Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Negosiasi Yang Menegangkan


__ADS_3

Karena Arga yang kesal, ia sampai melayangkan kepalan tangannya ke arah Azka.


Azka mendelik, karena gerakan tangan Arga yang sangat cepat menuju ke arahnya.


BUAK!


Pukulan tangan Arga berhasil mengenai tepat di area wajah Azka. Hal itu tak dihiraukan Azka, karena memang ia merasa kalau ucapannya terlalu tajam kepada Arga.


Apa salahnya? Azka sama sekali tidak bersalah pada masalah ini.


Mendengar Azka yang mengatakan hal itu, Arga sampai marah padanya dan memberikan peringatan untuk Azka, melalui pukulan yang ia layangkan padanya.


Arga menunjuk kasar ke arah Azka, “Jangan pernah beri tahu ini kepada Alea!” ancamnya, tetapi tak membuat Azka gentar.


Azka malah tidak menghiraukannya dan malah menyungginkan senyumannya ke arah Arga.

__ADS_1


“Siapa peduli? Gue pasti akan kasih tau ke Alea!” ujar Azka, yang mengancam Arga bahwa ia akan memberi tahu hal ini pada Alea.


Mendengar ancaman Azka, Arga mendadak menjadi gusar. Ia merasa muak, karena mendengar ancaman dan omong kosong yang Azka katakan padanya.


“Bulshit! Jangan ngomong sesuatu, yang gak mungkin lo lakuin!” bentak Arga, tetapi lagi-lagi Azka hanya bisa menyunggingkan senyumannya.


“Kata siapa gue gak bisa lakuin hal itu? Gue bisa, dan sangat bisa ngelakuin hal yang gue ucapin tadi!” ujar Azka, semakin membuat Arga menjadi tidak keruan.


Arga tak terima mendengarnya, “Sialan loe!!” pekiknya, yang langsung melanjutkan memukul.


Inilah hasil dari bela diri yang Azka jalani, selama 3 tahun di Sekolah Menengah Pertamanya. Pelajaran yang sangat berguna, jika dimanfaatkan dalam kondisi yang terdesak seperti ini.


Azka memandangnya dengan remeh, “Kalau tidak salah, loe gak punya basic bela diri yang benar. Loe yakin, mau lanjutin pertandingan ini?” tanya Azka, yang sudah tahu sedikit informasi mengenai Arga.


Arga mendelik kesal, karena ia merasa sangat diremehkan oleh Azka.

__ADS_1


“Gak usah lo remehin gue! Walaupun gue gak punya basic bela diri, setidaknya untuk ngurus satu cunguk kayak lo, gue gak akan kesulitan!” ujar Arga dengan perkataan dan nada bicara yang kasar, sehingga membuat Azka tersinggung mendengar ucapannya yang kasar itu.


Walaupun Azka sudah memperingati Arga untuk tidak melanjutkan pertikaian ini, tetapi Arga sama sekali tidak peduli akan keselamatan dirinya. Hal itu membuat Azka merasa terbebani, karena ia harus melawan orang yang sama sekali tidak mengerti kaidah bela diri.


Azka menghela napasnya dengan panjang, “Baiklah, kalau itu mau lo! Gue ladenin!”


Akhirnya Azka meladeninya dengan kekuatan dan pengetahuan tentang ilmu bela diri, yang saat ini ia miliki. Azka memasang aba-aba, sementara Arga hanya bersikap serampangan saja di hadapannya.


“Gak usah belagu, lo! Gue gak suka ngeliat gaya lo yang tengil!” bentak Arga, yang tak dihiraukan oleh Azka.


“Maju lo!” ujar Azka, yang sejak tadi sudah siap memasang kuda-kuda yang tepat untuk melancarkan jurus yang sudah ia kuasai.


Dengan ketepatan perhitungan dan gerakan yang luwes, Azka melesatkan tinjuan mautnya ke arah Arga. Arga merasa terkejut, dan relfeks menahannya dengan kedua lengannya.


Beberapa kali Azka melesatkan pukulannya dengan setengah kekuatannya, tetapi pukulan itu cukup membuat cedera memar pada lengan tangan Arga.

__ADS_1


__ADS_2