
Mereka sejenak saling pandang, dengan Alea yang tidak mengerti apa arti pandangan sang dokter.
“Sepertinya ... kamu masih sekolah. Kamu harus menghubungi wali kamu, untuk pemeriksaan selanjutnya,” ujar sang dokter, sontak membuat tubuh Alea gemetaran.
Menghubungi wali? Orang tua Alea? Alea tidak bisa membayangkannya.
‘Bisa mati aku, kalau sampai ayah tau masalah ini,’ batin Alea, yang merasa sangat takut dan khawatir dengan masalah yang melandanya ini.
Azka hanya bisa menatap Alea dengan nanar, karena ternyata apa yang Arga lakukan, sudah membuat Alea sampai mengandung seperti ini.
Walau bukan siapa-siapa bagi Alea, setidaknya Azka sangat terpukul mendengar ucapan sang dokter itu.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Azka mengantarkan Alea sampai ke rumahnya. Pelataran rumah Alea terlihat sangat sepi, membuat Azka merasa sangat bingung dengan keadaan sekitar rumah Alea ini.
Keningnya mengerut, “Sepi sekali. Tidak ada orang di rumah?” tanya Azka, sembari meletakkan helm full face miliknya, di bagian tangki bensin motor besarnya.
Alea hanya diam, menunduk malu di hadapan Azka. Ia merasa sangat sedih, karena ternyata ia harus mengandung anak dari Arga.
Sedikit banyaknya Azka mengerti dengan yang Alea rasakan. Walau tidak ingin ikut campur lagi, tetapi Azka merasa sangat khawatir dengan kondisi Alea saat ini.
Azka memandangnya dengan dalam, “Boleh aku masuk sebentar ke rumah kamu?” tanyanya, yang ingin berbincang kecil sebentar saja, mengenai perasaan yang Alea rasakan.
Azka mengerti, sangat sulit baginya untuk mengatakan ini kepada orang tuanya. Maka dari itu, Azka mengajukan diri untuk sekadar menjadi tempat Alea mencurahkan perasaannya.
Karena merasa sangat trauma, Alea hanya bisa menggelengkan kecil kepalanya. Hal itu membuat Azka sedikit terkejut, tetapi buru-buru ia menyadarkan kembali dirinya. Ia sadar, mungkin saja Alea merasa sangat malu, atau merasa sangat terpukul dengan keadaan yang saat ini sudah menimpanya.
__ADS_1
Mau bagaimana lagi? Ini semua karena dirinya sendiri yang berulah. Mau tidak mau, ia harus merasakan dan menanggung semua kesalahan yang sudah ia perbuat.
Azka menghela napasnya dengan panjang, “Al, jangan sampai kamu terjerumus lagi ke dalam sesuatu hal yang salah. Aku gak bisa selalu ada buat kamu, karena kamu sama sekali gak terbuka sama aku. Coba kalau seandainya kamu lebih terbuka, aku pasti akan selalu usahakan ada buat kamu. Contohnya seperti sekarang. Kalau kamu sakit, aku pasti akan antar kamu ke klinik. Aku pasti usahakan semuanya buat kamu,” ujar Azka panjang lebar, membuat Alea mendelik kaget mendengarnya.
Ternyata, sepeduli itu Azka terhadap dirinya. Alea malah merasa malu dan sungkan, sehingga hanya bisa menundukkan pandangannya saja.
Alea tidak berani, jika orang yang sudah ia maki, memakinya balik karena masalah hal seperti ini.
Namun, apa yang Alea pikirkan tidak seperti kenyataannya. Justru Azka sangatlah peduli dengan Alea. Ia bahkan sampai memikirkan terus tentang Alea, tetapi pikirannya yang waras buru-buru menepiskannya. Ia tidak ingin mengganggu orang yang tidak ingin diganggu.
Azka merogoh saku bajunya. Ia mengambil handphone-nya, kemudian segera memberikannya ke arah Alea.
Tentu saja pemandangan ini membuat Alea sangat bingung. Ia membeku, dengan tetap memandang ke arah handphone yang Azka berikan padanya.
“Karena kamu gak ngebiarin aku masuk ke dalam, kita bicarakan ini di sini saja,” ujar Azka, membuat Alea memandanganya dengan bingung.
“Coba lihat sendiri,” ujar Azka, membuat Alea meraih dan menerima handphone Azka untuk ia lihat.
Di layar handphone-nya kini, terdapat sebuah video singkat hasil rekaman amatir Azka, tentang kejadian yang dibuat Arga bersama dengan Azura.
Beberapa detik Alea menyimak, ia tersadar dan tidak kuasa melihat adegan tersebut. Ia mendelik dengan tangan yang menutup mulutnya. Ia merasa kaget, karena ternyata Arga tak hanya melakukan hal ini dengannya, tetapi juga melakukannya bersama dengan Azura.
Air mata berjatuhan dari pelupuk Alea, membuat Azka menghela napasnya dengan panjang. Belum habis durasi video ini, Azka sudah buru-buru mengambil handphone-nya dari tangan Alea.
Alea menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, membuat Azka memandangnya dengan sendu.
__ADS_1
“Ini alasannya, aku terus ngikutin kamu ke mana pun kamu pergi. Apalagi aku tau, kalau kalian pergi ke party waktu itu. Aku gak mau kejadian yang dia lakukan sama Azura, dilakukan juga sama kamu. Ya ... tapi ternyata semuanya sudah di luar kuasa aku. Kalian sudah memilih hal itu, dan sudah mendapatkan hasil dari yang kalian lakukan,” ujar Azka menjelaskan, sontak membuat kaki Alea merasa sangat lemas tak berdaya.
Perasaan dan hati Alea seakan hancur berkeping-keping, karena ternyata ucapan Arga tentang hubungan dirinya dengan Alea yang hanya sebuah pura-pura semata, ternyata seperti ini pada kenyataannya.
Air mata deras membanjiri pipi Alea, membuat Azka menghela napasnya dengan panjang. Ia merasa tidak tega, tetapi Alea harus menerima apa pun ganjaran yang sudah ia perbuat.
“Alea, aku ngerti dan paham, aku bukan siapa-siapa bagi kamu. Aku bukan teman, aku bukan pacar, aku bukan saudara, tapi aku sangat peduli sama kamu. Kalau kamu butuh apa pun, aku siap menjadi yang pertama ada buat kamu,” ujar Azka, yang sukses menyentuh hati Alea.
Selama ini, tidak ada satu orang pun yang mengatakan hal itu padanya. Bahkan Arga sekalipun, Alea sama sekali tidak pernah mendengar kata-kata itu terucap dari mulut Arga.
Hanya Azka, yang mengatakan hal itu dengan lugas dan tegas. Ia benar-benar terlihat sangat peduli dengan Alea, karena sejak awal memang dia tidak memiliki niat buruk apa pun terhadap Alea.
Alea semakin menangis dengan deras, membuat Azka harus menghela napasnya berulang kali, karena tidak tahu harus melakukan apa.
‘Alea, aku pengen kasih kamu bahu untuk bersandar. Tapi aku sadar, kamu pasti gak akan pernah mau bersandar di bahuku. Aku juga sungkan melakukannya, karena itu mungkin sangat terlihat jelas,’ batin Azka, yang merasa sangat bingung dengan keadaan yang menimpa Alea saat ini.
Karena bingung, Azka hanya bisa memandangnya saja. Ia tidak bisa melakukan apa pun, bahkan menyentuh Alea pun, Azka tidak ingin.
Azka hanya bisa menemani Alea menangis, sembari sesekali menghela napasnya dalam-dalam, karena bingung tak tahu lagi harus mengatakan apa.
Harga diri Alea sudah sangat terluka, ditambah lagi melihat rekaman ini, semakin membuat hati Alea terluka saja karenanya.
‘Aku gak nyangka, ternyata hubungan mereka sudah jauh seperti ini. Mereka bukan lagi sebatas hubungan perjodohan keluarga, seperti yang sering Arga bilang. Mereka sudah benar-benar melakukan hal yang gak seharusnya mereka lakukan,’ batin Alea, yang merasa hatinya sangat terluka saat ini.
Walau terluka, Alea tetap tidak bisa menuntut apa pun, karena Arga yang menginginkannya.
__ADS_1