
Dari arah pagar rumah teman Arga, ternyata Azka sudah sampai di sana. Ia memandang dan memperhatikan ke arah Alea, yang saat ini sedang bersama dengan Arga dan terlihat sedang memandang ke arah meja.
‘Mereka sedang apa?’ batin Azka, yang masih tetap memperhatikan mereka dari kejauhan.
Mereka melihat-lihat ke arah topeng yang ada di atas meja sebelah petugas itu. Alea tertarik dengan topeng berwarna pink, kemudian segera mengambilnya.
“Aku yang ini aja,” ujar Alea, sembari memakainya pada wajahnya.
Arga pun mengambil topeng berwarna biru, kemudian memakainya juga ke arah wajahnya.
Melihat mereka dari jauh, membuat Azka paham kalau ternyata pesta itu bertemakan pesta topeng.
‘Ternyata pesta topeng,’ batin Azka, yang merasa sangat senang karena itu sangat menguntungkannya.
“Baiklah, kalian boleh masuk.”
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam, dengan sudah memakai topeng pada wajahnya. Hal itu rupanya membuat Azka kebingungan, karena ia tidak bisa masuk ke dalam rumah itu, karena ia tidak memiliki tiket undangan. Lagipula, Azka memang sama sekali tidak mengenali teman dari Arga itu.
‘Bagaimana ini? Apa aku bisa masuk tanpa tiket?’ batin Azka, yang sedang memperhatikan panitia itu dengan saksama dan juga pandangannya yang terlihat bingung.
Azka harus mencari cara, untuk bisa masuk ke dalam rumah itu.
Beberapa saat menunggu, sang panitia terlihat memegangi perutnya saja. Hal itu diketahui oleh Azka, yang sejak tadi melihat ke arahnya.
‘Kenapa dia? Apa dia merasa mules?’ batin Azka yang terus melihat ke arahnya.
Hal itu ternyata sangat dimanfaatkan oleh Azka. Ia menyunggingkan senyumnya, dan segera masuk ke dalam rumah itu, tak lupa mengambil topeng itu untuk ia pakai pada wajahnya.
Setelah berhasil memakai topeng berwarna hitam, Azka pun bergegas masuk ke dalam ruangan untuk melihat-lihat keadaan di dalam.
Suasananya terlihat bukan seperti pesta anak seumuran 17 tahun. Pesta ini terlihat seperti pesta untuk orang yang sudah dewasa. Terlihat jelas dari banyaknya botol minuman alkohol yang dihidangkan di atas meja.
__ADS_1
Hal itu sungguh membuat Azka mendelik tak percaya, dengan keadaan yang seperti ini.
‘Gila! Kenapa banyak sekali alkohol di meja? Kenapa ini malah jadi seperti pesta orang dewasa?’ batin Azka, yang merasa sangat aneh dengan keadaan ini.
“Hei, kalian udah datang!” sapa seseorang dari sana, ke arah Alea dan juga Arga.
Mendengar suara teman Arga yang cukup keras, Azka segera berkamuflase dengan mengambil makanan ringan yang tersedia di meja makan. Ia hanya bisa memandang Alea saja, sembari menyantap berbagai hidangan yang ada.
‘Alea sepertinya sudah beberapa kali bertemu mereka,’ batin Azka, yang terus memperhatikan gerak-gerik keduanya.
Karena kondisi yang sepertinya tidak normal, Azka tidak bisa meninggalkan Alea begitu saja di sini. Ia juga memiliki firasat yang sangat buruk, yang mungkin akan terjadi dengan Alea.
“Ya, sudah datang! Keren, lo bisa ngebuat acara pesta yang meriah begini!” ujar Arga, yang berusaha menyanjung temannya yang memang sudah bersusah-payah mengadakan pesta semacam ini untuk mereka.
“Ah, ini masih biasa aja, kok! Gak usah berlebihan,” bantah temannya, yang juga berusaha untuk merendah di hadapan Arga.
__ADS_1
Arga tersadar dengan adanya Alea, “Oh ya, kenalin. Ini Alea. Lo mungkin lupa, tapi pernah gue bawa waktu ada party di rumah Abigael,” ujar Arga, membuat temannya yang bernama Martin itu berpikir sejenak.