
Beberapa perawat melakukan apa pun yang mereka bisa. Mereka menyiapkan kelengkapan peralatan untuk Alea, dengan Azka yang hanya bisa memandang mereka dengan nanar.
“Tunggu sampai dia sadar, kalian bisa langsung pulang. Jangan lupa untuk mengurus administrasi keuangannya,” ujar sang perawat, yang menitipkan pesan seperti itu pada Azka.
Azka mengangguk mantap mendengarnya, “Baik, terima kasih.”
Mereka pun pergi dari hadapan Azka, meninggalkan Azka bersama dengan Alea di sana.
Dilangkahkan kakinya ke arah Alea yang terbaring di atas ranjang rawat rumah sakit. Azka menatap sendu ke arah Alea, lalu segera duduk pada kursi yang ada di hadapan Alea.
Tangannya meraih ke arah tangan Alea, berusaha untuk menguatkan diri Alea.
“Al, kenapa bisa jadi begini, sih?” gumam Azka, yang benar-benar tidak mengerti dengan tragedi yang menimpa Alea ini.
Karena dirinya yang tidak bisa menjaga Alea, membuat Alea hampir saja kehilangan nyawanya. Jika ia tidak memiliki firasat seperti itu, mungkin tidak ada yang bisa menemukan Alea.
Alea pasti sudah hilang, bersama harga dirinya sebagai seorang wanita.
Tak sadar, air mata Azka terjatuh. Ia tidak kuasa melihat nasib Alea yang seperti ini. Kisahnya terlalu pilu, sehingga membuat Azka saja tidak kuasa memikirkan perasaan Alea.
“Al, gimana selanjutnya? Apa kamu masih mau mencintai orang seperti Arga? Apa kamu tetap gak bisa melepaskan Arga?” gumam Azka, yang sudah tidak sanggup lagi melihat mereka bersama.
Bukan tidak rela melihat Alea bahagia, tetapi Azka justru tidak rela melihat Alea tersakiti lagi seperti ini, oleh orang yang sama berulang kali.
Diciumi punggung tangan Alea, saking prihatinnya ia dengan keadaan yang menimpa Alea.
Handphone Azka berdering, membuatnya segera menerima telepon tersebut, yang ternyata adalah dari bundanya.
“Halo, Bun,” sapa Azka.
“Halo, Azka. Kamu di mana sekarang? Kamu gak apa-apa?” tanya Bunda, dengan nada yang terdengar jelas sangat mengkhawatirkan keadaan Azka.
Sepertinya, seseorang sudah menghubungi Bunda, sehingga Bunda mengetahui keadaan Azka saat ini.
Azka menghela napasnya dengan panjang, “Azka gak apa-apa, Bunda,” jawabnya, yang membuat Bunda menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1
Azka hanya mengatakan hal yang membuat ibunya tenang, karena ia tidak ingin membuat orang tuanya itu merasa khawatir terhadap keadaannya.
Padahal, karena kejadian ini, kakinya sampai terluka cukup parah. Beruntung hanya sebelah kakinya saja, sehingga Azka masih bisa berjalan, walau dengan kaki yang pincang.
“Bunda tau dari mana?” tanya Azka heran.
“Bunda dikasih tau sama Pras. Kamu katanya lagi ada di rumah sakit, nolongin teman kamu yang sakit. Terus gimana kaki kamu? Gak apa-apa?” ujarnya.
Sebagaimana perasaan orang tua terhadap anaknya, Bunda pastilah sangat khawatir dengan Azka. Terlebih lagi Azka adalah anak sematawayangnya.
“Tadi udah ditangani sama dokter. Bunda tenang aja, ya,” ujar Azka, berusaha untuk membuat ibunya tenang.
Namun tetap saja, Bunda malah semakin tidak tenang mendengarnya.
“Kamu kenapa sih sering bikin Bunda deg-degan? Bunda takut kamu kenapa-napa,” ujarnya, membuat Azka tersenyum tipis mendengarnya.
Azka memandang ke arah Alea yang masih belum sadarkan diri, sembari mengelus lembut tangan pucat Alea.
“Azka beneran gak apa-apa, Bunda.”
“Gak usah, Bunda. Nanti Azka harus antar teman dulu. Lagipula, Azka sudah bilang sama Pras untuk menjemput Azka di rumah teman Azka yang sakit ini,” tolaknya, membuat Bunda semakin khawatir saja dengan keadaan Azka.
“Ya tapi benar kamu gak kenapa-napa, ‘kan?” tanyanya memastikan kembali keadaan Azka.
“Ya, Bunda. Aku tutup ya teleponnya.”
“Ya udah, hati-hati nanti di jalan pulang.”
Azka tersenyum, lalu memutuskan sambungan telepon mereka.
Perhatian Azka kembali tertuju ke arah Alea. Ia kembali merasa sendu, karena melihat nasib Alea yang sangat tidak baik.
“Al, kalau kamu udah sadar, tolong dengerin ini. Aku beneran peduli sama kamu. Aku gak mau kamu menjalani hubungan yang toxic ini lagi. Aku mau kamu bahagia, bukan dengan cara seperti ini,” gumam Azka, tetapi sama sekali tidak ada respon apa pun dari Alea.
Azka menghela napasnya dengan panjang, berusaha untuk menahan dirinya untuk berekspresi, sebelum Alea sadarkan diri.
__ADS_1
Karena efek dari menahan diri itu, luka itu baru saja berasa efeknya saat ini. Rasa sakitnya cukup dahsyat, sehingga membuat Azka meringis kesakitan.
“Aduh ... baru kerasa sekarang sakitnya. Gimana ini?” gumam Azka, yang merasa ngilu pada kakinya.
Beberapa jam berlalu, Azka masih tetap setia menunggu Alea sampai ia sadarkan diri. Tidak ada kata lelah untuk Azka, ia masih duduk sembari menggenggam tangan Alea dengan erat.
Senyumnya merekah, ketika ia merasakan tangan Alea yang bergerak. Ia senang, karena Alea sudah sadarkan diri.
“Al!” gumam Azka, Alea masih berusaha untuk membuka matanya yang sangat berat.
Efek dari obat-obatan dan juga suntikan yang Alea terima, membuatnya kesulitan membuat matanya.
Beberapa saat berusaha untuk membuka matanya, Alea pun berhasil membuka matanya, walaupun tidak lebar. Ia mendapati Azka yang ada di hadapannya, sembari menggenggam tangannya dengan erat.
“Syukur deh kamu udah sadar,” ujar Azka, Alea memandangnya dengan bingung.
“Azka, kenapa aku ada di sini? Ini di mana?” tanyanya, bingung dengan keadaannya.
“Ini di rumah sakit, Al. Kamu ... keguguran,” jawab Azka, yang sebenarnya sangat ragu untuk mengatakan hal ini pada Alea.
Mendengar ucapan Azka, Alea tersenyum pahit. Ia tidak menyangka, kejadiannya akan seperti ini.
“Ah ... kenapa jadi begini?” gumam Alea, sembari memejamkan matanya, saking lelahnya ia menghadapi keadaannya yang tidak beruntung ini.
Merasa penasaran dengan yang Alea lakukan, Azka pun memandangnya dengan dalam.
“Kamu kenapa, Al? Kenapa bisa kamu begini? Kok kamu ada di ruangan itu sendirian?” tanya Azka, yang sangat khawatir dengan keadaan Alea.
Alea menghela napasnya dengan panjang, “Aku mau ngomong sama Arga, untuk kasih tau kalau aku hamil anak dia. Tapi ternyata aku gak ngelihat Arga, dan malah ada orang yang ngunci pintu ruangan itu. Aku kaget, dan lari ke arah pintu. Saat aku lari itu, kaki aku kesandung balok dan akhirnya ... semuanya terjadi,” ungkap Alea menjelaskan, yang sedikitnya membuat Azka mengerti dengan alurnya.
“Aku paham, Al. Tapi kenapa kamu punya pemikiran seperti itu? Apa sebelumnya kamu gak menduga hal ini akan terjadi sama kamu?” tanya Azka, Alea memandangnya dengan sendu.
“Ah ... aku gak tau akan seperti ini jadinya. Aku sedih karena kehilangan anakku, tapi sejujurnya aku juga belum siap untuk memiliki anak,” ungkapnya lagi, membuat Azka menganggukkan kepalanya mengerti.
Azka memandangnya dengan dalam, “Aku turut prihatin. Aku sedih kamu begini,” gumamnya, membuat Alea tersenyum tipis mendengarnya.
__ADS_1