Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Masalah Lainnya Muncul


__ADS_3

Alis mata Alea naik, pandangannya mulai meremehkan sosok Azka yang ada di hadapannya.


“Kenalan sama kamu? Ngapain banget!” ledek Alea, membuat Azka merasa dirinya sangat hina di mata Alea.


Entah mengapa, gadis yang dijadikan idola oleh mereka, ternyata memiliki sifat yang seperti ini. Azka sampai geleng-geleng kepala karena sikap Alea yang baginya sangat tidak baik.


“Kamu segitu bencinya ya sama aku, sampai-sampai gak mau kenalan sama aku? Memangnya aku kenapa? Aku kan sudah minta maaf!” ujar Azka yang sedikit tidak terima dengan apa yang Alea lakukan padanya.


“Iya, aku benci banget sama kamu!” ketus Alea.


Azka memandangnya dengan dalam, “Hei gadis bernama Alea. Nama aku Azka. Aku ramal, kalau ketus begini terus, nanti kamu pasti akan dapat karma!” ujar Azka, membuat Alea mendelik kaget mendengarnya.


“Karma apaan? Aku tuh gak percaya sama yang namanya karma! Lagian, kamu tahu dari siapa kalau namaku Alea?!” Nada bicara Alea kian meninggi, saking gengsinya mendengar perkataan Azka itu.


Azka menyunggingkan senyumannya, “Hmph! Bukan hanya nama kamu aja, alamat rumah, nomor handphone, nomor kaki, ukuran baju, ukuran BR--”

__ADS_1


“Ekhm ....”


Azka menghentikan ucapannya, karena ia merasa dirinya sudah menjadi sumbu pendek untuk saat ini. Ia keceplosan mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan.


Mendengar ucapan Azka yang terpotong, Alea pun mendelik kaget dan bahkan ia tidak tahu lagi harus berbuat apa kepada Azka.


“What the hell?! Maksud kamu apa, hah?!” bentak Alea, membuat Azka menghela napasnya dan mengusap dengan kasar wajahnya.


Sikap Azka berubah, karena ia merasa sangat bersalah sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan kepada Alea.


“Emm ... maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk--”


Tangan Alea menunjuk dengan kasar ke arah Azka, “Hei lelaki aneh yang bernama Azka! Ini pertemuan kedua kita, yang belum lebih dari 12 jam, dan kamu udah ngomong hal yang bukan-bukan!!” teriak Alea, yang tidak terima dengan apa yang Azka lakukan padanya.


“M-maaf, a-aku beneran minta maaf--”

__ADS_1


“Udahlah, cukup! Aku gak mau kenal sama kamu lagi!” bentak Alea, yang langsung pergi meninggalkan Azka di sana.


Azka merasa dirinya sudah keterlaluan. Semua yang ia katakan tadi hanya candaan, yang tidak ia pikirkan dengan benar. Namun, tidak semuanya bercanda. Azka memang benar mengetahui sebagaian besar informasi mengenai Alea.


Azka kembali mengusap dengan kasar wajahnya, karena ia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk mengatakan demikian.


“Apa-apaan sih? Kenapa aku ngomong begitu segala, sama orang nyebelin kayak gitu?” gumam Azka, yang merasa sangat aneh dengan dirinya sendiri.


***


Semua yang terjadi pada hari ini, selalu teringiang di pikiran Alea. Sampai detik ini pun, sampai selarut malam pun, Alea masih saja memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan.


Alea merasa jengkel dan kesal, karena ia masih tidak bisa menghilangkan ucapan Azka di pikirannya. Hal itu membuatnya merasa tidak nyaman.


“Ish! Kenapa masih kepikiran orang itu, sih?!” jerit Alea dengan lirih, yang merasa masih sangat kesal dengan sosok Azka yang ia temui di sekolah hari ini.

__ADS_1


Alea memukul-mukul ranjang tidurnya, saking gemasnya ia dengan apa yang masih ada dalam benaknya.


“Kalau besok ketemu lagi, gak akan aku gubris!” teriak Alea, yang kelepasan dan lupa mengecilkan volume suaranya.


__ADS_2