
“Aww!!” pekik Arga, yang merasa sangat kesal karena tidak bisa menghindar dari serangan yang diberikan Azka.
Azka menendang lengan sebelah kanan Arga dengan sangat kencang, dengan didominasi dengan kekuatan penuh yang ia miliki. Ia tidak akan segan menyerang lengan seseorang, asal tidak sampai menyerang titik vital orang lain.
Azka paham, kalau lawannya tak sebanding dengan dirinya yang memang sudah mengerti prinsip dasar bela diri.
‘Sialan bocah tengik ini!’ batin Arga, yang merasa kesakitan karena terus menahan serangan yang dilakukan oleh Azka.
Sekali tendangan yang sangat kencang pada bagian lengan kiri Arga, yang dilancarkan menggunakan kaki sebelah kanan Azka, ternyata berhasil menumbangkan Arga di hadapannya.
Arga terkapar lemas di lantai yang kotor, sehingga membuat kemeja putihnya menjadi sangat kotor.
Menyadari kemejanya yang sudah kotor, Arga merasa sangat jijik dengan keadaan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Iyuh!!” gumamnya kesal melihat sesuatu yang kotor yang menempel pada kemejanya.
Azka menghela napasnya, dan berdiri di hadapan Arga yang sudah terkapar di atas lantai yang kotor itu. Karena kondisi gedung yang sudah tidak terawat, hal itu membuat lantai gedung itu menjadi tidak terurus dan sangat kotor.
Pandangan Azka menajam, “Gue peringatin ke lo, ya! Kalo emang bener lo pacarnya Alea, gue harap lo jangan pernah berhubungan lagi sama cewek yang tadi! Kalo lo juga benar cinta sama Alea, jangan lo rusak dia! Inget, dia adalah gadis yang sangat dicintai oleh keluarganya! Jangan pernah lo rusak dia!!” bentak Azka, yang memperingatkan Arga tentang hubungannya dengan Alea, tetapi Arga terlihat sama sekali tak peduli.
Arga mendelik, “Huh, gak boleh ngerusak dia? Gue gak ngerusak dia, tuh! Kita suka sama suka, apa yang harus gue pertanggungjawabkan?” ujar Arga dengan sombongnya, sontak membuat Azka merasa kesal mendengarnya.
“Sialan!” bentak Azka, yang sama sekali tidak bisa menerima apa yang ia katakan itu.
“Ya, kita ngelakuin itu semua karena suka sama suka. Dia sama sekali gak marah, saat gue bilang gue ngelakuin itu.”
Azka semakin gusar, tetapi ia sama sekali tidak bisa berbuat apa pun.
__ADS_1
“Tau gak? Dadanya itu ... gak cukup kalau diraup pakai telapak tangan! Dia juga belum pernah ngelakuin itu sama siapa pun, dan kemarin adalah kali pertama kita ngelakuinnya bareng-bareng! Bisa dibayangin gak? Betapa nikmatnya permainan malam itu!” ujar Arga yang berusaha untuk mendeskripsikan apa yang sudah ia lakukan bersama dengan Alea.
Azka sama sekali tidak tahan, dan langsung mengepalkan tangan kanannya.
“Awalnya gue kira cewek gampangan kayak Alea, udah tidur sama banyak cowok. Ternyata gue salah! Alea sama sekali belum disentuh sama orang lain! Gue yang pertama--”
“Ugh!!”
Belum sempat Arga menyelesaikan ucapannya, Azka sudah terlanjur terpancing amarah karenanya. Lama-kelamaan, ucapan Arga membuat Azka merasa terpancing amarah, dan tak bisa mengendalikan dirinya lagi.
“Ngomong apa lo, sialan?!” pekik Azka, Arga saat ini kembali terkapar di atas lantai yang kotor, hanya dengan sebuah tinjuan yang dilayangkan Azka.
Arga berusaha untuk membenarkan keadaannya, karena ia merasa dirinya sangat kesakitan.
__ADS_1
“Aww ....”
Tak disangka, pukulan maut itu cukup membuat Arga mendadak jera.