
“Jangan kau sakiti Alea!!” pekik Azka, yang tak bisa menerima apa yang mereka lakukan terhadap wanita yang ia cintai.
“Enggh ....”
Azka mendelik, karena ia mendengar suara erangan dari Alea yang berada di dalam mobil penjahat itu. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Alea. Karena merasa demikian, ia segera meninggalkan sang ketua yang sudah terkapar lemas di atas aspal itu, dan segera melihat keadaan Alea yang berada di dalam mobil mereka.
“Alea?!” pekik Azka, yang mendadak kaget melihat kondisi Alea yang sudah sangat kacau itu.
Tanpa pikir panjang, Azka segera membuka jas hitam yang ia kenakan, lalu menyelimuti tubuh Alea yang sudah setengah telanjang itu.
“Ayo, kita pergi dari sini!” ajak Azka, yang langsung menggendong Alea pergi dari mobil para penjahat itu.
Azka berlarian menembus hujan, lalu segera meletakkan Alea ke dalam mobilnya. Ia segera masuk ke dalam kursi kemudi, lalu menghela napasnya sejenak.
__ADS_1
Walaupun ia sudah sangat mahir dalam ilmu bela diri, tetapi beberapa pukulan mereka berhasil mengenai wajah serta beberapa bagian tubuh Azka lainnya.
“Bertahan, Alea!” gumam Azka, yang memandang ke arah Alea dengan bingung.
Azka pun membawa Alea menuju ke apartemen yang Alea tempati. Namun, di tengah perjalanan, Azka berpikir sejenak karena beberapa hari yang lalu Alea mengubah password pintu masuk ke ruangan kamarnya. Ia sama sekali tidak mengetahui tentang password baru yang Alea gunakan.
Azka menepikan mobilnya, dan memandang ke arah Alea sejenak. Terlihat Alea yang sudah tidak keruan, sehingga ia berpikir mungkin Alea tidak akan bisa menjawab pertanyaan yang nantinya ia tanyakan pada Alea.
‘Mungkin dia sedang tidak bisa menjawab pertanyaanku,’ batin Azka yang merasa kebingungan saat ini.
‘Apakah boleh membawanya ke apartemenku?’ batin Azka yang merasa sangat bingung dengan keadaan.
Meskipun Azka memang harus membawanya ke apartemennya, tetapi ia sama sekali tidak ingin sampai Alea berpikiran yang macam-macam terhadapnya.
__ADS_1
‘Aku harus membawanya, tapi aku tidak ingin ia berpikir macam-macam terhadapku. Apalagi, keadaannya sekarang sepertinya tidak baik,’ batin Azka yang merasa setengah bimbang karenanya.
Karena keadaan yang terdesak, Azka pun menghela napasnya dengan panjang. Apartemen mereka memang tidak jauh, hanya berbeda beberapa gedung. Hal itu memudahkannya ketika Alea membutuhkan bantuan darinya.
Akhirnya, dengan segala perdebatan batin, Azka pun membawa Alea untuk pergi ke apartemen miliknya. Mereka sudah sampai di basement.
Azka memandang ke arahnya dengan bingung, “Bagaimana cara aku membawa Alea ke atas?” gumamnya yang masih khawatir kalau mereka yang berpapasan dengannya nanti, akan bertanya yang macam-macam.
“Ah!” gumam Azka, yang berusaha untuk menafikan semua pemikirannya tentang mereka.
“Yang terpenting sekarang, adalah Alea!” gumamnya lagi, yang lalu menguatkan tekadnya untuk membawa Alea ke apartemennya.
Azka pun keluar dari mobilnya, dan segera membawa Alea ke ruangan apartemennya. Ia memapah Alea dengan hati-hati, sampai tidak memedulikan keadaan sekitar. Banyak orang yang masih berlalu-lalang di sana, dan melihat Azka yang sedang membopong Alea dengan susah payah.
__ADS_1
Hampir semua orang berpikir yang macam-macam dengan Azka, tetapi Azka sama sekali tidak memedulikannya. Ia terus membawa Alea ke dalam lift, sampai akhirnya lift itu sampai pada lantai 18 ruangan apartemen miliknya.
Mereka keluar dari lift, dan Azka segera memasukkan kode sandi dari ruangan apartemennya.