Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Penjelasan


__ADS_3

Saat ini mereka sedang duduk berhadapan di sofa apartemen Alea. Mereka Alea tidak berani menatap ke arah Azka, yang saat ini memandangnya dengan tajam, dengan tangan yang ia sedekapkan.


“Coba jelaskan!” ujar Azka dengan tegas, Alea sedikit tersentak mendengar ucapan Azka yang seperti itu.


“Apa yang harus dijelaskan?” tanya Alea, Azka memandangnya dengan lebih tajam dibandingkan pandangannya yang tadi.


“Kenapa malah nanya?” tanya balik Azka, membuat Alea menghela napasnya dengan panjang.


Alea melihat bekas memar pada tangan Azka, yang ia pakai untuk menghajar Arga tadi. Bisa dibayangkan, betapa kerasnya Azka menghajar Arga tadi.


Melihat memar di tangan Azka, Alea pun merasa sangat sendu.


‘Karena aku, dia sampai terus terluka seperti itu,’ batin Alea, sembari menatapnya dengan sendu.


Azka bingung dengan tatapan Alea yang terus mengarah ke arah tangannya. Menyadari hal itu, Azka pun segera menyembunyikan tangannya di dalam saku jaketnya.


“Ini cuma luka kecil, sudah biasa juga. Jangan coba mengalihkan perhatian. Jelaskan saja apa yang terjadi antara kamu dan Arga tadi!” ujar Azka, yang buru-buru mengatakan demikian, agar Alea tidak mengalihkan topik pembicaraan mereka tadi.


Alea sangat ragu mengatakannya pada Azka. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, dan ketika pertemuan pertama mereka, ia malah melimpahkan semua permasalahan kepada Azka.


“Sudahlah, Ka. Aku gak mau bahas itu. Aku udah cukup sakit hati sama Arga,” ujar Alea, yang benar-benar tidak mau membahasnya.


Azka mendelik kesal mendengarnya, “Kalau aku tadi gak ada, gimana nasib kamu, Al? Untung aja aku tadi ngelihat Arga di jalan, dan segera ke sini buat ngelindungin kamu,” ujar Azka, yang benar-benar sangat memedulikan Alea.


Alea mendelik, lalu menunduk sendu mendengarnya. “Itu berarti, kamu di luar ruangan sejak tadi?” tanya Alea.


Azka menggelengkan kepalanya, “Aku ada di depan pintu ruangan kamar kamu.”


Mendengar hal itu, Alea pun langsung memandang ke arahnya.


“Kenapa saat aku keluar, kamu gak ada?” tanya Alea penasaran.

__ADS_1


“Aku langsung keluar, ketika kamu keluar.”


“Itu tandanya ... kamu tahu apa yang kita lakukan tadi?” tanya Alea lagi, membuat Azka menghela napasnya dengan panjang, kemudian mengangguk kecil mendengarnya.


Alea merasa sendu, lalu menunduk malu di hadapan Azka. Lagi-lagi ia menunjukkan sisi keji dirinya pada Azka, yang membuatnya menjadi malu sendiri di hadapan Azka.


“Sudahlah, Azka. Aku ini malu sama kamu. Jangan kamu deketin aku lagi, apalagi sampai bicara seperti itu sama Arga tadi. Aku benar gak mau, kamu terjebak dalam situasi yang menyulitkan kamu,” ujar Alea, yang benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Azka inginkan darinya.


Namun Azka tidak begitu. Azka sama sekali tidak memedulikan apa pun yang Alea katakan. Ia hanya memegang teguh pendiriannya, yang tetap mencintai Alea dengan sepenuh hatinya.


“Aku gak peduli, Al. Dari dulu sampai sekarang, aku sama sekali gak peduli soal itu. Aku tetap cinta sama kamu, walaupun kamu pacaran sama Arga waktu itu,” bantah Azka, yang benar-benar membuat Alea tak habis pikir jadinya.


Alea memandang ke arah Azka dengan dalam, “Kamu gak mikir ya, Ka? Aku beneran gak bisa, aku malu sama kamu. Aku yang udah dua kali mengandung, sementara kamu sama sekali belum pernah ngelakuin itu,” ujar Alea, membuat wajah Azka menjadi memerah mendengarnya karena malu.


Azka mengalihkan pandangannya dari Alea, “Sudah, sama kamu.”


Mendengar ucapan Azka, Alea pun sontak mendelik kaget, dengan wajah yang memerah karena malu. Ia merasa ucapan Azka benar, tetapi karena ucapan itu, ia jadi teringat kembali dosa yang Azka lakukan, sampai membuat bayi yang ada di dalam kandungannya menjadi gugur.


‘Bayiku sudah tidak ada, sementara orang yang merupakan ayah biologisnya, sudah tidak aku pedulikan lagi. Untuk apa juga aku marah lagi pada Azka?’ batin Alea, yang benar-benar sudah terbuka hatinya.


“Azka,” panggil Alea, membuat Azka memandang ke arahnya.


“Kenapa, Al?”


Sejenak mereka saling pandang, membuat sebuah suasana yang sangat rancu. Namun, Alea tetap memandang ke arah Azka, dengan tatapan yang sangat serius.


“Aku gak bisa nerima kamu,” ujar Alea, membuat hati Azka seketika menjadi sangat sedih.


“Ada apa, Al? Apa karena kamu masih marah sama aku, karena aku sudah membuat bayi kamu gugur?” tanya Azka, Alea menggelengkan kepalanya.


“Aku gak bisa, karena kamu terlalu baik buat aku yang sudah seperti ini,” jawab Alea, membuat hati Azka menolak, tak bisa menerimanya.

__ADS_1


“Semua wanita juga bicaranya begitu, Al.” Azka memandangnya dengan tegas.


“Memangnya kamu tahu? Kamu pernah pacaran sama semua wanita?” tanya Alea, dengan sedikit selorohannya.


Tanpa basa-basi lagi, Azka yang sedang duduk di hadapannya, seketika bangkit untuk duduk di sebelah Alea. Ia segera mengecup bibir Alea, sontak membuat Alea mendelik kaget mengetahuinya.


Tak terpikir tentang Azka yang masih saja mencintainya, sedangkan Alea sudah tidak sesuci yang para lelaki inginkan. Namun, bukan itu yang Azka inginkan, melainkan perasaannya harus terbalas oleh Alea. Ia hanya ingin satu, seumur hidupnya. Yaitu Alea.


Azka mengubah kecupan itu menjadi *******, membuat Alea hanyut dengan ciuman dan perasaan Azka saat ini.


Azka menghentikan ciumannya, lalu memandang dalam ke arah Alea.


“Will you marry me?” tanya Azka, sontak membuat hati Alea bergetar mendengarnya.


Tak ada yang mengatakan hal ini di hadapannya, bahkan Arga sekalipun. Alea merasa sangat bahagia, entah mengapa rasa egois yang membeku di hatinya perlahan mencair, sehingga membuat senyumannya merekah di kedua sisi pipinya.


“Yes, I will.”


Mendengar jawaban itu dari Alea, benar-benar membuat Azka menjadi sangat senang dan bahagia. Ia merasa bunga yang berada dalam hatinya seketika merekah, saking senang dan bahagianya mendengar jawaban Alea yang sangat membuatnya bahagia.


Dipeluknya Alea dengan sangat erat, dengan Alea yang juga membalas pelukan Azka dengan sama eratnya. Mereka menumpahkan perasaan mereka sepenuhnya, pada pelukan itu.


Entah apa yang membuat Alea menerima Azka. Yang jelas, Alea sudah memilih jalan yang sangat tepat.


Rasa bahagia yang meliputi mereka, membuat bunga cinta bermekaran di sekitar mereka. Betapa indahnya cinta bila berbalas, apalagi orang yang sudah bertahun-tahun menjadi incaran.


“I love you, Alea,” bisik Azka pada telinga Alea, membuat Alea merinding geli mendengarnya.


“Ya, aku juga sayang kamu,” jawab Alea, yang sebenarnya belum sepenuhnya mencintai dan menyayangi Azka.


Namun, Azka yang mengetahuinya tidak memedulikannya. Ia mengerti, suatu saat Alea pasti akan mencintainya. Hanya butuh waktu untuk mereka bisa saling mencintai, apalagi Arga sudah tidak berada di sisi Alea. Itu akan mempermudah perasaan Azka ke depannya terhadap Alea.

__ADS_1


***


__ADS_2