Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Gadis Terkenal


__ADS_3

Karena melihat keadaan itu, hal itu menjadi sangat mengganjal di hati Azka. Ia merasa harus memberi tahu kepada Alea, tetapi jangankan untuk memberi tahunya, mengetahui namanya saja tidak.


Azka melangkah kembali menuju ke arah koridor. Ia sama sekali tidak menemukan Alea, sehingga sangat bingung untuk memberi tahu masalah ini kepadanya. Bahkan, tujuan awalnya saja ia tidak bisa melakukannya.


Azka yang memiliki tujuan awal untuk meminta maaf saja, harus tertunda karena permasalahan lain ini.


‘Pertama minta maaf, kemudian tanya namanya,’ batin Azka yang bertekad untuk menunggu Alea di depan koridor itu.


Sudah beberapa menit berlalu, tetapi gadis yang ia tunggu sama sekali tidak muncul juga. Bel terdengar, mendandakan jam istirahat yang telah usai.


Azka menghela napasnya, karena ia tidak bisa menemui Alea untuk meminta maaf padanya.


‘Sudahlah, mungkin lain waktu bisa bertemu lagi,’ batin Azka, yang merasa sedikit putus asa karenanya.

__ADS_1


Azka pun pergi kembali menuju ke arah kelasnya, dan melupakan sejenak permasalahan ia dengan Alea.


Sementara itu, Alea di sana sedang bersiap untuk menyongsong pelajaran selanjutnya. Kebetulan sekali, pelajaran selanjutnya adalah jam pelajaran olahraga. Alea tengah bersiap untuk mengganti baju seragamnya, dengan baju olahraganya yang sudah ia bawa dari rumah.


Alea pergi menuju ke sebuah ruangan, yang memang khusus untuk mengganti pakaian ketika jam pelajaran olahraga tiba. Ia mengganti seragamnya, kemudian mengenakan pakaian olahraga dan segera menuju ke lapangan tempat ia berolahraga.


Karena mendengar ada suara keributan dari arah lapangan, Azka yang sedang mendengarkan guru yang sedang menjelaskan sebuah materi, lantas mengalihkan perhatiannya kepada suara bising dari lapangan itu.


Tak sengaja, pandangan matanya tertuju pada seorang gadis yang tengah ia cari sejak tadi. Ia menjadi bimbang, antara harus tetap melanjutkan pelajaran, atau datang ke sana untuk berkenalan dan meminta maaf kepada Alea.


“Perasaan kamu ngeliatin ke arah jendela mulu? Ada apa?” tegur lelaki bernama Pras itu.


Sadar dengan pertanyaan yang dilontarkan Pras, Azka pun tersenyum ringan mendengarnya.

__ADS_1


“Gak ada apa-apa, kok!” bantah Azka, tetapi Pras tidak percaya dengan apa yang Azka ucapkan.


“Ah, kamu pasti lagi ngelihat kakak kelas yang lagi pakai pakaian ketat itu, ‘kan?” bidik Pras, sontak membuat mata Azka mendelik kaget mendengarnya.


Padahal, bukan itu yang Azka maksudkan. Ia hanya ingin berkenalan dengan Alea, bukan karena melihat senior yang mengenakan pakaian ketat itu.


“Kamu sudah salah paham!” bantah Azka lagi, dengan wajah yang kini sudah memerah karena malu.


Pras terkekeh mendengarnya, “Lantas, kenapa matanya ngelirik ke sana terus?”


Azka gugup mendengarnya, “Emm ... a-aku gak sengaja aja ngelihat gadis yang rambutnya hitam pekat dengan panjang sebahu itu!” jawab Azka dengan jujur, karena ia tidak ingin Pras sampai berpikir terlalu luas dengan keadaan yang ada.


Pras tertawa kecil, karena ia merasa Azka ini sangat lucu. Seumur hidupnya, baru kali ini ia menemukan lelaki yang sangat tidak percaya dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Baru aku bertemu dengan lelaki yang cemen seperti kamu!” ledek Pras, membuat Azka terkekeh mendengarnya. “Apa kamu suka sama dia?” tanya Pras.


Mendengar pertanyaan Pras, Azka hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


__ADS_2