Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Terpaksa Menangani


__ADS_3

“Nanti ya, Pras. Pasti gue bakal cerita semuanya ke lo,” ujar Azka, yang sudah tidak bisa membuat Pras berkata apa pun lagi.


Meski sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Azka, Pras lebih menghargai pendapat Azka untuk menunggunya memberi tahu semua hal yang terjadi padanya.


“Oke, tapi kalau ada apa-apa, kasih tau gue, ya?” ujar Pras, Azka tersenyum tipis mendengarnya kemudian mengangguk kecil ke arahnya.


Hal itu sedikit membuat Pras tenang, karena beban pikirannya tentang hal ini sudah sedikit berkurang.


“Permisi,” ucap seseorang yang baru saja datang dari luar ruangan.


Pras dan Azka melirik ke arah pintu masuk ruangan UKS, dan tersadar dengan Alea yang saat ini sedang berada di sana.


Azka sangat terkejut, karena melihat kedatangan Alea di sana. Hal itu sangat di luar dugaannya. Ia jadi tidak repot-repot untuk mencari keberadaan Alea, untuk memberi tahu kejadian yang sebenarnya padanya.


“Alea, kok di sini?” tanya Pras, yang merasa heran dengan kedatangan Alea di ruangan rawat Azka ini.

__ADS_1


Alea memandang sinis ke arah Pras, “Aku ketua PMR! Wajar gak sih kalau aku di sini?” ujarnya sinis, membuat Pras mengerti dengan maksud dari Alea.


Azka tersenyum tipis mendengarnya, ‘Baguslah, aku jadi tidak repot mencari dia,’ batin Azka yang merasa sangat senang bisa melihatnya di sini.


“Oh gitu, maaf soalnya aku gak tahu.”


Alea tak menghiraukan ucapan Pras, dan malah memandang sinis ke arah Azka. Melihat pandangan Alea yang sangat sinis, hal itu membuat Azka mendadak bertanya-tanya dengan pandangannya itu.


Walaupun sudah sering mendapatkan tatapan sinis seperti itu, tetapi karena ada masalah ini, Azka sangat was-was kalau saja Alea berbicara yang macam-macam di hadapan Pras.


“Harusnya aku gak jadi ketua PMR!” gerutu Alea, yang langsung menuju ke arah meja di samping ranjang tidur Azka.


Alea meletakkan peralatan P3K yang selalu ia bawa di area sekolah, dan selalu ada saat pertandingan baske Arga dimulai. Hal itu ia lakukan, karena ia harus berjaga-jaga dari kejadian yang tidak diinginkan saat pertandingan basket. Terlebih lagi jika kejadian tidak mengenakkan itu sampai menimpa orang yang ia sayangi, yaitu Arga.


Karena suasananya yang canggung, Alea pun menatap sinis ke arah Pras dan merasa sangat terancam saat ini.

__ADS_1


Azka sangat paham dengan apa yang terjadi di sini. Ia memandang ke arah Pras.


“Tolong tinggalin kita berdua di sini, ya?” pinta Azka dengan nada rendah, Pras merasa bingung mendengarnya.


“Hah? Ninggalin kalian berdua di sini?” gumam Pras, yang ternyata masih belum menyadari apa yang Azka inginkan.


Azka hanya bisa mengangguk kecil, dengan Pras yang terlambat menerima signal darinya. Hal itu membuat suasana di sana semakin canggung saja.


“O-oh, oke deh. Nanti gue anter lo pulang, ya?” ujar Pras, yang sama sekali tidak melepas tanggung jawabnya sebagai satu-satunya teman dari Azka.


Mendengar ucapan Pras, hal itu sangat membantu dirinya yang memang sedang tidak bisa menyetir kendaraannya.


“Nanti lo pulang naik apa?” tanya Azka.


“Kebetulan tadi gue gak bawa motor. Mungkin nanti gue naik taksi pulang dari rumah lo.”

__ADS_1


Mendengar ucapannya yang sepertinya sangat tulus, Azka hanya menghela napasnya dengan panjang.


__ADS_2