
Akhirnya, Alea menyetujui untuk pulang bersama dengan Azka. Itu semua karena ia merasa keselamatannya jauh lebih penting, daripada gengsi yang ia miliki.
Azka masih tidak sadar kalau Alea ingin pulang bersama dengannya. Karena itu, Azka berjalan lebih dulu daripada Alea dan seakan meninggalkan Alea di sana.
Melihat Azka yang berjalan seakan meninggalkannya, Alea pun merasa sangat kesal karena ia seakan tidak dianggap.
‘Katanya dia mau pulang bareng sama aku? Kenapa malah ninggalin aku begitu, sih?’ batin Alea yang merasa sangat kesal karenanya.
Azka sudah sampai di motornya, dan segera memakai helm untuk melindungi kepalanya. Alea masih berada di belakangnya, dan memandangnya dengan sinis.
Alea terus memandangi Azka, sampai Azka selesai bersiap-siap dan tinggal menjalankan motornya saja. Ketika Azka hendak menjalankan motor, Alea pun menepuk bahunya dengan kasar.
“Eh, katanya mau bareng pulangnya?” ujar Alea dengan sinis, membuat Azka menghentikan aktivitasnya dan memandangnya dengan bingung.
“Lho, bukannya kamu gak mau pulang bareng sama aku tadi?” gumam Azka yang merasa kebingungan sekarang atas apa yang Alea pikirkan.
“Ya terus, kamu setuju gitu aja?” sinis Alea, sontak membuat Azka mendelik bingung mendengarnya.
Azka merasa kebingungan, dan hanya bisa pasrah saja pada mahluk Tuhan yang satu ini.
Wanita memang sungguh tidak bisa ditebak.
“Naik aja,” ujarnya, terdengar sangat tidak ikhlas menurut perasaan Alea.
“Ih, gak ikhlas banget, sih!” bentaknya kesal, membuat Azka merasa semakin kesal karenanya.
‘Ini cewek kenapa, sih? Tadi gak mau, sekarang mau tapi begitu,’ batinnya kesal.
“Jadi aku harus gimana, Alea?” tanya Azka, yang masih berusaha untuk sabar di hadapan Alea.
Alea merasa sangat kaget, karena Azka yang masih bersikap sabar ketika ia bersikap tidak baik padanya. Hal itu sangat bertolak belakang dengan yang Arga lakukan.
Baru sedikit saja Alea membuat kesalahan, Arga sudah merasa sangat kesal dan bahkan membuat Alea selalu merendah di hadapannya. Berbeda dengan ketika ia berhadapan dengan Azka. Azka yang malah merendah di hadapannya saat ini.
‘Dia kenapa, sih? Kok beda banget sama Arga? Arga kenapa marah-marah mulu ya, sekarang? Kenapa Azka jadi lebih sabar, beda dengan saat pertama kita ketemu?’ batin Alea yang mulai berpikir dengan jernih dalam keadaan seperti ini.
Azka masih menunggu Alea, yang saat ini masih berdiri sembari menatapnya dengan sinis.
__ADS_1
Karena hari sudah semakin sore, Azka merasa harus secepatnya mengantarkan Alea dan juga harus secepatnya kembali ke rumah. Kalau tidak, mungkin Bundanya akan sangat khawatir, karena keadaan diri Azka yang memang masih baru saja pulih dari sakitnya.
‘Ini kalau dibiarkan bakalan lama,’ batin Azka yang berusaha keras untuk berpikir dengan keadaan yang ada.
Azka menyodorkan telapak tangan kirinya di hadapan Alea, membuat Alea terkejut karena Azka yang menurutnya sangat bersikap baik padanya.
“Ayo naik!” suruh Azka, Alea hanya bisa memandangnya dengan bingung.
‘Dia sweet banget?’ batin Alea bertanya-tanya.
Setelah beberapa saat menunggu, Azka pun kembali menyodorkan tangannya kepada Alea, membuat Alea tersadar dan langsung menangkap telapak tangan Azka yang ia berikan padanya.
Alea pun naik ke atas motor sport milik Azka, sehingga Azka bisa dengan cepatnya mengendarai motor tersebut untuk mengantarkan Alea sampai ke rumahnya.
Mereka pun menuju perjalanan pulang ke rumah Alea, membuat Alea merasa sangat bingung dengan keadaan.
‘Bahkan Arga pun gak mau nganter aku, kenapa Azka mau nganter aku pulang?’ batin Alea, yang masih bingung bertanya-tanya dengan keadaan.
Beberapa saat berlalu, Azka pun menemui jalan pemisah di hadapannya.
“Ini belok mana?”
Mereka pun menuju ke arah yang Alea katakan. Namun, pemikiran Azka menjadi terus memikirkan tentang keadaan Alea.
“Kamu gak enak badan, ya? Mau aku antar ke klinik dulu?” tawar Azka, membuat Alea merasa sangat bingung mendengarnya.
‘Klinik, ya?’ batin Alea, yang memang merasa harus ke klinik sekarang juga, karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
“Boleh.”
Mendengar jawaban Alea yang sudah mulai open terhadap dirinya, Azka merasa sangat senang karena sedikit demi sedikit, ia sudah bisa membuat Alea merasa lebih dekat dengannya.
Azka pun membawa motornya untuk menuju ke arah klinik. Kebetulan sekali, di dekat rumah Alea memang ada klinik yang membuat mereka menjadi mudah dan tidak perlu untuk berputar balik.
Setelah beberapa saat, mereka pun sampai di klinik tersebut. Mereka mulai masuk, dan mengantre untuk memastikan keadaan Alea saat ini.
Kini, mereka sudah mendapatkan nomor antrean. Mereka kebingungan, karena ini adalah kali pertama mereka ke klinik ini untuk melakukan pengobatan.
__ADS_1
“Gimana caranya?” tanya Alea kebingungan, membuat Azka merasa semakin bingung saja.
Azka mendekatkan wajahnya ke arah telinga Alea, “Ini ‘kan klinik deket rumah kamu. Harusnya kamu tahu, dong! Lagian, kamu kan anak PMR, pasti kamu tau proses untuk daftar ke klinik!” celetuknya, semakin membuat Alea merasa sangat kesal.
Seorang petugas keamanan mendekat ke arah mereka, “Tinggal antre aja, ya! Kalian udah dapat nomor antreannya tadi,” ujarnya mengingatkan.
Mereka pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum tak enak di hadapan petugas keamanan tersebut.
Setelah mendapatkan pencerahan seperti itu, mereka pun segera duduk pada tempat yang tersedia untuk segera mengantre.
Kini, tiba saatnya giliran mereka untuk menerima pengobatan. Mereka pun masuk ke dalam sebuah ruangan, yang di dalamnya sudah ada seorang dokter yang bertugas untuk memeriksa keadaan pasien yang ada.
“Silakan duduk,” ucap sang dokter, membuat mereka duduk di hadapannya.
“Ada keluhan apa?” tanya dokter.
“Saya ngerasa pusing, mual muntah, dan badan saya lemas, dok!” jawab Alea.
Sang dokter mencurigai gejala seperti ini.
“Kita periksa dulu, ya.”
Beberapa tindakan dilakukan sang dokter, untuk memeriksa keadaan Alea saat ini. Karena merasa sudah tidak kuat, Alea hanya bisa pasrah dengan apa yang dokter itu perintahkan.
Pemeriksaan sudah selesai dilakukan. Sang dokter memandang ke arah Alea dengan datar, bersiap untuk memberi tahu hasil pemeriksaan yang ia lakukan sebelumnya.
“Berdasarkan pemeriksaan urine dan darah tadi, dapat dipastikan kalau kamu telah mengandung!” ujar sang dokter, sontak membuat Azka dan Alea tercengang mendengarnya.
“Apa?! Saya hamil, dok?!” pekik Alea, yang tak percaya dengan apa yang sang dokter katakan.
Tak hanya Alea, Azka pun tak percaya dengan apa yang dikatakan dokter tadi.
‘Alea hamil?’ batin Azka, yang hanya bisa bertanya-tanya di dalam hatinya saja.
“Ya, kira-kira kapan terakhir kamu haid?” tanya dokter.
Alea terkejut mendengar pertanyaan sang dokter. Pasalnya, sejak melakukan hubungan terlarang itu dengan Arga, sehari sebelumnya adalah hari terakhir ia mendapat haid.
__ADS_1
Alea memandangnya dengan ragu, “Kira-kira, 1 bulan yang lalu, dok!”