Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Cuci Tangan


__ADS_3

Alea terkejut, dan sama sekali tak percaya dengan apa yang Azka katakan tentang kekasihnya itu. Alea juga berpikir, tidak mungkin Arga melakukan hal sekasar itu padanya.


Kepalanya menggeleng kecil, “Gak mungkin kalau itu semua karena Arga!” bantah Alea, membuat Azka hanya bisa tersenyum tipis mendengar bantahan yang Alea ucapkan.


“Aku gak mengada-ada, Alea. Walaupun aku gak punya bukti dia yang melakukannya, tapi aku punya bukti yang lain sebagai pemicu awal mula kejadian ini terjadi,” ujar Azka, yang membuat Alea memandangnya dengan dalam.


Masih tak percaya dengan perkataan Azka, Alea menanamkan di pikirannya kalau yang harus ia percayai adalah Arga yang merupakan kekasihnya. Ia tidak memiliki alasan untuk percaya kepada orang selain Arga, yang sama sekali belum ia kenal dengan dekat.


“Aku gak kenal deket ya sama kamu. Aku gak punya alasan untuk percaya dengan apa yang kamu tuduhkan pada Arga!” ujar Alea, yang masih berusaha untuk membela kekasihnya itu.


Seakan sudah dibutakan oleh cinta, Alea tidak peduli dengan apa yang Azka tuturkan. Baginya, Arga adalah satu-satunya orang yang harus ia percaya dibandingkan harus mempercayainya.


Azka menghela napasnya, “Aku berani sumpah, kalau semua ini memang benar Arga yang melakukannya!” ujarnya berterus-terang.


Alea memandangnya dengan tatapan yang meremehkan, “Gak mungkin! Pasti ini alasan kamu aja, ‘kan? Alasan supaya aku dan Arga berpisah, dan kamu enak-enakan tertawa di belakang aku dan Arga yang sudah tercerai-berai?” bidik Alea dengan kesal, sampai ia tidak meletakkan kembali sisa gulungan plester yang baru saja ia gunakan untuk menangani luka Azka.


Azka menggelengkan kepalanya lagi, ‘Kalau seperti ini, dia gak akan pernah percaya, dan malah menuduh aku yang bukan-bukan!’ batinnya, yang merasa harus memberi tahu kartu As yang ia miliki tentang permasalahan ini.


Azka tak memiliki pilihan, selain memberi tahu Alea video yang diambil olehnya tadi.


“Ya sudah, kamu pasti akan percaya kalau kamu melihatnya langsung,” gumam Azka, yang lalu mengambil handphone miliknya di saku celananya.


Di luar ruangan, terlihat Arga yang sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan yang sangat sinis. Arga sangat tidak menyangka, kalau ternyata Alea sudah hampir melihat handphone yang Azka sodorkan ke arahnya.


“Ini gak bisa dibiarin!” gumam Arga, yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


Ketika Alea menerima handphone Azka, Arga dengan segera menabrakkan dirinya pada Alea, sampai handphone Azka yang sedang dipegang Alea terjatuh ke atas lantai. Hal itu spontan membuat Alea dan juga Azka terkejut karenanya.


Arga menatap Alea dengan sinis, “Oh, jadi kamu di sini?! Aku cari-cari kamu di kelas, ternyata kamu asik berduaan sama cowok ini di UKS?!” bidik Arga dengan sinis, sontak membuat Alea menjadi sangat takut mendengar ucapannya.


“Gak gitu, Arga! Aku di sini buat ngobatin luka Azka--”


“Memangnya gak ada anggota PMR yang lain?! Kenapa harus kamu?!” bentak Arga yang merasa sangat tidak menyukai hal itu.


Memang Arga sangat tidak menyukai, jika saja Alea dekat dengan siapa pun di sekolah ini. Padahal, selain Azura, Arga juga dekat dengan beberapa gadis lainnya yang sama sekali tidak Alea ketahui.


Sungguh ironis.


Azka hanya bisa memandang mereka dengan dingin, karena secara tidak sengaja Arga membuat Alea yang menjadi merasa bersalah atas kesalahannya yang ia lakukan. Hal itu ia sadari, karena tepat sesaat setelah Alea menerima handphone-nya, Arga pun datang dan dengan sengaja menyenggol bahunya, sehingga ia tidak bisa melihat video panas yang tadi Azka ambil.


‘Sialan Arga! Kenapa dia muncul di waktu yang tidak tepat?!’ batin Azka, yang merasa sangat kesal dengan kehadiran Arga saat ini.


“Aku sama sekali gak ada hati sama Azka! Aku juga baru kenal sama dia! Aku gak ngelakuin apa pun! Aku gak nerima cokelatnya waktu itu, dan sekarang karena semua anggota sedang ujian harian, jadi gak ada yang bisa bantu untuk ngobatin lukanya dia! Lagipula, aku ketua di sini, mana mungkin aku nolak orang, dan pilih-pilih untuk ngobatin orang?” sanggah Alea, yang berusaha untuk membela dirinya sendiri di hadapan Arga.


Arga membuang pandangannya, karena merasa sudah sangat kesal dengan apa yang Alea lakukan.


“Udahlah, Alea! Lebih baik sekarang, kita putus aja!”


DEG!


Mendengar ucapan dan perkataan Arga itu, sontak membuat Alea merasa sangat kesal dan juga patah hatinya. Satu saja ucapan Arga, membuat hati Alea menjadi tersayat.

__ADS_1


Tak ada satu patah kata yang bisa mengungkapkan isi hati Alea. Dirinya hanya bisa meneteskan air matanya, karena ia benar-benar sudah tidak kuat lagi menahan semuanya sendiri.


“Apa? Putus?” gumam Alea, yang hanya bisa bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


Alea bahkan sampai tidak berani menatap wajah Arga, yang saat ini sedang menumpahkan amarahnya kepada Alea.


Istilahnya adalah cuci tangan atas kesalahan yang sudah ia lakukan, seolah-olah orang lain yang melakukannya sehingga dapat menutupi kesalahan yang ia lakukan.


Arga menunjuk ke wajah Alea dengan kasar, “Jangan pernah kamu muncul di hadapan aku lagi!” bentak Arga, yang lalu segera meninggalkan Alea di sana.


Tak terima dengan apa yang Arga lakukan, Alea pun sampai memandang ke arah kepergiannya.


“Arga tunggu--”


Alea tertahan, karena Azka yang menahan tangannya dengan cepat. Ia tidak ingin, kalau Alea direndahkan berulang-kali oleh lelaki yang sama sekali tidak mencintainya dengan hati.


Menyadari tangannya yang tertahan oleh Azka, Alea pun berusaha untuk melepaskan tangannya dari tangan Azka.


“Tolong, lepasin tangan aku!” teriak Alea, tetapi dengan sisa tenaga yang ia miliki, Azka tidak ingin melepaskan tangan Alea dari tangannya.


“Maaf, aku gak mau kalau kamu sampai menyesal karena udah putus sama dia. Aku gak mau ngeliat kamu mengambil keputusan yang salah! Dengan adanya kejadian ini, setidaknya ini udah jalan yang bener buat kamu!” ujar Azka, yang memberi tahu tentang jalan yang harus Alea ambil.


Karena sudah tidak bisa berkata-kata lagi, Alea hanya bisa diam sembari menahan tangisnya yang terus mengalir dari kedua kelopak matanya yang indah.


Azka sangat menyayangkan kejadian ini, ‘Kenapa wanita secantik dia disia-siakan seperti itu, dengan seorang lelaki yang tidak sepantasnya bersama dengan dia?’ batin Azka, yang tiba-tiba saja tidak rela melihat nasib Alea yang seperti itu jadinya.

__ADS_1


Perlahan Alea pun lemas, dan terduduk di atas lantai ruangan UKS. Azka melepaskan tangannya yang dipakai untuk menahan tangan Alea, dan ia hanya bisa memandang Alea dengan sendu.



__ADS_2