
Dalam berapa waktu terakhir mereka –Alea dan Azka– tidak bertemu satu sama lain. Setelah mengantarkan Alea ke bandara, Azka sudah tidak pernah melihat Alea secara langsung lagi.
Namun, mereka masih tetap saling bertukar kabar, karena Azka yang meminta agar Alea tidak menjauhinya. Alea mengiyakan, dan mereka pun setiap malamnya bertukar kabar, setelah selesai beraktivitas.
Alea masih mencari lowongan pekerjaan untuk guru taman kanak-kanak, yang ia perlukan. Sementara lamaran Azka sudah diterima, di salah satu perusahaan ternama di kota B. Ya, kota Alea tinggal sekarang.
Azka tidak memberitahu Alea mengenai ini, karena ia akan bersikap seolah ini adalah hal yang kebetulan. Ia tidak ingin, Alea sampai merasa risih kembali, karena ternyata harus satu ruang lingkup dengan dirinya lagi.
Alea membuka pintu apartemennya, yang dibelikan oleh ayahnya, sebagai sarana Alea untuk bekerja di kota B tersebut.
Ayahnya sangat mendukung Alea, karena ia tidak tahu lagi harus memberikan perhatian seperti apa, ke Alea yang sudah bertambah dewasa itu.
Jika ia melarang Alea, ia berpikir itu sudah tidak dibutuhkan lagi, karena usia Alea yang juga sudah bukan usia anak-anak lagi.
Ditutupnya kembali pintu tersebut, kemudian ia melangkah ke arah sofa yang tak terlalu besar. Ia menghempaskan tubuhnya di atasnya, sembari menghela napasnya dengan panjang.
Matanya ia pejamkan, saking lelahnya seharian ini ia mencari dan terus mencari lowongan pekerjaan yang ada. Namun, hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak bisa menemukan lowongan pekerjaan yang ia inginkan.
“Kenapa sulit sekali mencari pekerjaan yang kita inginkan?” gumam Alea, sembari memijat keningnya yang terasa sangat berat.
Malam sudah semakin larut, Alea masih belum mengisi makanan sejak siang tadi. Perutnya terasa sangat keroncongan, karena saking semangatnya ia mencari pekerjaan, ia sampai lupa dengan perutnya yang sama sekali belum terisi makanan.
“Laper ...,” gumam Alea, yang lalu membuka matanya untuk segera memesan makanan online.
Belum sempat ia memesan makanan, sebuah nama bertuliskan ‘Azka’ saat ini menghubunginya. Alea menerima telepon darinya, untuk sekadar memberikan kabar padanya.
“Halo, Azka?” sapa Alea, yang kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
“Halo, Al. Sudah sampai?” tanya Azka, Alea mengangguk kecil, merasa seolah-olah Azka sedang ada di hadapannya.
“Sudah, baru sampai,” jawab Alea singkat.
“Bukan, makanannya,” bantah Azka, membuat kening Alea mengerut mendengarnya.
“Makanan apa?”
“Aku pesankan kamu makan malam,” ujar Azka, membuat Alea terdiam sejenak mengetahuinya.
Terkadang, Alea merasa kalau Azka sangat memerhatikan dirinya. Ia jadi tidak enak sendiri, karena Azka selalu memerhatikannya layaknya seorang pasangan yang idealis.
Bukan membuatnya senang, hal itu justru membuat Alea merasa sangat tidak enak hati.
__ADS_1
Alea menghela napasnya panjang, “Azka, kamu—”
TING NONG ....
Suara bel terdengar dengan jelas, tanda seseorang yang sedang berada di luar ruangan apartemennya. Alea tersadar, kalau yang ada di luar ruangan tersebut, mungkin adalah kurir makanan yang Azka pesankan untuknya.
“Baru sampai kurirnya,” ujar Alea, yang lalu meletakkan handphone-nya di atas sofa, kemudian segera menuju ke arah pintu apartemennya untuk mengambil makanan tersebut.
Dibukanya pintu apartemennya itu, dan benar saja, di hadapannya saat ini, terlihat seorang pengantar makanan, yang membawa makanan yang sudah Azka pesankan untuk Alea.
“Mbak Alea, ya?” tanyanya.
“Ya, Mas.”
“Ini ada kiriman makanan dari Azka,” ujarnya, membuat Alea tersenyum sembari mengambilnya.
“Ya, terima kasih,” ujar Alea, yang lalu masuk ke dalam apartemennya kembali.
Alea meraih handphone-nya, yang masih tersambung dengan Azka di sana.
“Azka, harusnya kamu gak usah kirim makanan begini. Kamu ‘kan belum keterima kerja,” ujar Alea, yang merasa sangat tidak enak hati dengan Azka.
“Hah? Kamu keterima kerja di kota B?” pekik Alea, yang benar-benar merasa terkejut dengan ucapan Azka.
“Iya, sebentar lagi kita ketemu ya. Makanannya jangan dihabisin, kita makan bareng,” ujar Azka, membuat Alea bertambah bingung mendengarnya.
“Maksudnya gimana?”
TENG ... NONG ....
Alea mendelik kaget, mendengar suara bel rumahnya berbunyi kembali. Dengan segera, ia pun berlarian ke arah pintu apartemennya. Ia membuka pintu tersebut, dan mendelik ketika melihat ada Azka di hadapannya.
“Azka?” pekik Alea dengan rasa terkejut yang teramat dalam.
“Hai,” sapa Azka, yang hanya bisa menyeringai saja di hadapan Alea.
“Kamu kenapa bisa ada di sini? Kenapa tiba-tiba banget, sih?” tanya Alea, yang tidak habis pikir dengan apa yang Azka lakukan.
“Surprize,” ucap Azka singkat.
Ya, bersama dengan Azka, selalu banyak kejutan.
__ADS_1
Alea terdiam lama sekali, saking tak habis pikir dirinya dengan apa yang Azka lakukan.
‘Dia beneran penuh dengan kejutan,’ batin Alea, merasa sangat heran dengan yang Azka lakukan.
Keningnya mengerut, “Aku gak disuruh masuk?” tanya Azka, mengembalikan kesadaran Alea.
“Oh ya, silakan,” ucap Alea, yang mempersilakan Azka masuk ke dalam apartemennya.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan apartemen Alea. Azka duduk di sofa, sementara Alea mengikutinya dan duduk di sampingnya.
“Kamu belum makan, ‘kan?” tanya Azka, Alea menggeleng.
“Aku belum makan.”
“Ya sudah, kita makan sama-sama,” ajak Azka, sembari menyiapkan makanan cepat saji yang sudah ia pesan itu.
Alea memandang ke arah Azka, yang saat ini sedang menyiapkan makanan. Ia merasa heran, sekaligus merasa sangat kasihan dengan Azka.
‘Dia sudah sebegininya sama aku, tapi kenapa aku gak bisa melihat dia sebagai seorang lelaki? Aku selalu melihat dia sebagai seorang teman, dan gak lebih dari itu,’ batin Alea, merasa sangat sendu dengan keadaan mereka saat ini.
Azka sudah selesai menyiapkan makanan tersebut. Ia memandang ke arah Alea, yang memandang ke arahnya dengan tatapan yang sendu.
‘Dalam hatinya mungkin sedang berpikir tentang apa yang aku lakukan,’ batin Azka, yang sudah menebak yang Alea lakukan itu.
“Aku sengaja beli banyak, biar kita bisa makan bareng,” ujar Azka, sukses membuyarkan lamunan Alea.
“Ah, kenapa kamu selalu bikin aku kaget, sih?” gumam Alea, sembari mengambil segelas minuman ringan, yang ada di hadapannya.
Azka tertawa kecil, “Inilah aku. Penuh dengan kejutan,” selorohnya.
Mereka memulai untuk memakan makanan yang sudah tersedia, sambil sesekali berbincang ringan.
“Oh ya, gimana? Kamu sudah dapat pekerjaan yang kamu mau?” tanya Azka, Alea menggelengkan kepalanya.
“Belum.”
Azka mendelik kaget mendengarnya, “Hah? Ini sudah sebulan, dan kamu masih belum juga dapat?” ujarnya, Alea hanya bisa memandangnya dengan bingung, sembari sesekali menyedot minuman yang masih ia pegang itu.
Suasana nampak menjadi tegang, karena memang Alea yang benar-benar belum bisa menemukan pekerjaan yang ia inginkan itu.
__ADS_1