
Hal itu membuat Alea semakin terkesima mendengarnya. Alea segera menyodorkan sebotol air mineral itu pada Arga, sehingga Arga pun menerimanya dan menenggaknya sampai tak tersisa setetes air pun.
“Kamu pasti capek! Gimana, kalau kita ke kantin sekarang?” tawar Alea, membuat Arga memandangnya dengan bimbang.
“Emm ... gimana, ya? Aku harus ke ruangan office sekolah sekarang,” tolak Arga dengan cara yang halus, membuat Alea merasa sedikit kecewa mendengarnya.
Namun, karena alasan Arga adalah untuk ke ruangan office sekolah mereka, Alea sama sekali tidak bisa membantahnya. Ia terpaksa melontarkan senyumannya, dan sebisa mungkin harus terlihat mendukung apa pun hal yang diambil Arga.
“Oke deh kalau gitu, tapi apa kamu gak lapar?” tanya Alea.
Arga menggelengkan kepalanya, “Aku sudah makan tadi, sebelum tanding basket.”
Alea pun tersenyum mendengarnya, “Oke deh. Kapan kita ketemu lagi?” tanya Alea.
“Mungkin nanti setelah pulang sekolah.”
__ADS_1
“Aku tunggu di gerbang, ya!” ujar Alea, Arga pun mengangguk mendengarnya.
“Bye.”
“Bye.”
Arga pun pergi dari hadapan Alea, membuat Azka tersadar dan segera pergi dari hadapan mereka. Ia tidak ingin sampai Alea tahu tentang dirinya yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka dari kejauhan.
Karena sudah tidak ada yang bisa Alea lakukan, ia pun segera kembali ke ruangan kelasnya dan tidak jadi pergi ke kantin. Arga tidak bisa ikut bersamanya, sehingga ia sangat malas untuk pergi ke kantin.
Sebuah kecurigaan muncul dalam benak Azka, sehingga membuatnya terpancing untuk mengikuti ke mana Arga melangkah.
Arga terlihat masuk ke ruangan sepi di belakang gedung sekolah mereka, sehingga membuat Azka penasaran dan sedikit mengintip dari arah jendela.
Matanya dibuat mendelik, saking terkejutnya ia melihat pemandangan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata itu. Ia tak sengaja melihat Arga yang sedang menghampiri seorang gadis, yang ternyata sudah menunggu di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
‘Dia menemui siapa?’ batin Azka, yang rasa penasarannya terus terpacu karena melihat hal yang tidak seharusnya ia lihat itu.
Arga terlihat memeluk gadis yang dari kejauhan terlihat seperti sedang merajuk. Ia berusaha untuk menenangkan kegelisahan gadis itu. Hal itu membuat Azka bertanya-tanya, karena ia juga baru pertama kali melihat Arga dan juga gadis yang ada bersamanya saat ini.
Mau ikut campur bagaimana? Azka pun baru saja mengenal mereka, kurang dari 8 jam yang lalu.
“Jangan marah melulu. Aku sepenuhnya milik kamu. Gak ada yang bisa memisahkan kita,” gumam Arga, yang masih terdengar jelas oleh Azka yang sedang menguntit dari jendela.
Entah apa yang sedang terjadi di antara mereka, tetapi Azka merasa jika hubungan antara keduanya sangat dekat, sampai-sampai mengalahkan hubungannya dengan Alea.
‘Apa jangan-jangan dia menyelingkuhi gadis itu?’ batin Azka, yang masih tidak mengetahui nama Alea.
Ingin rasanya ia memberi tahu masalah ini kepada Alea, tetapi mungkin saja dengan kejadian pagi tadi Alea menjadi sangat tidak mempercayainya.
Arga mulai melakukan hal yang tidak-tidak bersama dengan gadis itu, sehingga membuat Azka menjadi muak melihatnya. Tanpa melihat lebih jauh tindakan yang mereka perbuat, Azka pun pergi dari sana meninggalkan mereka yang terlihat sedang bercumbu mesra di dalam ruangan sepi itu.
__ADS_1
***