Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Satu Bulan Berlalu


__ADS_3

Saat ini, tepat satu bulan dari kejadian tragedi pemukulan Azka tersebut. Selama satu bulan penuh, Azka dirawat di rumahnya oleh ibunya yang sangat khawatir dengan keadaan dirinya.


Saat pertama kali Azka dibawa pulang oleh Pras, beliau sangat panik dengan apa yang terjadi dengan anak semata wayangnya. Beberapa kali ia menanyakan soal bagaimana asal-muasal kejadian itu, tetapi Azka sama sekali tidak memberi tahu semuanya pada kedua orang tuanya.


Azka sangat menjaga rapat-rapat rahasia ini, karena ia tidak ingin sampai orang tuanya terlibat dalam permasalahan dirinya dan juga Arga.


Selama satu bulan ini juga, Arga menjauh dari Alea di hadapan teman-temannya. Sempat beberapa kali ia terpergok oleh Alea, sedang berduaan dengan teman sekelasnya, tetapi Alea sama sekali tidak boleh meluapkan emosinya di hadapan Arga, karena ia sudah berjanji sebelumnya dengan Arga.


Selama itu, Alea sangat merindukan Arga. Mereka benar-benar tidak bertemu dan berbincang di area sekolah. Arga juga hanya membalas pesan singkat dari Alea beberapa kali, dan mengurangi komunikasinya dengan dirinya.


Hal itu yang membuat Alea merasa sangat sedih, dan bingung harus berbuat apa.


Kali ini, tepat di depan matanya, terlihat Arga yang sedang berjalan di hadapannya bersama dengan seorang gadis yang sangat ia kenal. Gadis itu adalah kakak kelas mereka, yang berbeda satu tingkat dari mereka.


Ya! Siapa lagi kalau bukan Azura.


Kesempatan ini Arga pakai, untuk membuat jarak di antara dirinya dan Azura lebih diakui oleh orang lain yang melihatnya. Mereka juga sudah mengetahui, kalau hubungan Arga dan juga Alea sudah berakhir. Arga sengaja mengatakan itu, karena ia ingin membuat orang lain paham dengan dirinya yang tidak pernah lagi dekat dengan Alea.


Hal ini sungguh di luar dugaan Alea. Memang mereka tidak putus hubungan, tetapi Arga sudah mengumumkan kepada teman-temannya, bahwa hubungan mereka sudah berakhir.


‘Arga jalan sama Kak Zura lagi?’ batin Alea, yang merasa sangat sakit ketika melihat Arga yang lagi-lagi harus berjalan bersama dengan gadis lain di sekolah.


Alea sama sekali tidak bereaksi, hanya bisa memandang mereka dari kejauhan. Arga menyadari pandangan Alea, dan lebih memilih untuk diam dan mengalihkan perhatiannya kepada Azura yang sedang berjalan beriringan di sebelahnya.


Mereka berjalan menuju ke arah kantin, dengan Arga yang terlihat sedang membuka handphone-nya.


DRT!


Tak lama waktu berselang, handphone Alea pun bergetar tanda ada notifikasi masuk. Dengan sangat penasaran, Alea pun membuka handphone-nya, dan melihat ada pesan singkat dari Arga.


“10 menit lagi, tunggu aku di gedung tua itu!” Isi pesan singkat dari Arga.

__ADS_1


Alea hanya bisa diam, karena ia terpaksa harus mengerti dengan keadaan yang mereka jalani saat ini.


Karena sudah menerima pesan singkat dari Arga itu, Alea pun bergegas untuk pergi ke gedung tua itu. Arga memberikan sebuah kunci, yang bisa digunakan untuk membuka gerbang gedung tua itu. Arga sengaja menduplikat kunci itu, sehingga Alea bisa dengan mudahnya menunggunya di sana, untuk bisa melampiaskan rasa rindu mereka.


BRUK!


Tak sengaja, Alea menabrak seseorang ketika hendak menuju ke arah ruangan itu. Ketika pandangan mereka bertemu, Alea pun mendelik kaget melihat orang yang ia tabrak yang ternyata adalah Azka.


Sudah satu bulan ini, Alea sama sekali tidak melihat Azka. Hal itu karena Azka fokus pemulihan benturan di kepalanya, sehingga ia tidak masuk sekolah dalam waktu yang cukup lama.


Azka merasa kesulitan berekspresi saat ini, “Emm ... maaf aku gak sengaja.”


“Ya, gak apa-apa.”


Mereka sangat canggung, sampai-sampai mereka bingung harus berkata apa lagi setelahnya.


Alea memandang Azka dengan bingung, “Apa kabar? Udah sembuh lukanya?” tanya Alea, Azka hanya bisa mengangguk sembari menundukkan pandangannya saja.


Merasa canggung dengan keadaan, Alea pun hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.


“Ya udah, bye!” Alea pun pergi dari hadapan Azka, membuat Azka merasa sangat heran dengan kepergiannya itu.


‘Sudah lama gak ketemu, kok malah jadi canggung gitu? Lagian, dia kenapa canggung gitu, sih?’ batin Azka, yang merasa sangat aneh, sembari memandang ke arah kepergiannya itu.


Alea berusaha untuk menghindari Azka. Ia memilih jalan memutar, agar Azka tidak menyadari kepergiannya dan tidak membuntuti dirinya. Ia tidak ingin sampai Azka mengetahui kalau ternyata dirinya ingin bertemu dengan Arga di gedung tua itu.


Dengan langkah yang panjang, kini Alea sudah berada di sebuah ruangan yang biasa mereka tempati ketika sedang bertemu diam-diam. Ruangan dan gedung yang angker ini, seakan tidak ia pedulikan. Yang ia pedulikan, hanyalah ketika ia bertemu dengan Arga saat ini.


‘Arga mana, sih?’ batin Alea, yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Arga kali ini.


Sudah tiga hari ini, Alea dan Arga tidak berbicara secara langsung di sekolah. Hal itu membuat Alea kesal, karena ada sebuah masalah yang tidak bisa Arga ceritakan sepenuhnya kepadanya. Ini menyangkut tentang keluarganya.

__ADS_1


Suara gemuruh terdengar jelas dari luar ruangan gedung tua itu. Seperti ada seseorang yang datang, yang Alea yakini adalah Arga.


Benar saja, Arga muncul dari balik pintu ruangan tersebut, dan kembali menutup pintu itu dengan perlahan. Ia membalikkan tubuhnya, dan tersenyum tatkala melihat Alea yang saat ini sudah berdandan dengan cantiknya, dan terlihat sedang menunggunya di sana.


“Maafin aku ya, sayang. Aku lama, ya?” ujarnya, sembari melangkah menuju ke arah Alea.


Alea nampak merajuk, karena ia masih kesal melihat Arga yang berjalan dengan Azura tadi. Wajahnya selalu ia tekuk, karena sudah terlalu kesal dengan Arga.


Arga yang melihat perubahan sikap Alea, dan Alea yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, semakin menguatkan firasatnya kalau Alea sedang menyimpan perasaan marah padanya.


Arga berdiri di hadapan Alea, dengan tangan yang mengelus lembut wajah Alea. Dengan perlakuannya yang sangat lembut, Alea malah semakin dibuat kesal karena ia yang tidak bisa marah jika Arga memperlakukannya dengan sangat lembut seperti ini.


“Hey, kok diam aja? Kamu marah sama aku?” tanya Arga, Alea memandangnya dengan tatapan datar.


“Gimana gak marah coba? Kamu jalan sama Kak Azura tadi ke kantin!” bentaknya, yang merasa kesal dengan apa yang Arga lakukan.


Arga menghela napasnya, dan kembali mengelus lembut wajah Alea.


“Aku kan udah jelasin sama kamu, aku terpaksa begini karena keluarga aku yang berniat ngejodohin aku sama dia. Aku terpaksa harus bersikap manis sama dia. Kalau enggak, bisnis orang tuaku bisa hancur karena kebodohan aku. Aku gak mau nyusahin mereka. Aku cuma mau jadi anak yang penurut aja,” ujar Arga, yang menjelaskan tentang keadaan dan kondisi hubungan dirinya dengan Azura.


Memang tidak sepenuhnya salah, apa yang Arga jelaskan tadi. Arga memang menjelaskan dengan sebenar-benarnya kepada Alea, tetapi ia tidak menjelaskan kalau ia tidak masalah dengan hubungan antara dirinya dan juga Azura, karena ia sudah beberapa kali mendapatkan untung dari hubungannya bersama dengan Azura.


Bagaimana tidak? Bisnis keluarganya lancar, hasrat dan hawa nafsunya pun selalu terpenuhi dari Azura. Kedua hal yang tidak bisa ditolak oleh Arga, tetapi Arga tidak menceritakan semuanya secara gamblang kepada Alea.


Bodohnya, saking cintanya Alea padanya, Alea sampai pernah berkata bahwa ia tidak peduli dengan perjodohan antara dirinya dengan Azura. Yang ia pedulikan, hanyalah tentang kesuciannya yang sudah direnggut beberapa kali dalam waktu sebulan ini, oleh Arga.


Bagi Alea, jika Arga sudah merebut apa yang ada padanya, Arga harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia lakukan kepadanya, meskipun tanpa adanya ikatan yang jelas.


Dengan kata lain, Alea sanggup menjadi simpanan Arga, untuk memenuhi semua keinginan dan ambisinya itu. Demi menutupi harga dirinya yang sudah terenggut beberapa kali, oleh orang yang sama. Alea merasa dirinya sudah kotor, sehingga ia tidak bisa melepaskan Arga begitu saja dengan mudahnya.


Alea memandang dalam ke arah Arga, “Aku tau, kok! Aku juga gak peduli, yang penting kamu masih bisa terus sama aku, itu juga udah cukup!” ujarnya, membuat Arga menyunggingkan senyumannya di hadapan Alea.

__ADS_1


__ADS_2