
Setelah jam pelajaran usai, semua siswa bersiap untuk kembali pulang ke rumah. Alea dengan semangat, melangkahkan kakinya untuk menuju ke arah lorong koridor tempat biasa ia menunggu Arga.
Bukannya bertemu dengan Arga, ia malah bertemu dengan sosok Azka yang saat ini terlihat kebetulan berpapasan dengannya.
Langkah mereka terhenti satu sama lain, dan kini mereka pun merasa canggung karena sudah berhadapan satu sama lain.
“Kamu lagi! Kamu ngikutin aku, ya?!” ketus Alea, yang merasa sangat tidak suka jika ada orang yang menguntitnya.
Azka yang memang kebetulan lewat, hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.
“Siapa yang mengikutimu? Aku memang ingin pulang, kok!” bantah Azka, yang merasa tidak melakukan apa yang Alea tuduhkan.
Walaupun Azka ingin menemui Alea, tetapi ia tidak berniat untuk mengikutinya kali ini.
Mendengar bantahan dari Azka, Alea hanya bisa memutar bola matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang Azka katakan.
__ADS_1
“Aku gak percaya sama sekali sama kamu!” bentaknya, membuat Azka lagi-lagi harus menghela napasnya dengan panjang.
“Terserah apa yang kamu bilang. Intinya, aku sama sekali gak bermaksud begitu!” ujar Azka, yang merasa sangat terbebani dengan sikap Alea yang seperti ini.
Azka memandang dingin ke arah Alea, ‘Wajahnya saja yang cantik, tapi kenapa sikapnya menyebalkan seperti itu, sih?’ batinnya yang merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang ia rasakan itu.
Merasa sedang dijelekkan di dalam hati, Alea pun tidak terima dengan tatapan mata Azka yang seperti itu.
“Ngapain kamu ngelihat aku kayak gitu? Kamu ngatain aku, ‘kan?!” bidik Alea, membuat Azka memandangnya dengan dalam.
Karena mendengar hal itu, Alea merasa sangat kesal dengan pengakuan dari Azka.
“Tuh ‘kan! Kamu tuh ya, cowok yang gak bener!” bentak Alea, Azka lagi-lagi hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.
“Aku bohong salah, aku jujur pun salah. Jadi, aku harus bagaimana?” tanya Azka dengan dingin, membuat Alea semakin kesal mendengarnya.
__ADS_1
Tepat di depan gerbang sekolah, Arga menyadari keberadaan Alea yang sedang berbincang dengan seorang lelaki yang tidak ia kenal. Ia memandang bingung ke arah lelaki itu, karena ia belum pernah melihat Alea berbincang dengan lelaki yang ada di hadapannya.
‘Alea sedang bicara dengan siapa?’ batin Arga, yang bingung dengan keadaan.
Azura yang berada di sampingnya, merasa bingung dengan apa yang Arga lihat. Azura, gadis cantik yang ia temui waktu jam istirahat tadi, yang saat ini juga sedang berjalan bersama dengannya.
“Kamu lihat apa?” tanya Azura, yang berusaha untuk bersikap tidak tahu apa-apa.
Azura memiliki sifat seperti itu. Walaupun ia tahu, tetapi ia ingin sekali mendengarnya langsung dari mulut Arga agar semuanya jelas.
Arga terkejut, dan memandang ke arah Azura dengan senyuman.
“Tidak ada. Ayo, kita pulang!” jawab Arga, yang langsung mendapatkan anggukan dari Azura.
Mereka pun melangkah keluar gerbang sekolah, dengan Arga yang masih melirik ke arah Alea yang sedang berbincang dengan lelaki yang tidak ia kenal. Arga seperti tidak rela, tetapi ia tidak bisa melakukan apa pun jika sedang berhadapan dengan Azura.
__ADS_1
Sementara itu, perseteruan Alea dan Azka masih saja terjadi. Mereka sama-sama tidak bisa menerima apa yang mereka katakan.