersinggung, dengan hal yang Alea lakukan.

__ADS_1


Kalau sudah seperti ini, hilanglah sudah hasrat Arga untuk melakukannya bersama dengan Alea.


“Ga, jangan begini dong, please!” rengek Alea, Arga masih diam saja mendengar ucapannya untuk membela dirinya, sambil sesekali menarik tangannya yang sedang digelayuti oleh Alea.


“Apa sih!” bentak Arga.


“Ga, please--”


“Cukup, ya! Aku udah gak mood!” bentak Arga yang sudah tidak sanggup lagi berhadapan dengan Alea, Arga pun langsung meninggalkan Alea di sana seorang diri.


Alea merasa sangat terpukul, hanya karena tidak sengaja melakukan hal tersebut, ternyata membuat Arga sampai marah seperti ini padanya. Padahal, Alea sama sekali tidak bermaksud demikian.


“Arga!” pekik Alea, tetapi Arga sama sekali tidak menghiraukan panggilannya.


Alea mengusap kepalanya, saking pusingnya. Ia tidak bermaksud menghina Arga, tetapi memang sejak pagi tadi ia merasakan mual yang sangat dahsyat.


“Kenapa bisa mual lagi, sih? Tadi bukannya udah enggak mual?” gumamnya, yang merasa sangat bingung dengan keadaan mereka saat ini.


Sekali lagi, Alea terlalu cinta padanya.


Karena sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, Alea pun pergi dari sana untuk menuju ke kelasnya.


***


Arga terus mencari keberadaan Azura. Ia sangat tidak mood, dan ingin melampiaskan hasratnya yang masih terpendam dengana Azura. Namun, saat ini ia sama sekali tidak bisa menemukan Azura di kelasnya.


Dengan langkah yang jenjang, Arga pun melangkah menuju ke kelas Azura. Ia mengedarkan pandangannya ketika sudah sampai di kelas Azura.


“Mana Azura?” tanya Arga dengan sinis, membuat para gadis yang ada di dalam sana merasa kebingungan, bahkan ada yang merasa ketakutan karena suaranya yang cukup keras.


Kebetulan sekali, Azura sedang bersama dengan teman-temannya di kursi belakang. Ia memandang Arga dengan bingung, karena baru 10 menit berlalu mereka tidak bertemu.


‘Apa aku ada buat salah sama dia?’ batin Azura, yang merasa heran dan bingung melihat sikap Arga yang sepertinya sangat emosi.

__ADS_1


Azura pun bangkit dari tempat duduknya, dan menghampiri ke arah Arga yang sedang menatapnya dengan dalam dan tajam.


“Ada apa?” tanya Azura.


Tanpa berbasa-basi, Arga pun segera menarik tangannya dan membawanya pergi dari kelasnya itu.


Semua mata yang memandang ke arahnya menjadi bingung, karena mereka yang baru pertama kali melihat Azura dekat dengan anak laki-laki dari sekolah ini.


“Mereka pacaran, ya?”


“Gak tahu!”


“Tapi gue denger-dengar rumornya, Arga putus sama si Alea!”


“Wah, masa sih?”


“Bener! Jangan-jangan, mereka putus terus Arga langsung deketin Azura?”


Mereka membicarakan Azura dan juga Arga, karena merasa sangat heran dengan Azura yang tiba-tiba saja ingin dekat dengan lelaki, setelah 2 tahun sama sekali tidak terdengar rumor apa pun. Azura sangat pandai memelihara gosip miring yang dapat merugikan dirinya.


Arga membawanya ke gedung tua itu lagi, dengan sangat cepat. Karena sudah berlalu beberapa menit, dapat dipastikan Alea sudah tidak ada di tempatnya. Apalagi, Arga sangat paham dengan Alea yang sangat takut dengan tempat tersebut.


Mereka sudah berada di dalam ruangan tersebut, dengan Arga yang menutup pintu ruangan dengan sangat kasar. Azura merasa kebingungan, karena perilaku Arga yang tak biasanya saat ini.


“Ada apa, sih?!” bentak Azura, Arga pun menghampirinya sembari membuka dengan kasar semua kancing kemejanya yang masih terpasang dengan rapi.


Azura sangat paham, saat ini Arga sedang tidak bisa mengontrol hawa nafsunya. Arga berusaha untuk menunjukkan, betapa butuhnya ia dengan sosok Azura saat ini, untuk sekadar melampiaskan hawa nafsunya saja.


Dengan sedikit kasar, Arga mendekatkan wajahnya ke arah telinga Azura, “Layani aku dengan semua kemampuan yang kamu bisa!” ujarnya, membuat Azura menelan salivanya dengan cepat.


Permasalahannya, Azura tidak tahu hal apa yang bisa memicu amarah Arga sampai seperti ini. Biasanya, Arga memintanya dengan cukup baik, dan tidak terkesan seperti marah-marah seperti ini.


***

__ADS_1


__ADS_2