Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Biar Tahu


__ADS_3

Karena sudah mendapatkan pengobatan dari dokter yang menanganinya, Alea pun segera kembali ke apartemennya, diantar dengan Azka yang masih setia menemaninya.


Alea berbaring di atas tempat tidurnya, sementara Azka menyelimuti tubuh Alea dengan sebuah selimut.


Mereka sejenak saling pandang, sampai membuat Alea menjadi canggung karenanya.


‘Azka kenapa ngeliatin aku begitu?’ batin Alea, benar-benar sangat bingung dengan apa yang Azka lakukan.


“Istirahat aja. Aku tunggu di ruang tamu kalau kamu butuh sesuatu,” ujar Azka, Alea memandangnya dengan sendu.


Karena Alea menolaknya tadi pagi, ia jadi merasa kalau Azka sudah berubah. Ia menjadi lebih dingin, dan tidak seperti biasanya.


Alea jadi agak terganggu dengan hal itu.


“Sudahlah Azka. Kamu pulang saja. Aku gak mau ngerepotin kamu lagi. Aku bisa sendiri,” ujar Alea, yang benar-benar tidak ingin menyakiti hati Azka lagi.


Namun, Azka yang merupakan pribadi yang sangat perasa, membuatnya kesal ketika mendengar ucapan Alea yang menolaknya seperti itu.


Azka mendelik kesal ke arahnya, “Kamu lagi sakit, Al! Kamu baru saja kehilangan anakmu, dan kamu belum bisa melakukan apa pun sendirian. Bagaimana mungkin aku meninggalkan kamu sendiri dalam keadaan seperti ini?” pekiknya kesal, tetapi Alea benar-benar tidak ingin Azka di sini.


Jika Arga datang ke sini tiba-tiba, Alea mungkin tidak akan bisa menjelaskan apa pun pada Arga.


Lagi-lagi itu semua karena Arga.


“Kamu pulang sekarang! Aku gak mau kamu di sini! Ingat, ini semua karena kamu!” ujar Alea tak kalah sinis, meskipun dalam kondisi yang sudah sangat lemas tak berdaya.


Azka yang kesal, menjadi semakin gemas mendengarnya.


“Ya sudah, terserah apa kata kamu!” bentak Azka, yang benar-benar sudah sangat kesal karenanya.


Azka pun segera pergi dari hadapan Alea, membuat Alea memandangnya dengan dalam.

__ADS_1


Alea juga tidak ingin Azka menjadi semakin sakit, karena penolakan ini dan juga rasa posesif dari Azka yang sangat berlawanan arah.


“Maafin aku, Azka. Aku gak mau hidup di sekeliling kamu lagi. Kamu sudah bikin anakku pergi, dan kamu juga sudah menyatakan perasaanmu kepadaku. Aku gak bisa, Azka. Aku hanya bisa bersama dengan Arga,” gumam Alea, yang benar-benar sangat tidak bisa melakukan itu semua.


Walaupun Azka sangat baik kepadanya, tetapi karena masih adanya Arga di hatinya, Alea tidak bisa menerima Azka begitu saja. Ia tidak bisa melakukannya, karena Arga sudah memberikannya sebuah cincin pengikat cinta mereka.


Alea yakin, suatu saat Arga akan bersama dengannya, menjalin rumah tangga yang harmonis bersama-sama.


***


Sejak kejadian itu, Alea sama sekali tidak melihat Azka. Ia tidak muncul sama sekali di hadapan Alea.


Hal itu membuat Alea merasa sedikit sedih.


Namun, beberapa bulan terakhir ini, hubungannya dengan Arga mengalami peningkatan. Arga benar-benar membuatnya bahagia, dengan menunjukkan tanda-tanda akan bercerai dengan Azura.


Tentu saja Alea harus menunggu hal itu terwujud. Beberapa waktu dalam satu bulan, Arga menemuinya untuk bercinta dengan sangat intens. Mereka tak peduli dengan waktu, dan juga tak peduli dengan semua kemungkinan yang akan terjadi setelahnya.


Terlebih lagi, Azka juga sudah merasakan hal itu dengan Alea, yang semakin membuat Alea merasa sangat terganggu, jika benar Arga sampai mengetahuinya.


Sore ini, Alea yang baru saja keluar dari mini market dekat apartemennya, dikejutkan dengan seorang yang melemparinya dengan banyak balon berisi air yang sangat bau dan kotor.


Pakaiannya menjadi sangat lusuh dan kotor dalam sekejap, membuatnya merasa sangat bingung dengan apa yang terjadi dengannya.


Matanya mendelik, saking kagetnya ia dengan keadaannya saat ini. Sekujur tubuhnya sudah basah, dengan bau yang sudah sangat menyengat.


Semua orang yang berada di sekitarnya memandanginya dengan tidak percaya, sembari menutup hidung mereka.


Alea merasa sangat malu, karena sekarang ia menjadi bahan tertawaan mereka semua yang sedang memerhatikan ke arahnya.


‘Kenapa semua orang tega seperti ini, menertawakanku dengan sangat teganya?’ batin Alea, merasa sangat kesal tetapi tidak bisa melakukan apa pun.

__ADS_1


Alea memandang ke arah orang yang sudah melakukan ini semua. Ternyata, mereka sudah pergi, dengan menggunakan mobil yang lagi-lagi berwarna hitam, dengan memiliki plat nomor yang sama dengan yang Azura miliki.


Alea menghela napasnya dengan panjang, karena ternyata Azura masih saja mengincarnya. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak, karena dirinya harus bertahan dengan mempertahankan hubungannya bersama dengan Arga.


‘Lagi-lagi Azura,’ batin Alea, yang hanya bisa menghela napasnya sembari mengelus dadanya dengan sangat kesal.


Karena sudah tidak enak dengan keadaannya saat ini, ia terpaksa kembali ke arah apartemennya, dengan keadaan dan pakaian yang seperti ini.


Azka memandangnya dari kejauhan, tetapi ia sama sekali tidak melakukan apa pun. Ia hanya bisa memandang Alea, karena sesuai janjinya, ia tidak akan melakukan apa pun dan hanya bisa memerhatikan Alea dari jauh.


‘Aku tidak akan melakukan apa pun, Alea. Biar kamu merasakan, hidupmu tanpa aku,’ batin Azka, yang benar-benar ingin memperlihatkan tentang dirinya.


Di sisi sana, Alea sudah berhasil sampai di apartemen miliknya. Walaupun ia harus dengan rasa malu, naik ke atas apartemennya, dengan bau yang sangat menyengat.


Semua orang juga memerhatikannya, dan membuat pandangan yang seolah mengutuk dirinya itu.


Dengan perasaan yang rancu, Alea pun segera masuk ke dalam ruangan apartemennya. Ia merasa sangat kesal, karena semua orang sudah memerhatikannya layaknya seorang yang patut dilihat seperti itu.


Ia mengunci pintu dengan sangat rapat, membuat hatinya merasa sedikit tenang dengan hal ini.


Dengan segera ia pun membilas tubuhnya dengan sangat bersih. Ia merasa sangat tertekan, karena setelah kejadian preman itu, Azura masih tetap mengincarnya, dan membuatnya menjadi mangsa yang wajib sekali diburu.


Alea menyibakkan rambutnya yang mulai basah, karena terkena percikan air yang mengalir dari shower.


“Kenapa Azura sampai sekarang tidak melepaskan aku juga? Mereka akan segera bercerai, kenapa ia masih mengincarku?” gumam Alea, yang merasa sangat tertekan karena hal itu.


Alea benar-benar tidak mengerti, saking kesalnya ia sampai membilas tubuhnya berjam-jam di kamar mandi, demi menghilangkan bau yang tidak sedap, yang menempel pada tubuhnya itu.


“Sialan Azura!!” pekik Alea, karena aroma busuk yang menempel pada rambutnya, tidak kunjung hilang.


Saking kesalnya, Alea lalu menuangkan seluruh isi shampoo yang ia miliki, ke atas kepalanya. Ia benar-benar tidak tahan dengan aromanya yang sangat bau.

__ADS_1


“Arga akan menjauhiku, kalau ia mencium bau seperti ini dari tubuhku!” geram Alea, yang masih saja menggosokkan shampoo itu pada rambutnya.


__ADS_2