Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Kehilangan Semua 2


__ADS_3

Karena masih teringat dengan kejadian Alea tadi, Azka hanya bisa memainkan nasi yang ada di piringnya saja. Nafsu makannya seakan hilang, saking tidak bisa ia menerima semua yang terjadi dengan Alea.


‘Duh ... kalau ternyata Alea gak pernah ngelakuin itu sama Arga, gimana? Masa sih dia gak marah, keperawanannya diambil sama pacarnya yang jelas-jelas udah berkhianat itu?’ batin Azka, sembari memainkan makanannya.


Azka berpikir macam-macam tentang kejadian ini, dan secara tidak langsung ia tak bisa menerimanya.


Bunda menangkap sinyal yang tidak baik dari Azka, karena tidak biasanya Azka memainkan makanan yang ada di hadapannya seperti itu. Ia melempar pandangan ke arah suaminya, yang ternyata juga sedang melempar pandangan ke arahnya setelah melihat kelakuan anak mereka.


Bunda pun menghela napasnya kemudian memandang ke arah Azka, “Azka ... ada apa? Kenapa makanannya dimainin seperti itu?” tanyanya dengan lembut.


Azka tersadar, lalu segera menyantap makanan yang ada di hadapannya itu, sampai habis setengah.


Orang tua Azka merasa ada yang aneh dari Azka, karena tidak biasanya ia melakukan hal-hal seperti ini. Datang terlambat, memainkan makanan yang ada di hadapannya, melamun dan lain sebagainya.


Mereka sangat peduli pada mental health yang Azka miliki. Secara tidak langsung, kesehatan mental Azka saat ini sedang terganggu, dan mereka pun sangat mengetahui hal tersebut.

__ADS_1


“Azka ... ada masalah di sekolah?” tanya Bunda, Azka hanya menggelengkan kepalanya, sembari tetap berusaha memakan sisa makanan yang berada di dalam piringnya.


Hal itu membuat orang tuanya merasa sangat khawatir dengan keadaan Azka.


Karena tidak ingin ditanya yang macam-macam, Azka pun menyelesaikan makannya dengan cepat. Orang tuanya heran, karena tidak biasanya Azka melakukan hal seperti ini.


“Aku sudah selesai makan, Bunda. Aku mau istirahat dulu, ya?” pamitnya, lalu segera berjalan masuk ke kamarnya.


Melihat sikap aneh Azka, Ayah dan Bunda merasa sangat khawatir dengan apa yang terjadi dengannya.


Azka membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sembari memandang langit-langit kamarnya, ia merasa sangat tertekan.


“Kenapa harus begitu? Kenapa aku gak selamatkan kamu aja tadi?” gumam Azka, yang merasa marah pada dirinya sendiri, yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kejahatan yang terjadi di depan matanya.


“Kalau aku kenal lebih dulu dengan Alea, mungkin kejadiannya gak akan seperti ini!” gumam Azka, yang malah menyalahkan dirinya atas musibah yang menimpa Alea saat ini.

__ADS_1


Sementara itu, di sana Arga sudah selesai dengan aktivitasnya bersama dengan Alea. Mereka sudah selesai melakukan hal yang sangat dilarang untuk anak seusia mereka.


Beberapa jam berlalu, Alea tersadar dari pengaruh obat tidur yang diberikan Arga. Ketika ia sadar, teryata ia sudah berada di samping Arga dengan tanpa menggunakan busana.


Hanya selembar kain yang membungkus sampai ke bagian dadanya, dan juga membungkus pinggang Arga.


Betapa terkejutnya Alea, saat ia menemukan dirinya yang seperti itu bersama dengan Arga.


“Hah?! Kenapa aku di sini?” gumam Alea, yang merasa sangat terkejut dengan keadaannya sekarang.


Dengan cepat, Alea pun bangkit dari tempat ia tertidur. Karena pergerakannya yang sangat cepat, Alea pun merasa sakit pada bagian ***********.


“Aww ....”


Alea tak sengaja melihat darah yang sudah berada di sprei ranjang tersebut. Hal itu membuatnya mendelik terkejut, karena ia menyadari bahwa ia sudah kehilangan keperawanannya.

__ADS_1


__ADS_2