Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Keadaan Yang Berbalik


__ADS_3

Azka hanya menyunggingkan senyumannya di hadapan Arga, karena jika ia meneruskan ucapannya, ia menyadari bahwa ia sama sekali tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk membeberkan aib Arga kepada Alea dan juga teman-temannya.


Arga memandang ke arah Alea, yang saat ini hanya bisa memandang sinis ke arah mereka.


“Kamu percaya sama ucapan dia, Lea?” tanya Arga, Alea pun memantapkan pandangannya ke arah Agra.


“Gak! Aku gak percaya sama yang dia omongin! Lagian, aku juga gak kenal sama dia!” jawab Alea dengan tegas, membuat Azka hanya bisa memandangnya dengan datar.


Tentu saja Alea tidak mempercayai perkataan Azka, karena mereka baru saja saling mengenal. Sementara dengan Arga, sudah 1 tahun terakhir ini Alea mengenal Arga secara dekat.


Arga memandang ke arah Alea yang sepertinya sangat mempercayainya, dan berniat untuk memanfaatkan keadaan ini.


“Ah kamu juga bohong, Lea! Kalau gak kenal sama dia, kenapa kamu nerima cokelat dari dia?!” bentak Arga, yang langsung pergi meninggalkan mereka di sana.

__ADS_1


Melihat kepergian Arga, Alea menjadi bertambah marah dengan Azka. Ia merasa kesal, karena saat ini Arga yang kelihatannya sangat marah padanya.


“Arga, mau ke mana kamu? Ga!!” pekik Alea yang tak dihiraukan oleh Arga.


Arga pergi dari ruangan kelas, dan sengaja menabrak dengan keras bahu Azka. Azka hanya bisa memandangnya dengan dingin, karena ia tidak bisa melakukan hal di luar ini lagi.


Alea menjadi bertambah kesal dengan keadaan, “Ih, kenapa jadi begini, sih?!” teriak Alea, yang lalu memandang sinis ke arah Azka.


“Gara-gara kamu, aku sama Arga berantem lagi sekarang!” bentak Alea dengan sangat kesal.


Cokelat yang diberikan Azka tadi, spontan dilemparkan ke lantai oleh Alea. Ia merasa sangat kesal, karena lelaki bernama Azka itu sudah membuat hubungannya dengan Arga menjadi sedikit renggang.


Alea pun pergi menghampiri Arga yang sudah meninggalkan mereka di kelas. Azka merasa sedikit sedih ketika melihat cokelat yang ia berikan kepada Alea, yang kini berada di atas lantai. Azka sedih karena cokelat pemberiannya itu sama sekali tidak dihargai oleh Alea.

__ADS_1


‘Kenapa dia sampai membuang makanan? Itu kan ... mubadzir,’ batin Azka yang memang sejak dulu diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk tidak membuang-buang makanan secara seenaknya.


Azka diajarkan untuk menghargai makanan, karena di luar sana masih banyak orang-orang yang kelaparan dan tidak bisa mendapatkan makanan dengan mudah.


Azka tersadar, semua orang kini sedang memandang ke arahnya. Pandangan mereka yang seperti menghujat, benar-benar membuat Azka merasa sangat risih.


‘Ada apa sih mereka? Aku kan tidak melakukan apa pun kepada mereka? Kenapa mereka menatapku seolah-olah aku memiliki salah dengan mereka?’ batin Azka, yang lalu segera meninggalkan ruangan kelas Alea.


Sementara itu di sana, Alea berlarian ke arah Arga pergi, dengan bertujuan untuk menemui Arga dan menjelaskan semua yang baru saja terjadi di antara mereka.


Karena langkah kaki Arga yang cukup jenjang, membuat Alea sangat kesulitan menyesuaikan langkah untuk mengejar Arga.


“Arga, tunggu!” pekik Alea, yang segera berlarian dengan cepat untuk mengejar ketertinggalan langkahnya dari Arga.

__ADS_1


__ADS_2