
“Ya udah, aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa—”
“Jangan! Jangan pulang dulu!” pangkas Alea, Azka mendelik bingung mendengarnya.
“Kenapa?” tanya Azka, yang tidak tahu akan dipinta apa oleh Alea.
Pikiran Alea terbuka, ia memandang ke arah Azka dengan dalam.
“Temenin gue curhat.”
Mata Azka membulat, kaget dengan apa yang Alea katakan itu.
Ini adalah titik awal kedekatan mereka. Di sini, Alea tak ragu lagi untuk mengungkapkan tangis dan juga rasa sakit hatinya.
Azka berusaha untuk menjadi pendengar yang baik bagi Alea. Ia harus bisa membuat Alea nyaman, karena momen seperti ini tidak bisa dicari lagi nantinya.
Mereka pergi ke sebuah angkringan malam, pinggir jalan. Alea baru kali itu makan makanan seperti ini, membuat Azka harus lebih banyak sabar untuk menjelaskan setiap makanan yang ada di hadapan mereka.
Mereka berbicara sembari sesekali tertawa, membuat suasana mereka kali ini menjadi sangat dekat.
Pandangan mereka bertemu, membuat Alea sedikit bingung, lalu mengalihkan kembali pandangannya.
“Udah bisa ngendaliin emosi?” tanya Azka, Alya menghela napasnya dengan panjang.
“Ya ... gak tau lagi. Aku masih bisa ketawa sekarang, karena masih ada teman bicara. Gak tau deh kalau nanti,” ujar Alea ragu, Azka menatapnya dengan tajam.
“Memangnya ... orang tua kamu ....” Azka hendak bertanya, tetapi ucapannya tertahan, khawatir Alea tidak nyaman dengan pertanyaannya.
Alea menghela napasnya dengan panjang, “Aku cuma punya ayah. Dia sibuk, dan gak bisa dengarin aku bicara dari hati ke hati,” ungkapnya, Azka mengangguk-angguk kecil mendengarnya.
Sedikit banyaknya, Azka mengerti tentang Alea, meskipun ia masih harus mengetahui dengan lebih jelas tentang Alea.
Mereka saling memandang, bingung harus mengatakan apa lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Azka teringat dengan bayi yang ada di dalam perut Alea. Ia merasa kasihan dengan Alea, dan ingin mengajak Alea untuk bertemu dengan ibunya.
“Al ... kamu butuh sesuatu, gak?” tanya Azka, yang berusaha untuk mencairkan suasana.
“Sesuatu? Apa contohnya?” tanya Alea balik, karena ia tidak mengerti dengan apa yang Azka katakan.
Azka menoleh ke sekitarnya, kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Alea, “Ya ... sesuatu tentang kehamilan. Kamu butuh apa? Biar aku belikan,” ujar Azka, sontak membuat Alea mendelik kaget mendengarnya.
Alea tidak menyangka, Azka merasa sangat memedulikannya. Ia merasa Azka adalah sosok lelaki yang sangat bertanggung jawab, meskipun bayi yang ada di dalam kandungannya ini, bukanlah miliknya.
Alea tersentuh, ‘Kenapa dia baik banget sama aku? Kenapa bukan Arga yang nanya seperti ini ke aku?’ batinnya, sendu dengan perasaan yang sangat kesal.
Alea tiba-tiba saja kesal, mungkin saja itu juga karena pengaruh dari bayi, yang membuat emosi Alea turun naik seperti ini.
Azka menghela napasnya dengan panjang, “Kenapa malah diem? Apa yang kamu butuhin?” tanyanya lagi, Alea tersadar dan memandang ke arahnya dengan bingung.
“Kenapa kamu peduli banget sama aku, Azka? Aku ‘kan selalu acuh sama kamu. Kenapa kamu malah baik sama aku?” tanya Alea, Azka terkejut mendengar Alea bertanya seperti itu.
Mereka hanya bisa saling tatap, dengan Azka yang berusaha untuk mempersiapkan jawabannya.
“Aku ... aku gak tau. Kenapa aku bisa sangat peduli sama kamu. Aku gak suka aja, kalau kamu terjebak masuk ke dalam permasalahan yang berat seperti ini. Tapi sebanyak apa pun hal yang aku usahakan buat kamu, tetap pada akhirnya kamu masuk ke dalam permasalahan seperti ini,” ujar Azka menjelaskan, Alea memandangnya dalam karena tak percaya.
“Atas dasar apa kamu gak suka ngelihat aku begini?” tanya Alea, yang masih saja berusaha mengorek informasi tentang Azka.
“Aku gak tau, beneran gak tau. Aku gak suka aja. Gak suka kalau kamu masuk ke perangkap orang seperti Arga. Aku yang mergokin Arga sendiri secara langsung, aku gak suka kalau orang yang aku kenal, masuk ke dalam masalah seperti itu. S*ex itu bahaya, jangan main-main sama hal itu,” ujarnya menjelaskan kembali mengenai pemikirannya.
Alea tertunduk, diam sendu memikirkan ucapan Azka yang sama sekali tidak membuatnya puas. Dalam pikiran Alea, mungkin saja Azka memiliki perasaan padanya, tetapi ternyata hal itu hanyalah sebuah pemikiran anehnya saja.
‘Azka gak mungkin suka sama aku. Aku yang udah begini. Lagian aku juga gak suka sama dia,’ batin Alea, yang merasa aneh dengan pemikirannya sendiri.
“Ya udah, kita makan dulu deh. Nanti pulang dari sini kita beli keperluan apa yang kamu butuh,” ujar Azka, sembari mengambil beberapa sate dan makanan lainnya yang ada di hadapannya.
Alea hanya bisa memandangnya saja, dengan senyuman yang menyungging tipis.
__ADS_1
“Mau disuapin, gak?” seloroh Azka dengan tawanya, membuat Alea tersenyum sembari menunjukkan telapak tangan kanannya, pertanda menolak.
Mereka pun menghabisi makanan tersebut, dengan Alea yang hanya bisa menghabiskan beberapa tusuk saja.
Alea sangat tidak nafsu makan, karena merasakan mual pada perutnya.
Malam yang panjang mereka lewati dengan canda dan tawa. Namun, setelah kembali ke rumah masing-masing, mereka sudah kembali pada keadaan yang membuat mereka sedih.
Khususnya Alea. Ia menangis deras meratapi nasibnya. Lambat laun perutnya tidak akan bisa disembunyikan lagi. Mereka pasti akan menyadarinya, cepat atau lambat.
Karena hal ini, Alea merasa sangat sendu dan tidak bisa berbuat apa pun lagi. Ia hanya bisa pasrah, dan akan memperhitungkan masalah ini pada Arga.
Di sela tangisnya itu, Alea mengirimkan pesan singkat kepada Arga. Ia mengatakan, kalau dirinya tengah mengandung anak dari Arga.
Alea tidak memiliki pilihan, karena jalan ini satu-satunya yang bisa ia tempuh untuk meminta tanggung jawab dari Arga.
Alea meminta Arga menemuinya besok siang. Terdapat balasan darinya, yang menyetujui tentang permintaan Alea padanya.
Ada sedikit rasa lega, karena Arga yang menyetujui untuk pertemuan mereka siang nanti.
Setelah tiba waktunya, Alea melangkah menuju ke arah gedung tua itu, tempat biasa mereka bertemu. Ia memperhatikan jalan sekeliling, dengan pandangan yang sangat berhati-hati. Ia tidak ingin, mereka sampai mengetahui kalau dirinya sering mengunjungi tempat ini.
Tibalah Alea di dalam sebuah ruangan, tempat mereka sering bertemu. Namun, tidak ada siapa pun di sana.
Pandangan matanya tetap waspada, sehingga saat ia mendengar suara aneh di belakangnya, Alea pun segera membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara.
Terlihat beberapa orang yang sedang berada di depan ruangan. Mereka terlihat sedang berusaha untuk mengunci pintu ruangan ini.
Alea mendelik, “Heh! Siapa itu!” pekik Alea, yang merasa terkejut mendengarnya.
Alea berlarian ke arah pintu, saking takutnya ia dengan orang yang sudah mengunci pintu tersebut.
__ADS_1